Meramal Peruntungan Bisnis Garment di 2008

2007 November 22
by roniyuzirman

“Kami mengundang Mas Roni untuk hadir di diskusi panel mengenai prediksi bisnis di tahun 2008 di kantor redaksi kami hari Kamis nanti”, demikian permintaan wartawan sebuah majalah bisnis dan entrepreneur melalui telepon.

Saya tidak langsung menjawab. Masih bingung. Saya merasa tidak punya kapasitas untuk itu. Saya ini hanya praktisi bisnis mikro di bidang garment.

“Nanti akan hadir Pak A dan Pak B sebagai panelis lainnya. Nanti Mas Roni akan bicara dari sisi praktisinya”, lanjut sang wartawan. Wah, ini orang-orang hebat. Dalam hati saya ingin sekali berkenalan dengan mereka. Justru nanti malah saya yang dapat banyak pencerahan di sana. Maka, langsung saja saya iyakan permintaan itu. Hehehe…

Nah, sekarang saya lagi mikir, mau ngomong apa nanti siang di sana?

Makanya saya coba tuliskan di blog ini. Itung-itung sebagai brainstorming atau mind mapping aja dulu. Ini mirip Pak Prie GS, budayawan kondang dari Semarang yang juga member TDA. Ia selalu memposting tulisan di milis TDA sebelum disiarkan di jaringan radio Smart FM.

Saya adalah praktisi bisnis garment, tekstil atau fashion secara umum. Jadi, bicara saya tidak jauh dari itu bisnis yang saya geluti itu.

Menurut saya, secara makro bisnis garment dan tekstil dua tahun belakangan ini masih terpuruk dibandingkan industri lainnya. Saya mengutip dari survei gaji majalah SWA yang menempatkan gaji di industri garment dan tekstil berada di posisi buncit dibandingkan industri lain. Jawaranya adalah industri pertambangan dan telekomunikasi.

Ini menggambarkan bagaimana kondisi bisnis garment dan tekstil secara umum di Indonesia. Banyak pabrik bertumbangan di Bandung yang menjadi pusat tekstil Indonesia. Ada berbagai alasan, di antaranya naiknya biaya operasional gila-gilaan, mulai dari BBM, listrik, upah buruh dan regulasi-regulasi yang menimbulkan high cost, dan persaingan harga dari negara lain seperti Cina, Thailand dan belakangan Vietnam dan Kamboja.

Hal ini dirasakan oleh pelaku bisnis garment seperti saya. Saat ini sulit sekali mencari bahan baku yang bagus dan berkualitas seperti sebelum tahun 2006 lalu. Penyebabnya, banyak bahan baku import yang sulit masuk ke Indonesia. Di dalam negeri sendiri, produk lokal menjadi rebutan.

Sayangnya, sebagian produsen lebih mengutamakan ekspor, hingga terjadilah kelangkaan bahan baku di pasar. Saya harus berebutan bahan baku dengan perusahaan-perusahaan lain. Siapa cepat, ia dapat. Begitu aturan mainnya sekarang. Ini beda dengan beberapa tahun lalu. Saya bisa memesan bahan baku untuk beberapa bulan ke depan. Istilahnya pending order.

Beberapa supplier saya juga mulai bertumbangan. Salah satu supplier utama saya juga sudah mundur. Ia tidak punya stok bahan yang bagus lagi. Sebelumnya supplier lain juga mundur karena kesulitan cashflow. Supplier lain juga gulung tikar karena sulit mengimpor dari Cina.

Saya meneropong pelaku bisnis garment dari beberapa jenis market atau distribution channel. Ada yang dari modern distribution seperti department store, traditional distribution yaitu pusat-pusat perkulakan dan ritel seperti Tanah Abang dan pusat-pusat pertokoan, dan direct distribution seperti perusahaan-perusahaan direct selling atau MLM. Bisnis saya termasuk yang direct distribution channel.

Di modern distribution juga mengalami tantangan hebat. Banyak major-major brand mulai goyah dengan aturan main yang ditetapkan oleh department-department store itu. Margin mereka semakin tipis. Cashflow juga makin berat. Beberapa supplier saya yang juga men-supply di department-department store mengeluhkan hal yang sama. Department-department store itu juga mulai membeli produk dari Cina yang semakin mempersempit ruang gerak para supplier ini.

Di traditional distribution seperti Tanah Abang tak kalah hebat tantangannya. Saya mengamati khususnya di bisnis busana muslim juga banyak yang tumbang. Salah satu mantan tetangga saya dulu di Tanah Abang, saat ini katanya untuk makan sehari-hari saja sulit. Ia rugi miliaran rupiah dan hutang menggunung. Aset-aset sudah dijual. Mobil dan rumah tidak ada lagi.

