Life

Perjalanan Panjang Menanti Si Buah Hati

Beberapa email masuk ke inbox saya yang menanyakan bagaimana prosesnya kami hingga bisa mendapatkan buah hati setelah lebih dari 6 tahun menunggu.

Ternyata ada juga beberapa teman dan pembaca blog ini yang mengalami kesulitan seperti kami saat ini.

Dokter Enud Suryana adalah orang yang membantu seluruh proses itu.

Jika kami boleh berandai-andai, saya dan istri akan berkata, “Kenapa nggak dari dulu ya kita ketemu dokter Enud?”

Tapi itu semua tidak boleh disesali. Semua proses panjang itu penuh hikmah dan makna.

Justru dari perjalanan panjang dan berliku itulah kami akhirnya bertemu dengan dokter yang telah membukakan amanah Allah lewat tangannya ini.

Kami menikah bulan April 2001.

Sebagai pasangan baru menikah, tentu kami lagi semangat-semangatnya untuk mengejar impian, salah satunya adalah kesuksesan dalam berbisnis. Begitu menikah, kami langsung tancap gas membuka 2 toko di Tanah Abang dan Pluit.

Usia kami masih begitu muda ketika itu. Saya 27 tahun, istri 24. Kami pun menikah tanpa pacaran terlebih dahulu. Jadi, periode pacaran kami adalah setelah menikah.

Di bulan keempat pernikahan kami sempat memeriksakan diri ke dokter untuk menanyakan kenapa belum ada tanda-tanda kehamilan.

Respon si dokter kurang simpatik. Kami dianggap kurang sabar. Jika belum ada tanda-tanda juga setelah setahun barulah berobat, katanya.

Pernyataan dokter ini membuat istri saya kecewa dan cukup terpukul. Hal ini mengakibatkannya trauma dan tidak mau menemui dokter dalam waktu cukup lama.

Setelah itu, kami pun kembali tenggelam dalam kesibukan berbisnis. Berbisnis yang begitu menyita waktu, pikiran dan tenaga.

Sampai saya berpikir, tidak mungkin untuk punya anak saat itu. Waktu kami nyaris habis untuk berbisnis.

Hal inilah yang kemudian saya sadari sebagai sebuah kesalahan berpikir. Kita yang seharusnya mengendalikan bisnis itu, bukan sebaliknya.

Periode 2002 – 2003 adalah saat yang cukup berat bagi kami. Adalah tidak mungkin bagi kami untuk mengikuti proses pengobatan yang panjang dan berbelit ketika itu. Kami pun bersepakat untuk memasrahkan diri saja ketika itu.

Situasi dan kondisinya jelas tidak memungkinkan. Kami mengelola 3 toko sekaligus. Bayangkan, untuk menikmati makan siang tepat waktu saja kami sulit.

Di sisi lain, saya pun merasa tertantang sebagai seorang suami. Saya harus menciptakan kondisi yang kondusif untuknya jika ingin hamil. Kondisi saat itu jelas tidak mendukung.

Statusnya sebagai “wanita karir” yang super sibuk saat itu harus saya ubah jika ingin hamil nanti.

Meski begitu, di antara waktu yang sempit itu kami masih tetap berikhtiar. Di antaranya adalah mengikuti saran dari sanak keluarga untuk mengikuti pengobatan alternatif. Beberapa klinik kami datangi selama kurun waktu itu namun hasilnya masih nihil. Malah kebingunan yang didapat. Di tempat yang satu istri saya dikatakan “kandungannya tinggi”, di tempat lain “kandungannya dingin”, dan sebagainya.

Alhamdulillah, di awal tahun 2004 kondisi kami berubah 180 deraja. Kami tutup semua toko di Tanah Abang dan memulai lagi dari garasi rumah. Memang, semua itu berawal dari “kecelakaan”. Namun, menurut kami itu adalah “kecelakaan yang membahagiakan”.

Sejak itu kami boleh dikata memiliki time freedom. Jika ingin mengikuti proses pengobatan, kapan pun dan di mana pun, insya Allah bisa kami ikuti.

Melalui milis ingintimang@yahoogroups.com, kami mendapat informasi tentang klinik Yasmin, RSCM.

Kami pun ke sana. Sebelum berobat, kami memastikan di sana ada dokter kandungan wanita. Karena saya dan istri lebih sreg dengan dokter wanita ketimbang pria.

Akhirnya kami pun berobat di sana selama kurang lebih setahun delapan bulan. Beberapa sumber penyebab telah diketahui dan diobati. Inseminasi pun telah dilakukan sebanyak 2 kali. Namun, si janin tak kunjung hadir juga.

Sampai di satu titik, dokter tersebut seperti “menyerah”. “Ilmu kedokteran belum bisa menemukan cara untuk kasus sepert ini”, katanya.

Lemaslah kami.

Tapi saya tidak yakin dengan vonis itu. Mesti ada jalan, batin saya.

Di saat keputusasaan memuncak itu, Allah memberi jalan. Dokter itu cuti untuk beberapa lama karena harus mengikuti seminar di luar negeri.

Kami pun memutuskan untuk berobat ke dokter lain. Pilihan jatuh kepada dokter Enud Suryana. Nama ini sudah kami kenal. Di milis, majalah, dan dari mulut ke mulut, nama dokter ini sering disebut sebagai dokter yang bertangan dingin dan berhasil membantu pasien dengan kasus-kasus berat yang sulit ditangani oleh dokter-dokter lain.

Kami pun mencoba dengan beliau, meski pun harus antri cukup lama menunggu giliran. Alhamdulillah, doa dan ikhtiar kami dijawabNya. Di bulan ketiga berobat dengan dokter Enud, istri saya dinyatakan positif hamil.

Proses kehamilan sampai melahirkan pun kami lalui dengan tidak mudah. Karena masalah yang dihadapi istri saya cukup kompleks, maka proses itu harus dijalani dengan cukup berat, berbelit-belit, dituntut kesabaran dan biaya tidak sedikit. Sampai akhirnya berakhirlah semua penantian itu tanggal 20 kemarin. Alhamdulillah.

Semoga bermanfaat.

Wassalam,

Roni,
Masih di ruang Carnation lt.2, RS MMC

NB – Saat ini dokter Enud tidak lagi praktek di Klinik Yasmin, RSCM. Jika ingin berobat dengan dokter Enud, silakan datang ke RS MMC. Setelah bulan November, beliau pun pensiun di MMC dan katanya akan buka klinik sendiri di daerah Duren Tiga.

Iklan
Standar

One thought on “Perjalanan Panjang Menanti Si Buah Hati

  1. Ikhwan Sopa berkata:

    Sekali lagi, selamat Pak Roni dan Bu Roni. Semoga si kecil menjadi anak yang sholeh, bertakwa kepada Allah SWT, dan berbakti kepada kedua ibu dan bapaknya. Kesabaran Pak Roni telah membuahkan hasilnya.

    Selamat dan sukses,

    Ikhwan Sopa
    Master Trainer E.D.A.N.
    http://milis-bicara.blogspot.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s