Business, Money and Investing, Wealth

Grosir versus Eceran

Alasan mengapa saya terjun meninggalkan bisnis eceran (ritel) dan masuk ke bisnis grosir karena adanya perbandingan yang fantastis yang diberikan oleh seorang kerabat.

“Setahun berjualan grosir, hasilnya sama dengan 20 tahun berjualan eceran”, katanya.

“O ya?”, saya terperangah.

Tapi saya tidak bisa membantahnya, karena yang berbicara adalah orang yang telah membuktikannya.

Maka, saya pun terjun, mencoba peruntungan di bisnis grosir.

Saya pun mulai berjualan grosir dengan menjual produk di Tanah Abang kepada para pedagang. Bisnis eceran pun perlahan saya tinggalkan.

Belakangan, saya mulai mengetahui apa maksud dari grosir dan eceran itu setelah membaca bukunya Roger Hamilton, Your Life Your Legacy.

Menurutnya, 95% perekonomian dunia ini dikuasai oleh bisnis grosir, sisanya 5% untuk eceran. Timpang sekali ya?

Nah, yang dimaksudnya grosir atau eceran itu bukanlah seperti yang kita pahami sekarang, yaitu jual banyak versus jual satuan. Tapi lebih kepada tujuan dari transaksi keuangan itu.

Sebuah transaksi dikatakan eceran atau ritel adalah bila transaksi itu termasuk pengeluaran (spending), atau barang/jasa yang nilainya menurut atau habis dikonsumsi.

Sebuah transaksi dikatakan grosir bila transaksi itu adalah termasuk investasi. Dalam hal ini adalah barang/jasa yang nilainya bertambah.

Membeli sepatu, pakaian, jam tangan adalah pengeluaran dan nilainya menurun, maka itu termasuk eceran.

Membeli barang produksi, inventory, properti, saham adalah transaksi menambah nilai, maka termasuk grosir.

Uang yang dikeluarkan untuk kedua jenis pengeluaran itu jelas beda.

Apakah kita bersedia mengeluarkan uang Rp. 10 juta untuk sehelai baju? Apakah kita rela mengeluarkan uang Rp. 5 juta untuk semangkuk bakso? Jelas tidak mungkin.

Apakah kita bersedia mengeluarkan uang Rp. 500 juta untuk sebuah rumah (properti)? Apakah kita bersedia mengeluarkan uang Rp. 100 juta untuk membeli saham blue chip? Kenapa tidak?

Lihatlah perbandingannya. Itulah yang dimaksud oleh Roger mengenai perbedaan grosir dan eceran itu.

Orang bersedia mengeluarkan uang banyak untuk membeli jasa/produk untuk tujuan investasi yang nilainya bertambah di masa mendatang.

Apa kaitannya tulisan ini dengan saya? Mungkin anda bertanya demikian.

Jawaban saya, dengan mengetahui perbedaan ini kita bisa merefleksikan diri kita sendiri atau bisnis kita selama ini berada di posisi mana? Spending atau investing?

Kalau sudah tahu dan sadar di mana posisinya, maka kita pun akan dengan lebih mudah untuk mengubah, memperbaiki atau meningkatkannya.

Salam FUUUNtastic!

Roni,
Owner, Manet Busana Muslim
Managing Partner, Quantum Business and Investment
Founder, Komunitas TDA

NB – Akhirnya, wawancara saya dengan majalah online Komunitas Blogfam terbit juga. Silakan baca di sini.

NB 2 – Pagi ini saya dan teman-teman TDA akan bertemu dengan Pak Candra dari Samarinda, seorang member TDA yang ingin silaturahmi dan tukar cerita dengan member Jakarta. Siangnya saya juga ada pertemuan dengan seorang calon klien yang bisnisnya sedang bermasalah dan minta dibantu untuk diperbaiki.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s