Ia tidak sendirian. Pedagang lain juga mengalami kesulitan yang sama. Kemarin saya mendapat kabar, sewa toko semakin menurun di Blok F. Sebuah toko ukuran 2×2 tahun 2005 sewanya masih Rp. 50 juta setahun, tahun 2007 ini kabarnya hanya hanya berani ditawar Rp. 10 juta saja. Kenapa tidak sanggup lagi menyewa? Ya karena penjualannya sepi.

Di direct distribution juga demikian. Saya kenal dengan 3 perusahaan di bidang direct seling (MLM) yang berdiri 3 tahun belakangan ini. Yang pertama sudah tumbang, yang kedua sedang meregang nyawa, yang ketiga (baru berdiri beberapa bulan lalu) juga nyaris tumbang karena kesulitan cashflow.

Wah-wah, fakta-fakta yang saya ungkapkan kesannya negatif semua ya. Ya, memang demikian faktanya.

Lantas, di mana peluangnya? Apakah tahun depan akan suram?

Menurut saya, jawabannya tergantung. Relatif. Di balik tantangan pasti ada peluang. Di balik masalah pasti ada solusi.

Banyak juga perusahaan yang terus tumbuh dan berlari kencang tahun ini dan tahun depan. Selagi orang masih pakai baju, bisnis garment tidak akan pernah mati.

Kuncinya menurut saya adalah di business modelnya, kemampuan membaca trend selera pasar, inovasi di semua bidang, kreativitas, dan penataan manajemen perusahaan.

Bisnis saya sendiri alhamdulillah tahun ini tetap bertumbuh dan insya Allah tahun depan akan tumbuh lebih besar lagi.

Trend yang patut di perhatikan adalah bisnis distro yang menyasar anak-anak muda. Potensi pasarnya luar biasa. Mereka punya buying power yang tinggi dan mereka membeli berdasarkan emosional.

Juga perlu dicermati bisnis garment yang berkaitan dengan Pemilu dan Pilkada. Di sini duitnya gede sekali. Tahun 2008-2009, kata teman saya yang konsultan World Bank, uang akan beredar dari sektor pemerintah dan berhubungan dengan pesta demokrasi itu.

Siapa yang akan berhasil meraup keuntungan dari semua itu? Tentu saja mereka yang siap.

Siapa orang yang disebut beruntung, hoki atau lucky itu? Mereka adalah orang yang bisa mempertemukan antara kesempatan dengan persiapan.

Tulisan ini hanya sekedar brainstorming, mind mapping atau exercise saja sebelum diskusi nanti. Harap maklum jika membingungkan dan rada kacau.

Salam FUUUNtastic!

Tetap semangat dan optimis

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB – Kemarin saya ditelepon lagi oleh wartawan Kontan untuk wawancara. Nah lho, saya baru saja diwawancara oleh Tabloid Kontan, kok diminta lagi? Ternyata itu dari Harian Kontan. Ooo… i see…. Kali ini topiknya adalah tentang Komunitas TDA. Wah, TDA makin dikenal aja nih…

11 Tanggapan leave one →
  1. 2007 November 22
    Yanto Dua Sejoli permalink

    Pak Roni,
    Semua pebisnis garment baik skala besar
    maupun skala gurem punya kekhawatiran yang sama,
    Tapi kita tidak usah khawatir berlebihan karena
    kita dikaruniai OTAK yang tidak bakal dapat ditiru oleh
    siapapun. Dari Otak lahirlah KREATIFITAS, dari sinilah lahir produk produk yang tak lekang oleh panas dan hujan.
    Tetap SEMENGAT, Bung…..!!!

    salam,
    Yanto

  2. 2007 November 22

    Pak Roni, buat konsumsi wartawan sudah bagus tuh, kan ‘no news but bad news’. Tapi buat yg baru terjun jadi mengkhawatirkan.

    Setuju dg komentar Pak Yanto. Kreatifitas yg akan menyelamatkan dari berbagai kesulitan.

    Salam FUNtastic
    Fuad Muftie

  3. 2007 November 22

    Pak Roni, ulasannya menarik sekali, dan saya ingin sekali belajar dibidang garment untuk persiapan TDB ke TDA, barangkali Pak roni bisa bantu? Tks

  4. 2007 November 22

    Dear Pak Roni,

    Saya di tahun 2008 akan membesarkan usaha garmen untuk Busana Islami dan Umum…kategori anak (putra-putri), remaja (putra-putri) dan wanita dewasa, sebagai produsen.

