Life, Mindset

Mengambil Jarak dengan Informasi

Realitas saat ini terkait dengan informasi adalah: informasi tersebar demikian cepat dan kita terima dari berbagai sumber/channel yang kita miliki. Informasi itu kadang juga sudah berisi opini yang menguncang-guncang emosi kita.

Di sela-sela acara Indonesia Brand Forum kemarin saya sempat memperbincangkan hal ini dengan Mas @kriesmoerwanto, seorang jurnalis dari Jawa Pos yang jeli menangkap dan mengurai fenomena-fenomena sosial dan teknologi terkini khususnya di sosial media.

Saya mengungkapkan betapa mudah dan cepatnya saya mencari tahu siapa nama artis berinisial AA yang sedang ramai diperbincangkan itu. Tinggal ketik di Twitter dan sekejap keingintahuan saya terjawab.

Tak lama setelah itu beredar lagi kehebohan terkait bacaan AlQuran dengan langgam Jawa. Berbagai informasi dan opini terkait dengan hal ini nyelonong masuk ruang pantau saya melalui Facebook, Whatsapp dan sebagainya. Pro kontra akhirnya sekali lagi terjadi dan memecah belah kita karena bumbu-bumbu opini yang memancing emosi pembaca.

Kepada Mas Kris, saya mengungkapkan pengalaman dan trik pribadi saya soal lalu lintas berita/opini yang lebih senang saya sebut noise ini. Kenapa noise? Karena fakta dan opini sudah bercampur aduk.

Saya pernah menyesal beberapa kali menyebarkan informasi yang belum jelas fakta dan keabsahannya. Akibatnya, beberapa follower di Twitter memprotes dan memberi saran agar saya lebih berhati-hati menyebarkan informasi mengingat follower saya yang hampir 40.000 jumlahnya menuntut tanggung jawab agar saya menyampaikan informasi secara lebih selektif dan bijak.

Kebetulan informasi yang saya sebarkan terkait dengan orang nomor satu di negeri ini. Saya berkilah bahwa saya cukup fair dalam menyebarkan informasi. Saya merasa sudah cukup adil menulis tentang sosok tersebut. Setiap ada prestasi saya apresiasi, demikian juga jika ada kekurangan. Namun, tetap saja namanya ranah Twitter dengan keterbatasan140 karakter, pasti ada bias dalam memahami teks dan konteksnya.

Akhirnya, trik saya adalah DIAM. Ya diam dan mengambil jarak dengan informasi tersebut. Saya diamkan untuk beberapa saat sambil memantau perkembangan opini pro kontra dan pendapat pakar tentang topik itu. Saya menahan diri untuk mengambil posisi apakah setuju atau tidak. Akhirnya saya merasa mendapatkan kejernihan setelah melalui proses ini. Saya pun merasa lebih bijak dan tercerahkan oleh berbagai macam pendapat itu.

Jika saya terburu-buru menyampaikan informasi/opini tentang hal itu dan ternyata salah, tentu akan saya sesali. Apalagi jika telah dibaca oleh sekian banyak orang. Tentu ada dosa terselip di situ.

Untuk kasus bacaan AlQuran langgam Jawa ini misalnya, saya akhirnya tercerahkan dengan berbagai pendapat berseberangan dari berbagai ahli itu. Meski, menurut Mas Kris, berbagai media yang kita konsumsi itu juga tidak fair terhadap pembacanya. Pembaca sebetulnya disajikan informasi yang telah “dipilihkan” oleh redaksi untuk kita. Di Facebook, informasi yang berseliweran di newsfeed kita sebetulnya sudah disetting sesuai dengan algoritma tertentu sesuai dengan minat dan pola perilaku kita yang sudah terekam dalam waktu yang panjang.

Mengutip istilah Nate Silver, di era keberlimpahan informasi ini kita harus bijak memilah mana yang signal dan noise. Mana informasi yang penting, bermakna dan memberdayakan dan mana yang hanya sampah.

Teringat lagi saya dengan cara Tim Ferriss, penulis The Four Hour Work-Week, yang menyarankan untuk mencoba berpuasa dari informasi. Alasannya, mayoritas informasi itu tidak berguna dan menjauhkan kita dari fokus terhadap hal-hal yang penting dalam hidup kita.

Standar