Business

Naif

Tulisan Pak Fauzi menyentak saya. Kalau dibilang naif, sayalah yang paling sering dapat pelajaran dari kenaifan itu. Tapi, kalau dipikir-pikir justru karena kenaifan itulah akhirnya mengantarkan saya sampai seperti sekarang ini.

Saya menjadi realistis akhirnya. Ya sudah, saya nggak mau kualat sama orang tua, akhirnya terjun di bisnis garmen lagi.

Padahal waktu itu saya masih gengsi untuk menyentuh bisnis ini. Maka, bertualanglah saya ke dalam berbagai kenaifan itu: bisnis komputer, bikin sekolah komputer, bikin BMT, bikin pabrik roti, bisnis ATK, bisnis kayu, ikut MLM, yang semuanya berujung pada kesadaran bahwa saya berbisnis cenderung naif, pakai asumsi-asumsi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pun ketika bisnis saya berkembang dan menukik tajam di tahun 2003 lalu. Awalnya dari kenaifan seperti ini juga.

Menyesal? Tidak boleh, kata Richard Branson. Nanti juga anda akan lupa lagi, katanya. Dan benar, semua itu sekarang saya lupakan dan justru saya syukuri. Karena “petualangan” bisnis saya tidak kalah “gagahnya” dengan Sir Richard ini.

Persoalannya antara saya dan Richard Brandson ini cuma, kami beda “gelombang”. Ya, beda gelombang. Saya gelombangnya masih di nilai miliaran, sedangkan dia sudah triliunan. Masalah yang dihadapi juga sama, tapi tetap beda gelombang.

Makanya, perlu pindah gelombang. Kalau di TDA, gelombang baru itu adalah TDA 11 Digit Club.

Salam FUUUNtastic!
TDA 11 Digit Club, The Real TDA Challenge

Wassalam,

Roni,
Owner, Manet Busana Muslim
Founder, Komunitas TDA

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s