    Mohon tambahan pencerahannya tentang seluk-beluk produsen (pabrik) garmen ini.

    Terimakasih banyak pak.

    Salam,
    Wuryanano

  5. 2007 November 22

    saya juga baru mulai usaha bikin kerudung, dengan optimis InsyaAllah bisnis garment tetap tumbuh asal bisa membaca pasar dan kreatif menangkap peluang, “sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan di dalamnya”

  6. 2008 Februari 16
    Eko Wijiyono permalink

    assalamu’alaikumk Pak Roni
    Perkenalkan Saya Eko Wijiyono. Saya Salah satu Pengasuh Pesantren Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen, saat ini saya me3ngelola anak yatim 35 anak yang untuk operasional saya tiap bulan nyari donatur untuk mereka RP. 280.000 per anak untuk biaya ke pesantren. jika saya mengandalkan donatur maka saya tidak akan bertahan lama, maka bulan ini saya merintis usaha konfeksi dan Alhamdulillah saya di bantu jama’ah mesin sebanyka 25 buah. apa bisa kita kerjasama untuk program ini. alamat saya : washehuwa@yahoo.com.

    wasslamu’alaikum Wr.Wb.
    Hormat SAya

    Eko Wijiyono.

  7. 2008 Agustus 27

    Ass.wr wb
    Pak Roni, saya baru 7 bulan memulai bisnis garmen spelisasi kerudung anak. saya tidak ada pengetahuan tentang bisnis ini samasekali. saya dapat bantuan modal 50 juta-an dari kakak ipar.saya merasa banyak kendala, mungkin karena saya belum ada pengalaman, dan belum kenal dengan seseorang yang bisa memberi masukan-masukan dalam bisnis semacam ini. 2 kali saya mencoba bisnis. awalnya bisnis pendidikan, terus bisnis makanan, gagal. Barangkali Pak Roni bisa memberikan banyak masukan, pengalaman, dll. wah,senang sekali seandainya Bapak bersedia menjadi semacam Bapak Asuh untuk bisnis saya yang masih kecil ini,pak :) semoga Allah yang membalas…
    Terimakasih banyak….
    Http://refanes.wordpress.com

  8. 2008 Oktober 17
    aries permalink

    mas Roni,
    saya ingin tahu mengenai standar gaji pegawai garment untuk QC, grading,penjahit untuk wilayah bandung?
    apakah sudah ada standarisasi?
    makasih

  9. 2008 November 11
    Stanly permalink

    Pak Roni,
    Apa yang anda utarakan memang benar terjadi saat ini, saya juga sudah cukup lama dalam industri garmen dan tekstil bukan sebagai owner tapi sebagai pengelola, yang pernah saya alami hasil bahan tekstil atau pun hasil garmen dari china atau negara lainnya tidak kalah dengan produk kita, sudah kita bandingkan (untuk produk garmen china keseimbangan bentuk, stitch,jumping,lostension,sangat banyak di temukan), untuk bahan tekstilnya seperti spandex knitting,kanfas,denim memang cukup baik tapi pabrik2 kita juga bisa membuatnya jadi sangat disayangkan kalau kita masih bergantung pada produk negara lain. mungkin teman – teman lainnya yang menjalankan bisnis garmen belum mengetahui banyak pabrik2 di tempat kita sendiri baik knitting maupun woven. dan yang membuat lebih kecewa lagi untuk kaos partai saja yang standard kwalitas rendah dalam jumlah yang banyak diimport dari china (sayang khan? ).
    Untuk industri garmen kecil untuk pasar lokal memang tidak telalu berpengaruh dalam krisis global saat ini apabila mengunakan bahan dasar produksi kita sendiri.
    tapi untuk industri garment besar dampaknya sangat terasa karena sudah stabilnya out produksinya dimana fix cost ngak bisa di kurangi jalan keluarnya mungkin pengurangan pekerja sedangkan saat ini buruh makin gencar demo menentang SKB 4 mentri.
    Menurut Pak Roni gimana ? mungkin kita bisa tukar pikiran atau bisa bekerjasama.
    Thanks…. GBU…

Lacak Balik & Ping Balik

  1.   bisnis Meramal Peruntungan Bisnis Garment di 2008 | Smart Bisnis Dot Net
  2. Meramal Peruntungan Bisnis Garment di 2008 | ILMU LANGKA FOR FREE

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS