Mindset, Parenting

Menerima Konsekuensi dan Belajar Darinya

Pagi ini sesampai di sekolah Vito ogah turun dari mobil. Ia merasa kurang sehat dan ingin pulang saja. 

Tidak biasanya ia bersikap seperti ini. Ia selalu senang dan antusias bersekolah. Ini pasti serius, batin saya. Maka, saya dan Mamanya dapat menerima dan mengijinkanya.  Saat disentuh, memang badannya agak panas.

Setelah mengantarkan adiknya di sekolah dan mobil beranjak pulang, Vito mengajukan permintaan supaya tetap bisa mengikuti latihan futsal, kegiatan ekstra kurikuler favoritnya.

Tentu, kami tidak mengijinkan walau ia mulai merengek minta pengecualian.

Sakitnya hari ini adalah konsekuensi dari pilihannya beberapa hari lalu karena banyak makan es krim. Kami memang tidak membatasinya makan es krim, tapi selalu berpesan supaya mereka tahu batas agar yang wajar supaya tidak batuk pilek atau demam. Jika sakit, tentu konsekuensinya tidak bisa sekolah, bermain dengan teman-teman, termasuk berlatih futsal.

Sebetulnya mudah saja melarang mereka untuk tidak makan es krim. Dengan sedikit paksaan yang bernada “pokoknya”, persoalan selesai, mereka pasti kalah dan menurut.

Setelah berdiskusi dengan beberapa teman yang konsern soal parenting (termasuk Mas Bukik Setiawan yang saya kagumi passionnya soal anak), kami mulai sadar bahwa asal melarang dan menghukum anak ternyata sudah tidak efektif lagi. Cara itu sudah kuno, katanya.

Jika anak dilarang atau dihukum, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar. Pembelajaran itu yang penting. Melarang dan menghukum berarti orang tua memotong kompas pembelajaran sang anak. Bagaimana mereka belajar kalau jatuh itu sakit jika selalu dilarang memanjat? Bagaimana mereka tahu jika kebanyakan makan es krim akan berakibat batuk dan harus libur sekolah?

Ketika anak menumpahkan air di sofa, bagaimana respon orang tua? Memarahinya? Menyalahkannya? Atau memintanya untuk membersihkan semampunya? Jika dimarahi dan disalahkan, ia akan merasa terpojok, membantah, berbohong, menyalahkan orang lain atau menarik diri. Ia kehilangan kesempatan belajar dan mengevaluasi diri. Memintanya membersihkan sofa lebih bijaksana karena si anak belajar menerima konsekuensi dari kelalaiannya dan akan lebih hati-hati di kemudian hari.

Saya teringat kata-kata seorang psikolog anak, jadikan setiap momen atau kejadian yang dialami anak sebagai momen pembelajaran. Setiap ada kejadian, pilihannya cuma 2, sebagai sarana pembelajaran atau bukan.

Standar