Books and Learning, Business

T.P. Rachmat: "Jangan Serakah dan Jangan Pernah Putus Asa"

Hari ini saya di rumah saja. Rencananya sih mau keluar, beli kamera yang baru saja hilang, poles mobil dan lihat pameran FGD di JCC.

Tapi, penyakit “M” (malas) menyerang.

Ya sudah, sampai jam 14 ini masih di rumah saja.

Namun, saya selalu teringat nasihat Goethe supaya harus selalu produktif. Jangan ada waktu terbuang sia-sia.

Tadi pagi saya beresin ruang kerja. Tumpukan buku di meja kerja saya rapikan dan ditata di rak. Buku-buku itu pun kemudian saya bersihkan dari debu yang melekat. Beres.

Udah gitu, ngapain lagi ya?

Menulis blog udah. Aha, Melukis aja!

Saya pun segera menyiapkan kanvas dan kemudian mencari-cari ide untuk lukisan. Saya buka tumpukan majalah. Mungkin di sana ada ide untuk lukisan.

Eh, mata saya malah tertuju kepada majalah SWA terbitan Maret 2007 yang memuat headline mengenai tokoh CEO inspiratif, TP. Rachmat.

Rasanya tulisan tentang Jack Welch-nya Indonesia yang sekarang sudah terjun menjadi entrepreneur alias TDA ini sayang untuk dilewatkan. Makanya, saya putuskan untuk menuliskan inti sarinya di blog ini. Ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya, kata Ali bin Abi Thalib.

Selepas pensiun dari Astra tahun 2002, TP Rachmat langsung ngebut menjadi TDA dengan mendirikan 18 perusahaan yang bermuara kepada 3 bidang: pertambangan, agro industri, manufaktur dan dealership motor. Omzetnya, katanya “hanya” Rp. 30 triliun per tahun 🙂

“Di masa mendatang pertarungannya adalah ilmu melawan ilmu, bukan duit lawan duit. Tanpa core competence, kami tidak bisa kontrol our own destiny“, katanya.

Teddy menerapkan winning concept, winning system dan winning team di setiap perusahaannya sebagaimana dilakukannya di Astra dulu.

Apa rahasianya menjadi entrepreneur sukses?

“Bukalah toko pertama anda, tidak peduli industri apa pun. Kalau sukses, terus buka lagi dan lakukan leveraging: dari kecil lalu dibesarkan dulu baru diperluas”, jawabnya.

Good point, menurut saya. Ini mirip dengan spirit TDA: Take Double Action.

Cara lain?

Beli, benahi, lalu jual. Wah, ini mirip sarannya Brad Sugars.

Selanjutnya ada cara ketiga: melakukan financial engineering, dengan private equity, go public dan sebagainya.

Selain mengejar profit, Teddy pun membangun bisnisnya dengan nilai-nilai yang telah diperjuangkannya sejak lama, yaitu: transparansi, integritas, kerapian dan good corporate governance.

Dari semua bisnisnya, adakah yang gagal?

“Ada beberapa”, katanya.”Banyak pelajaran dari sana. Pelajaran utama yang saya dapat: jangan serakah”.

“Jangan wishful thinking tapi juga jangan pernah putus asa. Jangan sampai ikutan euforia tanpa menghitung secara cermat. Perjalanan (bisnis) itu panjang dan tidak boleh putus asa.

Semoga bermanfaat.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni,
Owner, Manet Busana Muslim

NB – FYI: Film baru, The Next Internet Millionaire segera tayang 15 Agustus 2007 (di TV luar lho). Film ini adalah serial TV, mungkin model The Apprentice-nya Donald Trump. Film yang diproduseri oleh Joel Comm, seorang internet marketer ternama ini juga dibintangi oleh Joe Vitale.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s