Business

Dilema Alih Generasi

Saya dan istri dilahirkan dari keluarga pedagang.

Almarhum ayah saya mewarisi bidang usaha garment, terutama di bidang ritel fashion. Bisnis ini yang kemudian digeluti oleh saya dan kedua adik saya sampai sekarang. Meski pun cara bisnisnya beda, tapi masih di line yang sama.

Berbeda dengan keluarga istri saya. Almarhum ayah mertua saya mewarisi bisnis di bidang perlengkapan rumah di Palembang yang sekarang ini dilanjutkan oleh ibu mertua saya. Barang yang dijual seperti seprai, karpet, sajadah, selimut dan lain-lain.

Dari bisnis inilah kemudian istri saya dan ketiga adiknya bisa meneruskan pendidikannya sampai tamat kuliah.

Masalahnya sekarang adalah, dari keempat bersaudara itu tidak ada yang berminat meneruskan bisnis ini. Mereka semua punya minat dan ingin mengembangkan bisnisnya sendiri-sendiri.

Istri saya bersama saya berbisnis di bidang garmen. Dua adik perempuannya berbisnis sepatu. Adik bungsu laki-lakinya lebih tertarik di bisnis fotografi dan yang berhubungan dengan otomotif.

Lantas, siapa yang akan melanjutkan warisan bisnis ini?

Itulah pertanyaan dilematis.

Di satu sisi, bisnis ini berpotensi besar untuk dikembangkan.

Di sisi lain, masing-masing anaknya ingin merintis sesuatu yang baru, yang berbeda, yang mereka sukai.

“Masak anak gaul jualan seprai? Nggak keren, dong!” kata ipar bungsu saya.

Dia lebih suka berbisnis gaya anak muda yang ‘gaul’. Baginya, nongkrong di toko jualan seprai dan karpet itu tidak menantang lagi. Dia ingin sesuatu yang baru. Sesuatu yang benar-benar merupakan ide orisinilnya.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di keluarga kami. Saya juga mengamati hal serupa terjadi di banyak keluarga lain di lingkaran sanak famili saya.

Almarhum paman saya adalah mantan orang terkaya di Tanah Abang. Beliau termasuk perintis di sana. Sepeninggalnya, nama besar itu sekarang tinggal kenangan. Apalagi setelah beberapa tokonya habis dilalap api tahun 2003 lalu. Anak-anaknya sekarang berbisnis yang tidak ada kaitannya dengan bisnis orang tuanya. Sayang, memang.

Tante saya yang lain terpaksa menutup beberapa tokonya di Tanah Abang, lantaran anak-anaknya tidak mau meneruskan bisnisnya. Alasannya juga sama, ingin merintis bisnis yang lain.

Haruskah hal ini juga terjadi di keluarga istri saya? Saya tidak tahu. Kalau terjadi, sangat disayangkan juga.

Just a thought…. Tapi ini adalah fakta yang terjadi…

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni,
Owner, Manet Busana Muslim

NB – Laptop saya lagi error. Tidak bisa akses internet. Mungkin kena virus. Jadi, untuk sementara ngeblognya curi-curi waktu sela di kantor dulu sambil menunggu laptopnya diperiksa dan diperbaiki. Harap maklum ya…

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s