Business

Nggak Enaknya Jadi TDA

Dari sekian banyak postingan saya, selalu cenderung menceritakan enaknya jadi TDA. Padahal, banyak hal yang nggak enak juga yang harus ditelan oleh seorang TDA.

Berikut ini adalah hal-hal yang nggak enak menjadi seorang TDA berdasarkan pengalaman saya dan beberapa kasus yang saya temukan:

1. Tidak ada jaminan apa pun. Menjadi TDA berarti bersedia hidup tanpa jaminan dan kepastian. Anda tidak dijamin pendapatannya bulan depan akan meningkat atau menurun. Tidak ada jaminan sukses sebagai TDA. Tidak ada jaminan kesehatan, asuransi dan pendidikan anak-anak anda.

2. Bekerja keras tak kenal waktu di awal pendirian usaha. Ini saya alami dan juga sebagian besar TDA yang mulai berbisnis. Saya pernah bekerja nonstop sepanjang tahun 7 hari seminggu dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam. Pendapatan pun pas-pasan.

3. Ketika bisnis masih kecil, tidak ada yang menoleh kepada anda. Saya beberapa kali mengajukan aplikasi kartu kredit dan semuanya ditolak dengan alasan (mungkin) kurang kredibel. Karena saya tidak punya jaminan slip gaji. Karena rekening di bank masih morat marit.

4. Menjadi TDA tidak elit, tidak keren. Saat berkonsultasi setiap bulan dengan Pak Tung tahun 2003-2004 lalu kami selalu bertemu di Hotel Peninsula. Setiap kali ke sana saya selalu direpotkan harus membersihkan sepatu yang kotor dan berdebu. Sebab sepatu saya yang kotor itu akan jelas terlihat di lantai hotel yang mewah dan kinclong itu. Hal ini jelas beda dengan sebagian TDB yang bekerja di gedung bertingkat dan ber-AC yang kesehariannya selalu berpenampilan necis, rapi dan wangi.

5. Risiko dipikul sendiri. Rugi? Bangkrut? Sakit? Anak atau istri anda sakit? Ya, semua itu ditanggung sendiri. Kalau sakit, anda harus sedia uang kontan ketika berobat. Enam tahun berkeluarga dan belum dikaruniai anak membuat keuangan kami sebagian besar tersedot untuk berobat.

6. Harus tahu sedikit tentang banyak hal, atau menjadi generalis. Hal ini terpaksa dilakukan mengingat terbatasnya sumber daya yang dimiliki. Anda harus bisa membuat, bisa menjual, bisa akuntansi, bisa mengelola keuangan, bisa negosiasi, bisa mengelola konflik dan sebagainya. Pelajaran akuntansi termasuk yang saya benci ketika kuliah. Saat bisnis membutuhkan pengetahuan akuntansi, apa boleh buat, terpaksa saya pelajari juga.

7. Sendirian. Menjadi TDA berarti anda sendirian dalam mengambil keputusan, sendirian dalam menghadapi masalah. Mau mengadu kepada siapa? Hal inilah yang saya rasakan saat di ambang kebangkrutan dulu. Tak ada tempat mengadu dan berkeluh kesah seperti sekarang. Tak ada TDA, mastermind dan puluhan blog inspiratif itu.

8. Masalah bisnis, kadang merembet ke dalam urusan rumah tangga. Hal ini tidak bisa dihindari. Saat makan malam di meja makan pun topik bisnis bisa menyelinap ke dalam pembicaraan dan kerap memicu ketegangan. Padahal, saya telah membuat aturan: tidak ada pembicaraan soal bisnis di rumah. Tapi tetap saja sulit dicegah.

7. Bisnis bisa membelenggu dan mendikte kebebasan kita. Selalu ada saja yang perlu ditangani. Selalu ada saja masalah yang timbul yang perlu penangangan cepat. Waktu 24 jam dan 7 hari sepekan kadang dirasakan tidak cukup. Selalu saja kurang. Untung saja, doa Ali bin Abi Thalib selalu teringat: Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggamanku, tapi tidak dalam hatiku. Meski pun masih belajar menerapkannya, tapi nasehat ini begitu tepat untuk mengingatkan kita.

8. Kualitas dan gaya hidup menurun. Kesibukan dan tata waktu yang sembrono berakibat pada kualitas hidup yang menurun. Makan tidak teratur, jarang olah raga, tidur kurang. Dampak lain, aspek ruhiyah dan humaniora pun ikut tercemar. Fokus jadi sempit, seolah-olah tidak ada hal lain di dunia ini kecuali bisnis. Saya pernah melewati masa seperti ini.

9. Ditipu atau dikerjain orang. Ini juga berulang kali saya alami. Begitu lulus kuliah, saya dimodali orang tua beberapa puluh juta dan langsung ludes ditipu orang dalam waktu hanya seminggu. Pengalaman ini tidak hanya sekali, melainkan berulang kali. Kita sudah hati-hati, tapi tetap aja terjadi. Forgive and forget it. Itu saja yang bisa saya lakukan. Ikhlas saja.

Wah, kalau dilanjutkan, daftarnya akan panjang sekali. Mungkin anda bisa menambahkan dengan pengalaman anda sendiri.

Tapi saya tidak menyesal jadi TDA. Ini adalah pilihan hidup saya, meski pun berawal dari tidak adanya pilihan. Ini adalah jalan hidup saya yang insya Allah menjadi jalan penuh berkah dan senantiasa di bawah perlindungan Allah. KepadaNyalah segala pinta dan harap digantungkan.

Saya bangga menjadi TDA. Saya akan tetap berada di jalur ini, apa pun risikonya. Insya Allah…

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni
Owner, Manet Busana Muslim

NB – Kemarin saya dapat undangan ngobrol santai dengan penulis novel laris Laskar Pelangi, Andrea Hirata di Kafe Omah Sendok, Senopati hari Sabtu malam. Saya langsung mengiyakan. Ini pasti menarik. Cuma, masalahnya saya belum menyentuh novel yang masih menunggu giliran dibaca itu. Padahal saya sedang membaca The Kite Runner-nya Khaled Hosseini. Saya harus segera menamatkannya, agar bisa membaca Laskar Pelangi, biar tidak tulalit di hari Sabtu nanti.

Iklan
Standar

3 thoughts on “Nggak Enaknya Jadi TDA

  1. herryhasibuan berkata:

    mindset! hati2 mindset anda jika baca postingan ini.. terdorong ke belakang atau terdorong ke depan? saya pilih terdorong ke depan 🙂

    Suka

  2. Badroni Yuzirman berkata:

    @Herry Hasibuan: Saya tidak cerita yang indah2 aja mengenai TDA. Yang pahit juga. Tapi dibandingkan pahitnya, manisnya jauuuuh lebih banyak.

    Suka

  3. enjang berkata:

    Terima kasih Pa Roni sudah mengingatkan saya hal buruk jadi TDA.
    Insyaallah tidak akan menyurutkan langkah saya untuk full TDA.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s