Bayangkan….
Saat itu anda sedang berdiri di puncak sebuah gunung.
Udara sejuk menerpa sekeliling anda.
Anda melemparkan pandangan ke segala penjuru.
Posisi anda berada paling tinggi.
Anda merasa puas dan lega.
Namun, tiba-tiba anda memutuskan untuk turun dari gunung itu.
Jalan terjal anda lalui dan akhirnya anda berada di jalan menuju ke rumah anda.
Di depan pagar rumah, anda tertegun.
Anda melihat banyak orang memasuki halaman dan rumah anda.
Anda pun melangkah masuk ke dalam rumah.
Anda melihat banyak sekali orang di dalamnya, penuh sesak.
Terlihat istri/suami, anak-anak, sanak famili anda tengah menangis terisak melingkari sesosok tubuh terbujur kaku ditutupi kain.
Anda mendekati sosok itu.
Itu adalah diri anda sendiri. Tubuh anda terbujur kaku tak bergerak.
Anda telah meninggal dunia.
Tak lama setelah itu tubuh anda pun diangkat. Anda meronta ingin berkata-kata kepada mereka yang anda cintai bahwa anda tidak ingin diangkat. Anda masih ingin menikmati kehidupan ini.
Tapi anda tak berdaya. Dan mereka pun tak mendengar teriakan anda.
Anda pasrah.
Tubuh anda dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Perlahan-lahan tubuh anda dimasukkan ke liang lahat. Anda pun pasrah tak dapat berbuat apa pun. Saat pandangan mulai gelap. Mereka pun menimbun anda dengan tanah.
Saat itu anda pun tersadar bahwa kematian telah menjemput. Anda harus berpisah dengan mereka yang anda cintai.
Ada rasa sesal mendalam bahwa anda belumlah berbuat yang terbaik untuk mereka.
Anda merasa belum mencintai sepenuhnya suami/istri anda.
Anda belum meluangkan waktu yang cukup untuk anak-anak anda.
Anda belum berbuat yang terbaik untuk orang tua anda.
Anda belum berbuat yang terbaik buat orang-orang di sekeliling anda.
Tapi apa daya. Tubuh anda sudah terbujur kaku di dalam tanah yang gelap gulita. Mereka sudah berjalan meninggalkan pusara anda.
———-
Jangan sampai penyesalan itu anda alami.
Berbuatlah yang terbaik hari ini juga. Berbuatlah yang terbaik untuk suami/istri anda, untuk orang tua anda, untuk anak-anak anda, untuk masyarakat anda, untuk pekerjaan/bisnis, untuk agama anda hari ini juga. Sebelum terlambat.
———
Renungan ini disampaikan saat Halal Bihalal TDA di Depok oleh Pak Martono Asmari, seorang trainer dari Adora Learning Center.
Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,
Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas
Pak Kusnadi Ikhwani adalah sosok member TDA yang sejak kehadiran pertamanya menarik perhatian saya. Ia adalah seorang yang menurut saya punya energi positif yang berlimpah dan sangat menular. Saya dapat merasakannya dan saya yakin member lain yang sempat berdiskusinya dengannya juga demikian.
Bicaranya selalu bersemangat dan penuh energi. Ia sangat jarang mengutip istilah-istilah manajemen dan keilmuan. Yang sering dikutipnya adalah ayat-ayat Allah dan perilaku Rasul dan para orang shaleh dalam kehidupan sehari-hari.
Sungguh, berada di dekatnya tidak seperti berada di samping seorang pebisnis sukses, melainkan seperti berada di dekat kyai atau ustadz yang maqomnya tinggi.
Pun, ketika memberi tausiyah di Halal Bihalal TDA di Depok Ahad kemarin, pemilik gerai Ayam Pakuan yang sedang naik daun ini pun tidak lepas bercerita tentang masalah spiritual.
Bisnisnya maju dan berkembang sampai seperti sekarang ini ia klaim sebagai sepenuhnya karena campur tangan Allah. Masa-masa sulit pun dilaluinya dengan ikhlas dan pasrah. Ia pun berkisah pernah sukses berbisnis roti dan memiliki 12 unit kendaraan distribusi. Karena kenaikan harga bahan baku, bisnis itu pun hancur terseret dan12 kendaraan itu pun ikut hanyut tak tersisa.
