Memancing Di Kolam yang Ikannya Kelaparan

Menyambung tulisan saya mengenai niche and community marketing kemarin, saya jadi teringat dengan ceritanya Pak Tung. Waktu itu dia tanya: lebih mudah mana, berburu di hutan atau berburu di kebun binatang? Lebih enak mana, mancing di laut atau mancing di kolam yang ikannya kelaparan?
 
Untuk pertanyaan pertama, jelaslah enakan berburu di kebun binatang. Soalnya binatangnya udah pada ngumpul semua. Tinggal tembak-tembakin aja. Alhasil, tangkapan pun jadi banyak didapat dalam waktu cepat. Peluru pun nggak perlu terbuang banyak.
 
Untuk pertanyaan kedua, pastilah lebih enak dan gampang mancing di kolam yang ikannya sudah kelaparan. Kalau sudah begitu, ikannya nggak usah dipancing lagi. Langsung dijaring aja. Caranya, bikin ikannya kelaparan dulu, kemudian tebarkan makanannya. Begitu ikannya terkumpul, langsung dijaring. Pasti dapat banyak dalam waktu singkat dan dengan sedikit energi.
 
Kedua taktik itulah yang sering dilakukan Pak Tung dalam menjaring ‘mangsanya’ alias customer. Para calon customer dikumpulkannya dulu dalam sebuah seminar gratis melalui iklan di media massa (biasanya Kompas). Lantas, setelah calon customer itu ngumpul, kemudian dibuat ‘lapar’. Caranya, dengan membuat orang-orang itu merasa seminar atau program yang ditawarkan itu benar-benar dibutuhkan dan akan menjadi jawaban bagi permasalahan yang dihadapinya. Setelah itu, ‘ikan-ikan’ yang sudah sekarat karena kelaparan itu diberikan ‘makanan’ dengan tawaran yang sulit ditolak. Irresistible sensational offer, istilahnya.
 
Dapat idenya? Ide inilah yang dipakai oleh Pak Tung berulang-ulang selama ini. Dan terbukti memang powerful. Bayangkan, waktu seminar Global Internet Summit (GIS) yang berbiaya Rp 6,4 juta itu sukses dihadiri oleh 500-an peserta.
 
Pak Tung dengan cermat bisa membaca niche marketing ini. Banyak niche yang sukses dibidiknya. Niche internet marketing dengan GIS, niche anak-anak dengan program Super Teen adalah beberapa contoh yang telah sukses dibidiknya.
 
Saya pun dengan tanpa sengaja sudah melakukannya lho melalui blog ini. Dari blog ini kemudian terkumpul orang-orang yang punya minat sama, yaitu menjadi pengusaha alias TDA yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah komunitas bisnis. Biar pun tidak menghasilkan keuntungan materi alias non profit, tapi ini adalah contoh penerapan cara yang dilakukan Pak Tung di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s