Health, Life, Positivity

Fokus kepada Kendali Internal

Beberapa bulan lalu, saat lagi nyetir di jalan tol yang dalam kondisi macet, tiba-tiba mobil saya ditabrak dari belakang.

Kebetulan saat itu mood saya lagi bagus, karena baru pulang liburan dari Puncak dengan anak-anak. Gak lucu dong, pulang liburan diakhiri dengan bad mood.

Saya pun keluar dari mobil mendatangi pengemudi yang menabrak itu. Tentu saja dia merasa bersalah dan mengakui penyebabnya adalah karena ia sibuk dengan handphonenya sehingga tidak memperhatikan mobil di depannya.

Pada saat itu saya juga berpikir. Pilihannya, mau marah di tengah kemacetan atau menerima saja. Toh, mobil sudah diasuransikan dan kalau pun saya marah tidak akan mengubah keadaan.

Akhirnya saya putuskan untuk sekedar menyapanya, menanyakan penyebab kelalaiannya dan minta nomor handphonenya. Wajahnya yang merasa bersalah itu terlihat surprise dengan respon saya yang kalem itu.

Saya pun nyetir kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Keluar dari tol, saya berbelok menuju sebuah rumah makan sate dan parkir di sana.

Saat makan, tiba-tiba handphone berbunyi dari si penabrak tadi. Ia merasa bersalah dan ketika melihat mobil saya parkir di rumah makan, ia pun ikut merapat.

Saya senang dengan niat baiknya ini. Bagi saya itu saja sudah cukup. Soal bemper belakang mobil yang penyok itu tidak begitu berarti dibanding rusaknya mood positif saya.

Hal-hal eksternal yang terjadi di luar diri kita seperti ditabrak tiba-tiba itu adalah situasi di luar kontrol. Jadi kalau mau marah-marah pun percuma, karena memang di luar kontrol kita.

Yang bisa dilakukan adalah mengendalikan yang di dalam kontrol kita, diri kita, pikiran kita, emosi kita, sikap kita. Life is easy and simple kalau bisa seperti ini terus. Gak ada baper dan drama-drama yang gak perlu

Iklan
Standar