Business

Pengusaha Muda dan Sukses Itu Kini Terlilit Masalah

Cerita ini adalah salah satu oleh-oleh yang dibawa oleh tamu di rumah sakit saat berkunjung.

Different people, different place, different story.

Kali ini yang bercerita adalah seorang paman yang pengusaha grosir sepatu di Bogor, tepatnya di Pasar Anyar.

Para pengusaha di sana saat ini banyak yang menggigit jari, gemas. Pasalnya, pasar yang beberapa bulan ini begitu “dingin”, tapi menjelang puasa begitu “panas” sehingga mereka kehabisan stok. Mereka tidak mengantisipasi peningkatan penjualan setinggi ini.

Saya hanya tersenyum mendengar cerita ini. Happy problem. Saya juga mengalaminya saat ini.

Satu lagi cerita yang cukup mengagetkan adalah tentang D***y, seorang pengusaha muda yang terbilang sukses di sana. Usianya belum genap 30. Tapi sepak terjangnya diakui dan mengundang decak kagum para pemain di sana.

Tokonya selalu ramai. Saking ramainya, bahkan para pedagang sering berebut begitu produk datang dari pabrik/bengkelnya.

Hal ini terjadi tidak hanya setahun atau dua tahun saja. Tapi bertahun-tahun. Ini membuktikan kepiawaiannya menjalankan bisnis tersebut.

Soal harga, produknya terbilang mahal. Tapi memang ia punya “taste” cukup tinggi soal model dan tren terbaru, terutama sepatu wanita. Produknya menjadi trend setter di sana.

Satu per satu aset pun diperolehnya. Mulai dari kendaraan, toko, rumah dan aset properti lainnya. Profilnya pernah dimuat oleh tabloid Peluang Usaha beberapa bulan lalu.

Namun, kondisi saat ini sedang tidak berpihak kepadanya. Bukan karena bisnisnya melorot. Bukan karena ia mulai ditinggalkan pelanggan.

Ini disebabkan oleh kelemahannya dalam mengontrol bisnis.

Ia membuka sebuah cabang yang pengelolaannya diserahkan kepada salah satu karyawannya yang sudah berpengalaman. Karyawan ini telah ikut bersamanya sejak membangun bisnis dari awal.

Berdasarkan pertimbangan itulah, akhirnya karyawan ini dipercaya untuk mengelola cabang baru dengan modal yang cukup besar.

Singkat cerita, saat ini ia sedang terlilit masalah dengan jumlah utang piutang lebih dari Rp. 1 miliar. Rupanya, si orang kepercayaan ini telah diberi keleluasaan penuh untuk menjalankan bisnisnya hingga ia lepas kontrol.

Banyak piutang tak tertagih menumpuk di tangan pelanggan. Sementara utang kepada supplier dan tukang juga demikian.

Kalau seratus dua ratus juta saja, mungkin tidak menjadi masalah baginya. Tapi, kalau sudah mencapai 1 miliar, mau tak mau membuatnya “goyang” juga.

Pertanyaannya, kenapa hal ini sampai terjadi? Kenapa ketika di awal “pendarahan” ini tidak terdeteksi?

Pasalnya, ia tidak melalukan kontrol terhadap bisnisnya ini. Ia hanya sempat menengok bisnisnya 3 bulan sekali.

Ooooo. Pantas.

Saya teringat dengan 2 pengusaha cukup senior yang mengalami hal serupa. Keduanya termasuk piawai dalam berbisnis.

Kejadiannya sama. Dengan lemahnya kontrol, uang kas perusahaan pun jebol beberapa miliar. Setelah dihitung, ternyata piutang tak tertagih telah menggunung, sementara tagihan utang datang bertubi-tubi.

Semua ini karena lemahnya kontrol ke dalam, terutama manajemen arus kas.

Ketiga pengusaha di atas adalah tipe pendobrak, striker. Ibarat pembalap, ia jarang menginjak rem. Pedal gas terus yang diinjaknya.

Mbok ya sekali-sekali menginjak rem. Toh itu untuk keselamatan kita juga.

Saya sendiri pernah mengalami masalah serupa dengan variabel yang berbeda. Saya akhirnya tersadar bahwa bisnis itu tidak hanya soal mencetak “gol” saja, tapi juga soal menjaga barisan pertahanan dan menjaga gawang agar tidak kebobolan.

Semoga bisa dipetik hikmahnya.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni,
Owner, Manet Busana Muslim

NB – Perkenalkan, satu lagi blog baru dari Pak Yayan, member baru TDA. Semoga bermanfaat.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s