Life, Minimalism, Productivity, Simplicity

Smartphone Detox

Hari ini adalah hari ketiga saya melakukan Smartphone Detox. Saya mengurangi penggunaan smartphone dengan cukup ekstrim, lebih dari 90% dari penggunaan biasa. Biasanya saya pakai rata-rata 2,5 jam per hari. Saya pakai aplikasi Moment, untuk menghitung dan mengurangi penggunaan smartphone. Alhamdulillah sudah lumayan efektif pakai aplikasi ini, namun minggu ini saya iseng membatasi sampai hanya 30 menit per hari. Ternyata bisa.

Kenapa melakukan ini? Iseng aja. Intuitif. Saya hanya penasaran apakah bisa melakukannya dan seperti apa rasanya. Apalagi kemarin saya sharing tentang gaya hidup minimalis yang sebenarnya punya spektrum luas. Tentang menyediakan “ruangan” buat yang paling penting dalam hidup kita.

Pasti timbul pertanyaan, bagaimana kalau ketinggalan hal-hal penting dan urgent? Itu juga jadi pertimbangan saya. Tapi kalau tidak dicoba, bagaimana kita tahu rasanya. Setelah saya coba ternyata hal-hal yang dianggap penting dan urgent itu tidak sepenuhnya benar. Tidak semua pesan di WhatsApp itu harus segera dijawab. Tidak semua isi pesan itu penting. Tidak semua pesan harus kita respon sendiri. Tidak juga benar bahwa kita akan ketinggalan banyak hal.

Karena dibatasi waktu setiap buka smartphone, maka saya jadi fokus kepada yang penting-penting saja. Ternyata yang penting itu paling hanya 20% waktu yang kita habiskan bersama smartphone itu. Oya, bagaimana kalau ada telpon urgent yang harus dijawab? Saya sudah setting smartphone dengan call forwarding ke stupid phone yang hanya bisa bicara dan SMS.

Selain program smartphone detox yang saya praktekkan seminggu ke depan, saya juga sudah membatasi penggunaan smartphone cukup signifikan selama beberapa bulan terakhir ini. Hasilnya, memang ada trade off dengan kegiatan lain seperti menamatkan baca buku sampai 5 buku bulan lalu. Kemudian bisa melakukan kegiatan produktif dan kreatif lainnya seperti melukis, olah raga dll. Saat berbicara dengan orang lain pun jadi lebih fokus, tidak multi tasking lagi.

Apakah praktek ini akan saya lanjutkan? Tidak tahu. Karena situasi dan kondisi berbeda tentu juga beda kebutuhannya. Misalnya saya sedang traveling, tentu butuh smartphone lebih lama untuk melihat peta atau foto-foto. Jadi fleksibel aja tergantung momennya.

Iklan
Standar