Books and Learning, Indonesiaku, Life

Menyesal, Belum Sempat Baca Laskar Pelangi

Sabtu malam minggu kemarin saya menghadiri dialog dengan Andrea Hirata, penulis novel terlaris dan fenomenal: Laskar Pelangi di Kafe Omah Sendok, milik Pak Wasis, salah seorang member TDA.

Diskusi ini juga dihadiri beberapa ‘orang penting’ seperti Din Syamsuddin (Ketua Umum Muhammadiyah), Riri Riza (sutradara beken) dan Mira Lesmana (produser), yang berniat untuk melayarlebarkan novel ini.

Saya sempat bengong mendapati begitu banyaknya apresiasi terhadap novel bertemakan pendidikan ini. Novel ini menjadi perbincangan di mana-mana. Para kritikus dan pengamat sastra memuci debut Andrea Hirata dengan novel pertama yang langsung mempesona siapa saja pembacanya.

Diskusi di gelar di mana-mana. Skripsi, tesis dan disertasi banyak merujuk novel ini sebagai objek penelitiannya. Novel ini juga menjadi best seller di Malaysia. Para pakar dan birokrat lintas sektoral terinspirasi oleh isi novel ini dan ingin menjadikan novel ini sebagai rujukan kebijakannya.

Bahkan, ketua Muhammadiyah pun tak pelak mengakui merasa ‘tersentil’ oleh buku yang telah mengalami cetak ulang berulang kali sejak 2005 ini.

Apa istimewanya novel ini?

Mengapa novel ini menjadi fenomena sampai Ketum Muhammadiyah merasa harus menghadiri diskusi malam itu?

Jawabannya, silakan baca sendiri novelnya. Saya pun baru baca beberapa halaman pembuka.

Terus terang, novel ini begitu memikat dari awal bab pertama. Sulit mata saya berpaling dari untaian kalimat cerdas, lucu sekaligus ironi dari goresan Andrea Hirata yang oleh sebagian kritikus dijuluki sebagai ‘seniman kata-kata’ ini.

Yang jelas, saya menyesal belum sempat membaca buku ini sejak dibeli beberapa bulan lalu. Perhatian saya begitu tersedot oleh bacaan-bacaan bisnis yang tak pernah habis.

Perkembangan sastra luput dari perhatian saya. Jadilah, saat ini saya merasa tertinggal oleh perkembangan baru ini. Saya baru ‘ngeh siapa itu Andrea Hirata setelah heboh di mana-mana. Saya tertinggal.

Tapi, better late than never. Sekarang saya lagi kejar menamatkan buku pertama dari empat seri tetralogi Laskar Pelangi itu.

Saya yakin buku ini adalah buku yang dinantikan oleh para pelajar, para pendidik, para orang tua, para pengambil kebijakan, dan kita semua yang peduli dengan kemajuan bangsa melalui pendidikan.

Andrea Hirata telah sukses mendobrak dominasi sastra ‘wangi’ yang diusung oleh Fira Basuki, Ayu Utami dan Jenar Maesa Ayu itu. Terus terang, saya merasa jenuh dan ingin sesuatu yang baru di dunia sastra saat ini. Sastra saat ini mirip sinetron yang hedonis, tanpa spirit dan tidak menginspirasi sama sekali itu. Alhamdulillah, Andrea berhasil mendobraknya setelah Habiburrahman El Shirazy dengan Ayat-Ayat Cinta-nya itu.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni,
Owner, Manet Busana Muslim

NB – Bagi yang punya keluangan waktu, nanti malam ba’da Isya ada Aa Gym di Masjid BI. Kita ketemu di sana ya. Biar hati tambah adem dan siap menyambut datangnya bulan Ramadhan…

Iklan
Standar

One thought on “Menyesal, Belum Sempat Baca Laskar Pelangi

  1. ksastra berkata:

    :), laska perlangi emang luar biasa mas, metafornya ndak nguatin je…
    rasanya masih lebih bagus dibanding sang pemimpi dan edensor yang masih jadi satu paket trilogi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s