Jangan Remehkan Bisnis Recehan
Demikian kata-kata yang saya ingat dari kawan saya, Pak Valentino Dinsi saat mengisi ceramah motivasi entrepreneurhip di Masjid Sunda Kelapa tahun lalu.
Sampai sekarang kata-kata itu masih saya ingat.
Ia memberi contoh tentang bisnis yang sedang dibangunnya saat itu. Jaringan gerobak mie ayam.
Jualan mie ayam adalah bisnis informal, bisnis yang dapat duitnya recehan. Satu gerobak, paling-paling omzetnya 100-300 ribu per hari.
Tapi, bayangkan kalau ia punya jaringan 1.000 outlet. Kalikan saja. Sekitar 100-300 juta per hari omzetnya.
Jangan remehkan bisnis recehan, katanya. Lihat potensi “faktor kalinya”.
Kenapa saya tertarik menulis bisnis recehan seperti ini?
Ya, karena sekarang ini saya juga lagi mulai bisnis skala “recehan”. Ya, itu jualan tas laptop Deuter. Hasilnya menurut saya masih termasuk recehan.
Sehari bisa laku 1-2 pcs. Dapat untung 50-100 ribuan. Lumayan. Buat nambah-nambah uang dapur. Hehe…
Tapi saya seneng aja. Excited. Saya suka mencoba hal-hal baru seperti ini.
Saya suka bertanya, bisa nggak sih? Kalau bisa, seneeng rasanya…
Kita harus bisa menghargai yang kecil-kecil dulu, sebelum menghargai yang besar.
Dari recehan 50 ribuan inilah perjalanan itu akan bergulir. Akan ke mana bergulirnya bisnis recehan ini? Nah, itulah pertanyaan yang menarik dan menantang.
Kalau mulai bisnis langsung untung jutaan sehari itu kurang seru ceritanya. Tapi kalau dimulai dari yang kecil kemudian membesar dan membesar, baru seru.
Seorang klien saya di Purbalingga memulai bisnis toko agrobisnisnya dengan keuntungan 36 ribu rupiah seharinya.
Itu sekitar 10 tahun lalu. Sekarang omzet per bulannya bisa mencapai 2-4 miliar.
Jadi, cobalah nikmati lembaran-lembaran ribuan yang kecil itu dulu. Nikmati prosesnya. Hargai uang yang “sedikit” itu. Dengan menghargai yang kecil, kita akan bisa menghargai yang besar.
Saya teringat kata-kata bijak mengenai leadership. “Orang besar dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang kecil”. Saya kira kata-kata ini juga berlalu di dalam berbisnis.
Salam FUUUNtastic!
Wassalam,
Roni, Owner Manet Busana Muslim
NB – Pak Jonru menulis kesaksian di blognya. Tahun 2007 ini adalah titik balik dalam perjalanan hidupnya. Dan ia berani mengatakan bahwa “hampir semua orang yang berpengaruh besar terhadap hidup saya di sepanjang tahun 2007 adalah sahabat-sahabat saya dari komunitas TDA“. Silakan baca cerita selengkapnya di sini.
NB 2 : Ryad Kusuma: “Memang di TDA itu enaknya bisa dapat banyak ide”.
nice posting….
assalamu’alaykum paak….
bener nih…. kok saya orangnya ogah2an kalo udah ada project yang nilainya puluhan juta ya, bosan atau gimana, tapiii malah seneng dan asyik sama toko offline & online bunda aysar hehheh di busana muslim gitu deh..padahal uangnya kann ‘recehan’ ya pak…
terus menulis pak, biar saya tambah semangaaaaaaaaat yaaa…wassalam
Tapi ingat TDA bukan agama baru khan ya?;))(Maaf)
Salam kenal Pak Roni