Books and Learning, Business

Belajar dari Kenaifan Itu…

It’s better to light a candle, than to curse the darkness.

Kata-kata itu memang tepat bagi saya ketika harus mengakui kesalahan dalam berbisnis dan harus memulai lagi segalanya dari awal.

Namun, dari semua “petualangan” itu, tidak saya sesali, karena itu semua meninggalkan “jejak” pengalaman yang sangat berharga bagi saya sampai sekarang.

Tidak ada istilah gagal, kata Pak Tung, guru dan sahabat saya. Yang ada adalah belajar. Kalau anda tidak mendapat pelajaran dari kegagalan, itulah kegagalan yang sesungguhnya. Kata-kata itu saya pegang sampai sekarang.

Kalau saya boleh mengenang, berikut ini beberapa pelajaran yang saya ambil dari “petualangan-petualangan” bisnis itu:

1. Berbisnis MLM, tahun 1994-an, ketika masih kuliah. Saya gagal karena memang berhenti di tengah jalan. Kalau saya teruskan, mungkin ceritanya akan lain sekarang.

Namun, ada beberapa ganjalan di hati saya ketika itu. Kami dicekoki paham-paham yang membuat kami menjadi fanatik buta. Membuat saya menjadi seorang yang berkaca mata kuda dalam melihat orang lain. Orang yang negatif, saya anggap sebagai “pencuri mimpi”, tidak baik didekati. Lama-lama hubungan saya menjadi tidak rileks dengan teman-teman. Hubungan saya menjadi manipulatif. Semua orang yang saya kenal saya anggap sebagai prospek.

Positifnya, dari bisnis inilah saya mulai mengalami pertumbuhan pribadi, jadi lebih percaya diri. Saya jadi gemar baca buku-buku personal development yang membuat pikiran dan mental jadi positif. Dampaknya masih terasa sampai sekarang.

Bisnis MLM itu baik, menurut saya. Tapi, jangan dianggap seperti agama baru begitulah… Santai aja…

2. Bisnis sekolah komputer, ketika masih kuliah juga. Saya bersama 4 orang teman senior berencana membangun sebuah sekolah setara D-1 di bidang komputer. Idenya berasal dari seorang teman yang sukses di Bandung dan suksesnya LP31 cabang Pasar Minggu. Kebetulan salah seorang tim kami adalah anak dari pemilik ruko yang disewa oleh LP31 itu. Kami berniat mengambil alih ruko itu berdasarkan kedekatan itu, karena modal uang juga tidak ada.

Berbulan-bulan kami mempersiapkan semuanya. Kurikulum, cashflow, tenaga pengajar. Saya kebagian di marketing. Si pemilik ruko pun telah meng-iyakan permintaan kami, yaitu meminta pembayaran sewa di belakang, setelah cash flow kami masuk selama setahun.

Tapi kenyataan berbalik 180 derajat ketika si pemilik mengalami kecelakaan dan butuh biaya berobat ke Singapura. Ia kemudian ditawari uang cash di depan oleh penyewa ruko itu. Gagallah rencana kami.

Pelajaran yang dipetik: jangan mengandalkan kepada satu alternatif pilihan saja. Ketika tidak tercapai, hancurlah semua proses panjang dan melelahkan itu.

3. Berbisnis roti, ketika kuliah juga. Saya bersama 6 orang teman sepakat mendirikan pabrik roti murah kelas warung yang bisa dijual seharga lima ratus rupiahan. Sebenarnya saya kurang setuju dengan ide ini. Saya memegang prinsip bisnis orang Cina, kuasai dulu pasar, baru bikin pabrik. Tapi, karena ini adalah keputusan kelompok, saya mau tidak mau harus menerimanya.

Salah satu anggota tim pun kemudian dilatih menjadi manajer pabrik. Awalnya bisnis lancar. Permintaan meningkat terus. Tapi, skala ekonomis tak kunjung diraih. Maklum, marjinnya sangat tipis sekali.

Akhirnya kami pun menyerah. Prediksi awal saya jadi kenyataan. Kami terbebani oleh mesin-mesin yang menganggur dan sulit dijual.

Pelajaran yang dipetik: jangan masuk bisnis yang marjinnya terlalu tipis. Kuasai pasar dulu, sebelum membangun pabrik.

4. Berbisnis hardware dan service komputer, ketika kuliah. Ini pun bersama keenam teman yang terdahulu. Gagal lagi. Lebih besar effort-nya ketimbang hasil.

