Life, Minimalism

Perampas Waktu dan Perhatian

Setelah lama saya alami dan amati, saya berkesimpulan bahwa media sosial itu dibuat untuk merampas waktu dan perhatian kita.

Kita dibuat ketagihan untuk terus memelototinya dengan menstimulir rasa ingin tahu kita  dengan terus men-scroll ke bawah tanpa henti, ibarat sumur tanpa dasar.

Coba perhatikan Facebook. Kalau kita terus menscroll ke bawah, ia tak kan pernah habis dengan isi berbagai macam postingan dari teman-teman kita. Tak terasa waktu kita satu jam sudah dirampasnya.

Begitu juga dengan Twitter yang juga memperlakukan kita dengan godaannya yang lain seperti link-link yang membuat rasa penasaran dan juga tagar atau hastag yang tak kalah serunya. Belum lagi yang namanya titwar. Itu seru untuk diikuti dan terlibat secara emosional.

Bagaimana dengan Instagram? Sami mawon. Gambar-gambar yang disajikannya memang aduhai untuk mata kita. Memelototinya memang lebih mendamaikan pikiran daripada linimasa Twitter atau Facebook. Tapi ia juga ibarat sumur tanpa dasar, tak kenal batas habisnya discroll ke bawah.

Ada lagi yang namanya Youtube. Ketika kita masuk ke dalamnya dan mengetik kata kunci, misalnya lagu terbaru Christina Perry. Lagu tersebut akan muncul dan jika dibiarkan, videonya akan terus berlanjut sambung menyambung dengan video terkait tanpa henti.

Kesimpulan saya, semua media sosial ini memang dibuat supaya penikmatnya ketagihan berlama-lama di sana sampai lupa waktu. Inilah yang mereka kejar, jumlah pengguna dan lamanya pengguna itu berada di situs atau aplikasi mereka. Semakin lama pengguna di sana, mereka semakin senang, makin naik valuasi perusahaan mereka. Dalam soal ini, antar mereka pun terjadi persaingan ketat. Mereka sangat khawatir jika terjadi penurunan jumlah pengguna dan lamanya situs mereka digunakan. Karena, sesungguhnya di dalam produk yang “gratis” ini yang diklaim sebagai aset perusahaan adalah jumlah penggunanya. Ya kita-kita ini.

Sebagai orang yang tak mau ketinggalan dalam soal mengikuti kekinian seperti ini, saya pun satu rombongan dengan Anda. Tapi lama-lama saya sadar juga kalau waktu dan perhatian saya sering dicuri oleh mereka dengan tanpa sadar. Waktu saya berjam-jam bisa dirampasnya dengan rasa asyik dan tanpa sadar. Kendali waktu saya di tangan mereka.

Ini nggak bener, batin saya. Tapi kalau sudah ketagihan dan jadi bagian dari hidup, bagaimana bisa keluar dari lingkaran ini?

Berbagai macam cara dilakukan orang-orang seperti saya. Di luar sana sudah ada gerakan “digital sabbath” atau “digital detox”  atau “screen detox” yang intinya berpuasa dalam waktu tertentu terhadap yang namnya layar digital, internet atau media sosial. Bahkan sudah ada orang-orang kreatif yang menangkap masalah ini dan menjadikan bisnis dengan membuat program seperti digital detox camp. Yang ikut lumayan banyak dan bayarnya juga tidak murah. Peserta di sana diajak melukis, main bola, memasak, bersepeda, jalan kaki dan sebagainya.

Saya termasuk yang tak kuasa membebaskan diri dari ketagihan terhadap layar atau media sosial ini. 

Salah satu ikhtiar saya mengurangi kecanduan ini adalah dengan mengurangi aplikasi sosial media di smartphone saya. Yang namanya Twitter, Facebook, Instagram atau Path sudah saya hapus dari smartphone. Tinggal beberapa yang esensial saja seperti aplikasi BBM, WhatsApp atau musik.

Dampaknya, ketika membuka smartphone, saya menjadi cepat bosan karena tidak ada apa-apa lagi di sana. Ya sudah, ditutup  saja. Notifikasi apa pun tidak saya aktifkan, karena semua notifikasi itu seolah-olah membuat hidup kita selalu dalam kondisi urgen, semuanya harus dijawab dengan seketika. Padahal tidak semua email atau pesan itu harus dijawab saat itu juga.

Aplikasi-aplikasi sosial media itu sebetulnya tidak saya hentikan sama sekali, melainkan saya pindahkan ke tablet yang hanya bisa dipakai saat terkoneksi dengan wi fi. Jadi, saya hanya sekali-sekali melihatnya di pagi hari atau selepas jam kerja.

Apakah persoalan selesai sampai di sini? Belum. Tapi supaya jangan kepanjangan dan menyita banyak waktu anda membacanya, maka akan saya usahakan cerita di postingan berikutnya. 

Standar