Menjadi penjual mie ayam di depan rumah pun ia lakoni tanpa mengeluh dan malu. Mencuci mangkok di depan rumah di rumah pun ia lakukan tanpa sungkan dengan latar belakangnya sebagai konsultan di Bappenas. Hidup prihatin dan nyaris minus ini dilakoni hampir setahun tanpa keluh kesah.
Kejaiban-keajaiban, yang diyakininya adalah skenario dari Allah itu pun datang, tidak sekali dua kali bahkan sering. Tiba-tiba saja ada temannya yang menawari pinjaman Rp. 100 juta. Tiba-tiba saja Ustadz Lihan memodalinya miliaran rupiah. Dari mana semua itu datangnya kalau bukan Allah yang menggerakkan hati-hati mereka?
Kejadian-kejadian spiritual pun banyak dialaminya ketika menjadi relawan BAZNAS di Padang beberapa waktu lalu. Ia bersama timnya turun sebagai terapis menggunakan metode Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) kepada para korban gempa. Ada seorang ibu yang sudah 15 tahun satu kakinya lumpuh tidak bisa berjalan. “Subhanallah setelah dilakukan proses tapping (metode SEFT), langsung bisa berjalan. Saya ada videonya”, ujarnya bersemangat.
Peristiwa spiritual lain juga dialaminya ketika bersama seorang profesor dan 6 orang lainnya ingin mencari rumah makan. Pak Kusnadi, merasa tidak enak mengajak sang profesor untuk makan di rumah makan biasa saja. Ia memilih rumah makan yang cukup mewah. Namun, ia kaget dan tersadar bahwa uang di kantong hanya tersisa Rp. 150 ribu, sedangkan mesin ATM jauh dan sulit ditemukan. Ia pun berdoa kepada Allah supaya diberikan jalan keluar dari persoalan ini. “Pokoknya saya yakin saja melangkah masuk ke rumah makan itu”.
Apa yang terjadi di dalam rumah makan itu?
Tiba-tiba ada anggota DPRD, temannya sang profesor, yang sedang makan di sana memanggil mereka. “Di sini saja duduknya. Gabung bersama kami sekalian!”, teriaknya. Alhamdulillah. Inilah “miracle” jawaban dari Allah itu. Subhanallah.
Bersedekah dan shalat Dhuha adalah kunci untuk meraih sukses yang diterapkan oleh Pak Kusnadi. Apalagi ia dekat dengan Ustadz Yusuf Mansur, sang penganjur gerakan sedekah Indonesia. “Berikan apa yang anda inginkan”, katanya.
Kalau anda menginginkan mobil, sedekahkan motor anda. Kalau anda ingin rumah yang besar, undang dan sedekahi anak yatim sebulan sekali sampai memenuhi rumah sehingga anda harus berdoa kepada Allah: “Ya, Allah, rumah kami sempit sekali sekarang, berilah kami rumah yang lebih besar”.
Satu lagi kuncinya adalah shalat Dhuha. “Saya membiasakan di restoran saya agar seluruh karyawan menunaikan shalat Dhuha setiap hari”, tuturnya. Ia pun melontarkan ide untuk membuat gerakan nasional shalat Dhuha bagi anggota TDA.
Dalam kesempatan ini Pak Kusnadi juga mengungkapkan kenapa ia begitu tertarik dengan Komunitas TDA dan selalu mengikuti setiap kegiatannya. “Saya melihat wajah member-member TDA adalah wajah-wajah orang yang shalat”. Merinding saya mendengarnya.
Kegiatan halal bihalal kali ini juga mendapat pujiannya. “Baru kali ini saya mendapati kegiatan yang langsung berhenti dan langsung shalat berjamaah begitu adzan Dzuhur berkumandang”. Subhanallah. Semoga TDA istiqomah dengan praktek terpuji ini.
Demikian salah satu hikmah yang saya dapatkan di acara penuh makna di Halal Bihalal TDA yang diselenggarakan oleh TDA Depok kemarin. Terima kasih untuk panitia yang telah menghadirkan kegiatan penuh gizi ini.
Salam FUUUNtastic TDA!
Bersama TDA Menebar Rahmat
Wassalam,
Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA
NB: Beberapa hari lalu saya mendapat undangan dari staf Ust Yusuf Mansur untuk bersilaturahim dengan beliau. Mudah-mudahan pertemuan ini akan membuahkan sesuatu yang positif. Insya Allah.
