Indonesiaku

Virus Ketakutan dan Playing Victim

Saat ini mata dunia sedang memperhatikan dengan was-was dengan apa yang terjadi di negeri Paman Sam paska kemenangan Donald Trump. Sebelumnya di negeri kita sendiri jadi perhatian dunia juga dengan demo besar yang menggugat Ahok. Masih segar juga dalam ingatan kita betapa referendum Brexit di Inggris akhirnya dimenangkan oleh kelompok konservatif.

Saya amati dari semua fenomena itu dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa ini adalah kemenangan kelompok yang mengkampanyekan ketakutan dan rasa kekalahan di baliknya (playing victim).

Sentimen keluar dari Uni Eropa sudah lama berhembus lantaran pihak-pihak konservatif di Inggris yang mayoritas orang tua yang khawatir masa depannya dengan derasnya arus imigrasi yang merebut lapangan kerja anak keturunannya nanti. Mereka takut dan merasa menjadi korban dari komitmen dengan Uni Eropa yang akhirnya dianggap merugikan.

Demikian juga dengan fenomena demo Ahok, terlepas dari soal penistaan agama yang saat ini tengah diproses (mudah-mudahan memenuhi rasa keadilan semua pihak), di baliknya adalah terselip rasa takut bagaimana  masa depan Jakarta jika dipimpin oleh gubernur yang tidak berasal dari agama mayoritas. Bagaimana nanti kehidupan ummat Islam selepas Pilkada nanti? Ada rasa kekhawatiran akan semakin terhempas ke pinggiran. 

Faktanya adalah indeks GINI kita sudah naik menjadi 0,4 atau 4 dari 10 orang Indonesia adalah miskin. Artinya kesenjangan ekonomi makin jauh antara yang kaya dan yang miskin. Kesenjangan ekonomi biasanya selalu jadi pemicu keresahan di tengah masyarakat. Tinggal ditunggangi isu sensitif, akan meledak dengan mudah.

Demikian juga yang terjadi di AS. Terlepas fakta pribadi Trump yang emosional, pikirannya sulit ditebak, diskriminatif dan juga merendahkan kaum perempuan, ternyata ada bom waktu yang ditinggalkan rezim Obama yang membuat rakyat kecewa. Ekonomi makin sulit, pasar mereka dibanjiri produk Cina, pekerjaan mereka diambil alih oleh imigran, termasuk ketakutan dengan Islamophobia. Ketimbang memperbaiki ekonomi dalam negeri, Obama malah makin sibuk membuka perang dengan pihak-pihak yang tidak disukainya.

Polanya sama di ketiga kejadian besar ini. Ada ketakutan dan rasa kalah atau menjadi korban. Pihak-pihak yang paham akan dengan mudah memanfaatkan isu ini dan mengkapitalisasinya. Karena ini adalah fenomena global, maka yang terjadi di Indonesia itu adalah biasa-biasa saja, karena polanya memang sedang begitu.

Pertanyaannya, apa yang akan terjadi kalau pilihan-pilihan kita itu sering didominasi oleh rasa ketakutan dan kekalahan? Jika ini terjadi dalam tingkat lokal dan global, kira-kira akan seperti apa dunia jadinya?

Standar