Pelajaran yang dipetik: kita bisnis cari profit, bukan kerja bakti :-).

5. Mendirikan lembaga keuangan syariah, Baitul Maal wat Tamwil (BMT), ketika kuliah. Misinya adalah sosial dan bisnis. Bersama 6 orang teman itu, saya mencoba berdakwah di bidang iqtisodi, ekonomi.

Ternyata, kenyataan di lapangan tidak mudah. Sulit sekali membangun bisnis yang dibebani muatan sosial yang tinggi. Keberatan beban. Secara bisnis, cukup berpeluang. Secara praktek, sulit karena beban dua hal itu. Akhirnya, bisnis pun kedodoran.

Pelajaran yang dipetik: sulit mencampur adukkan misi bisnis dan sosial. Bisnis ya bisnis. Kalau mau sosial, sisihkan sebagian keuntungannya untuk itu. Atau dirikan lembaga terpisah dari bisnis inti.

6. Bisnis alat tulis kantor (ATK), selepas kuliah. Ini tercetus karena saya punya langganan yang terkenal murah di Mangga Dua. Saya dan seorang teman sepakat untuk mensupply kebutuhan teman-teman yang sedang membuat skripsi di kampus. Kebetulan saya adalah mantan pengurus organisasi kemahasiswaan tingkat universitas, jadi punya akses untuk menitipkan dagangan di markas organisasi itu. Hasilnya? So – so aja. Lumayan buat jajan aja. Tidak dilanjutkan.

Pelajaran yang dipetik: kalau iseng-iseng doang, hasilnya juga iseng-iseng :-).

7. Berbisnis kayu, selepas kuliah. Bisnis ini menyedot modal cukup besar ketika itu. Beberapa investor terlibat, termasuk orang tua saya.

Nilai ordernya menggiurkan, dalam mata uang dolar, karena memang ditujukan untuk ekspor. Kami mensupply ke sebuah perusahaan eksportir.

Ternyata, bisnis ini hanyalah alih daya semata. Alih daya dalam arti sesungguhnya, yaitu risiko. Semua risiko ada di tangan kami, si eksportir tinggal terima beres.

Bisnis model ini juga terlalu banyak uncontrollable factornya. Terlalu banyak layer-layer yang harus dilalui dan setiap layer itu punya peran vital.

Modal kami puluhan juta langsung ludes dalam hitungan hari saja. Ini berdampak kepada cash flow yang pembayarannya sangat lama.

Nilai tambah dari bisnis ini tidak berada di tangan kami, tapi di tangan eksportir. Kami hanyalah “tukang” yang nasibnya ditentukan oleh majikan. Meski pun diiming-imingi keuntungan menggiurkan.

Akhirnya, bisnis ini pun gagal total dan menyisakan luka yang cukup dalam. Para investor pun meminta uangnya dikembalikan. Kejadian ini membuat saya terpukul. Sudah jatuh tertimpa tangga.

Berbulan-bulan saya harus menghadapi tuntutan para investor ini. Makanya, saya tidak begitu suka dengan konsep BODOL (berani optimis duit orang lain) itu. Kalau bisnisnya tidak jelas konsep, nilai tambah dan pengelolanya, jangan coba-coba melakukan BODOL ini. Bisa jadi DODOL beneran!

Pelajaran yang dipetik:
– bisnis harus punya konsep dan nilai tambah yang jelas
– kontrol harus di tangan kita, jangan diserahkan kepada orang lain
– hati-hati memilih team work
– jangan coba-coba BODOL kalau bisnisnya nggak jelas konsep dan nilai tambahnya.

9. Menjadi konsultan sistem, selepas kuliah. Saya bergabung dengan 2 orang teman. Kami mendapat proyek membuat sistem akuntansi komputer di sebuah perusahaan keluarga di Sumatera. Tugas saya adalah membuat sistem manual dan teman yang lain sebagai programmernya. Pekerjaan saya dapat saya tuntaskan dengan sukses dan disambut gembira oleh klien itu.

Masalah timbul ketika giliran programmernya menyatakan tidak sanggup melanjutkan pekerjaannya. Itu pun disampaikannya setelah berbulan-bulan proyek terkatung-katung tak jelas ujung pangkalnya.

Kekecewaan tentu saja tertuju kepada kami sebagai satu tim. Padahal, tugas saya pribadi sudah selesai dengan baik.