Saya selalu tertarik dengan cerita titik balik kehidupan yang dialami orang-orang sukses.
Saya selalu penasaran, ALASAN apa yang membuat mereka melakukan semua ini? Saya selalu ingin tahu apa yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia mampu bertahan di tengah hantaman badai dalam meraih impianya itu.
Nanang Qosim Yusuf (Naqoy), trainer yang tengah naik daun dan penulis buku best seller Seven Awareness itu pun ternyata punya ketertarikan yang sama dengan saya. Ia menyebutnya dengan istilah One Minute Awareness (OMA), kesadaran satu menit yang mengubah segalanya. Saat ini ia sedang menyelesaikan buku terbarunya mengenai topik ini.
Apa itu One Minute Awareness? Silakan baca sendiri bukunya nanti
Sebelum Mas Naqoy berbicara, saya bertindak sebagai moderator saat Haji Alay (sesepuh dan inspirator TDA) menyampaikan tausiyahnya kepada puluhan member TDA yang berkumpul di Restoran Pondok Laras, Depok.
Pak Haji Alay adalah orang yang sangat “action oriented”. Kisahnya yang sangat menginspirasi adalah ketika ia sampai di Palembang dari Bukittinggi di pagi hari. Siang harinya beliau langsung take action berjualan rokok asongan.
Apa yang membuat beliau seperti itu?
Ternyata itu adalah karena hinaan dari tetangganya di kampung. Karena miskin, keluarga Pak Haji selalu mengkonsumsi daun singkong sebagai lauk teman nasi. Tetangganya menyindir bahwa sejak kepindahan keluarga beliau di situ daun singkong di kebunnya selalu habis.
Pak Haji merasa tersengat dan begitu terhina. Emosi menggelegak di dadanya. Tapi ditahannya. Seperti inilah nasib si miskin, dihinakan. Sejak saat itu beliau berjanji untuk tidak menjadi orang miskin.
Itulah momen One Minute Awareness-nya Pak Haji Alay. Momen titik perubahan dalam hidupnya.
Tung Desem Waringin, pelatih sukses nomor satu di Indonesia saat ini juga punya kisah One Minute Awareness-nya sendiri. Saat ia mengobati sang ayah tercinta di rumah sakit di Singapura, ternyata gajinya sebulan sebagai kepala cabang bank ternama tidak cukup untuk biaya semalam di rumah sakit.
Terpaksa ia memindahkan orang tua tercinta ke kamar kelas 3. “Tung, kamu tidak punya uang ya?”, tanya sang ayah. Saat itulah Pak Tung tertegun, keluar ruangan dan menangis tersedu. Saat itu ia berjanji untuk menjadi orang yang berkecukupan agar bisa memberikan yang terbaik bagi sang ayah.
Basrizal Koto, pengusaha ternama dari Padang dan ketua Saudagar Minang yang punya banyak bisnis termasuk hotel dan peternakan sapi terbesar itu juga punya One Minute Awareness-nya sendiri. Orang tuanya pernah dihina karena selalu meminjam beras kepada tetangganya. Saat terakhir kali meminjam, sang tetangga mengatakan, “beras yang dulu saja belum dibayar, makan dengan batu saja!”
Mas Naqoy, bisa sukses seperti sekarang juga punya OMA saat ia berkuliah di IAIN Syarif Hidayatullah dan tidak bisa beraktivitas layaknya mahasiswa lain. Ia tidak bisa ikut HMI dan organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya karena harus mencari tambahan uang untuk membiayai kuliahnya dengan menjadi penjaga sepatu di masjid. Suatu saat ia bersujud dan berdoa kepada Allah sambil memvisualkan masa depan yang ideal di imajinasinya. Itulah momen OMA-nya. Saat ini visualisasi itu telah menjadi kenyataan.
Kita semua pasti punya momen OMA itu. Momen di mana kita memutuskan untuk melakukan perubahan besar dalam hidup.
Apakah anda juga punya pengalaman ini?
Ditunggu komentarnya di blog ini.
Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,
Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA
NB: Selamat dan terima kasih untuk TDA Depok yang telah sudah menyelenggarakan kegiatan ini dengan baik dan penuh manfaat bagi yang hadir. Cerita saya ini hanya sebagian kecil dari yang bisa saya dapatkan kemarin. Insya Allah, insight lain akan saya tulis menyusul