Dunia dengan Lebih Sedikit Aturan

by roniyuzirman

Saya dan beberapa teman @TanganDiAtas menggagas sebuah kegiatan yang namanya TDA TRADEveller. Dari namanya sudah jelas, ini adalah program traveling, jalan-jalan tapi sambil jualan. Jadi, jalan-jalannya bukan ngabisin duit tapi malah dapat duit.

Program perdana adalah jalan-jalan dan pameran dagang ke Hanoi atas undangan KBRI.

Sayang, pas hari H keberangkatan saya batal berangkat karena anak saya Vito sakit. Maka yang berangkat hanya berempat: @TryAtmojo @Hantiar @donnykris dan @faifyusuf.

Oleh-oleh mereka tentu saja cerita serunya perjalanan di sana.

Salah satu yang menarik adalah kacau-balaunya lalu lintas di kota Hanoi. Kota itu adalah kota biker, sepeda motor memenuhi penjuru kota.

Uniknya, lampu merah dan rambu lalu lintas sangat sedikit di sana. Pejalan kaki yang mau menyeberang harus berani dan punya strategi khusus: jalan aja dengan cuek tanpa mengindahkan sepeda motor yang lalu lalang dan mengklakson.

Ajaibnya, nyaris tidak ada kecelakaan berarti di sana. Mungkin ini karena para biker dan pejalan kaki terbiasa mengontrol diri mereka sendiri di tengah lalu lintas yang sembrawut itu.

Hans Monderman, seorang traffic planner dari Belgia punya pendapat yang mendukung kondisi di Hanoi ini. Menurutnya, lampu lalu lintas, rambu-rambu jalan, malah mengurangi kemampuan warga untuk berpikir tentang keamanan diri mereka sendiri.

Ia mengetes pendapatnya ini dengan melakukan uji coba di kota Drachten dengan menghilangkan 12 dari 15 lampu lalu lintas.

Hasilnya sungguh mencengangkan. Jumlah kecelakaan turun drastis dari rata-rata 8,3 menjadi 1 per tahun.

Eksperimen ini menarik sekali jika dicoba di organisasi kita. Apakah dengan sedikit aturan, organisasi malah lebih teratur, mencapai sasaran dan warga di dalamnya lebih aman?

About these ads