Pelajaran yang dipetik: hati-hati memilih partner. Salah-salah bisa merugikan nama baik kita.

8. Setelah itu saya pun tersadar, bahwa yang dalam genggaman saya itu lebih berharga dibandingkan yang masih di angan-angan itu. Yang saya maksud dalam genggaman itu adalah bisnis warisan orang tua di bidang ritel pakaian (garmen).

Akhirnya, bersama adik, saya turut saran ibu saya. Dimodali toko dan modal kerja untuk bersama-sama membangun bisnis ritel yang telah menghidupi kami sekeluarga selama ini.

Hasilnya pun ternyata lumayan. Apalagi setelah saya dalami ilmu ritel dari bacaan-bacaan tentang itu. Yang sangat mempengaruhi saya adalah buku biografinya Sam Walton, pendiri Wal Mart.

Satu lagi kelebihan dari bisnis ini adalah, karena direstui oleh orang tua. Saya yakin dan percaya hal itu. Apa pun yang kita lakukan, kalau tidak direstui orang tua, hasilnya akan sia-sia.

Mengenai ritel ini insya Allah akan saya tulis lagi di lain kesempatan. Yang jelas, menarik dan menantang.

Cerita ini sebenarnya masih panjang dan banyak hikmah yang saya peroleh. Cuma, nantinya tulisan ini jadi kepanjangan.

Kalau dibilang naif, ya saya akui itulah kenaifan saya dalam berbisnis. Saya menggunakan asumsi-asumsi yang belum teruji dan kurang matang. Tapi, apa mau dikata? Nasi sudah jadi bubur. Ketimbang meratapi, kenapa bubur itu tidak ditaburi irisan daging ayam, cakwe, kecap, kacang kedele? Jadilah bubur ayam spesial, kata Aa Gym.

Success is a lousy teacher. Sukses itu adalah guru yang buruk. Justru kegagalanlah guru yang terbaik. Saya setuju.

Saya pernah berbincang dengan dua orang teman yang sama-sama konsultan bisnis. Teman A adalah konsultan yang juga matang pengalaman berbisnis. Konsultan B adalah seorang penulis buku terlaris dan baru berbisnis kurang dari setahun.

“Berapa kali anda gagal dalam berbisnis?”, tanya si A kepada si B. “Belum pernah”, jawab si B kalem.

“Kalau begitu saya tidak percaya dengan anda. Saya tidak percaya dengan orang sukses yang tidak pernah gagal”, lanjut si A.

Semoga bermanfaat.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni,
Owner, Manet Busana Muslim

NB – Bentang Pustaka mengundang seluruh pencinta buku, khususnya pembaca tetralogi Laskar Pelangi untuk hadir dan menjadi peserta dalam proses rekaman wawancara Andrea Hirata di acara Kick Andy pada:

Rabu, 19 September 2007
Pukul 19.00 WIB
Di Grand Studio Metro TV

Acara ini akan ditayangkan pada
Kamis, 4 Oktober 2007
Pukul 22.05 WIB

dan ditayangkan ulang pada
Minggu, 7 Oktober 2007
Pukul 15.05 WIB

Untuk pendaftaran dan keterangan lebih lanjut,
silakan hubungi 021-58300077 Ext: 11306

Atau Ibu Indri: 021-70404053
Setiap hari senin sampai jumat dari pukul 10.00 sampai 16.00

Atau bisa juga mendaftar dengan mengunjungi www.kickandy. com dan ikuti petunjuknya.

Ada 250 buku gratis dari Bentang Pustaka bagi peserta/penonton di studio.
———— ——— —–
PT BENTANG PUSTAKA
Jl. Pandega Padma No. 19 Yogyakarta 55284 Indonesia
Phone 62-274-517373 Fax 62-274-541441
www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
www.cpublishing.blogspot.com

Iklan
Standar

2 thoughts on “Belajar dari Kenaifan Itu…

  1. OrangeMood berkata:

    Pengalamannya hampir sama, 5x bisnis, gagal/jatuh dan selalu siap bangun lagi… see u at the top! 🙂

    >>>
    Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant & Motivational Blogger

    Suka

  2. Daniel berkata:

    Saya salut dengan Mas Roni. Jatuh bangun tanpa mengenal lelah untuk berbisnis. Terima kasih atas sharing pengalaman mas. Ini sangat membantu saya dalam menjalankan bisnis kecil2an yg baru saya mulai

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s