Komunitas TDA

Bersinergi dengan TDA, Kenapa Tidak?

“TDA dan komunitas-komunitas lain itu punya potensi menjadi kelompok ekonomi yang besar dan punya bargaining yang kuat dengan pemerintah”, seru Pak Valentino Dinsi bersemangat.

Ia mencontohkan beberapa asosiasi seperti HIPMI, HIPPI dan kelompok bisnis seperti Para Grup dan Kodel yang begitu efektif memainkan perananannya di kancah perekonomian Indonesia.

Pak Valentino memang adalah seorang connector, ada di mana-mana, dengan siapa saja dan kelompok apa saja. Kepiawaiannya berbicara dan membina hubungan membuatnya akrab dengan berbagai pihak, dan tentu saja berbagai peluang dan tawaran kerja sama pun menghampirinya.

Tadi malam, saya dan Pak Asep Triono, Pak Andri Irwan dan Pak Didi Diarsa beserta istri dari TDA Finance bertemu dengan penulis buku terlaris “Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian” yang akrab dipanggil Bang Valen ini. Kami bertemu di Cilandak Town Square dalam rangkan menindaklanjuti tawaran sinergi dari Bang Valen dengan TDA khususnya TDA Finance yang baru saja berdiri ini.

Bang Valen memetakan posisi TDA di tengah-tengah komunitas bisnis yang belakangan ini marak seiring dengan tumbuhnya minat yang luar biasa terhadap kewirausahaan di Indonesia. Ada komunitas Entreprenur Indonesia (EU), Greenleaf, Entrepreneur College (EC), Let’s Go Indonesia yang didirikan oleh Bang Valen dan beberapa komunitas lainnya.

Bang Valen memberi wacana kenapa di antara komunitas-komunitas itu tidak disinergikan saja sehingga menjadi sebuah kekuatan yang besar dan diperhitungkan? Ia melihat ada kecenderungan stagnasi di komunitas-komunitas yang ia amati itu. Makanya perlu ada sinergi, aliansi dan saling mengisi di antara komunitas-komunitas itu.

Sebagai contoh, Let’s Go Indonesia (LGI) yang didirikannya itu punya member lebih dari 10.000 orang. Wow! Luar biasa. Membernya itu kebanyakan berasal dari pembaca bukunya yang telah terjual lebih dari 200.000 eksemplar itu.

Namun, dalam pengelolaannya Bang Valen merasa kesulitan mengingat kesibukannya yang begitu tinggi. Nah, di sisi lain TDA diakui memang punya keunggulan dalam memaintain dan mengelola sebuah komunitas dengan segala dinamikanya ini. Kenapa LGI tidak bersinergi saja dengan TDA?

Begitu juga sebaliknya. LGI banyak mendapatkan peluang-peluang dan koneksi yang strategis dari berbagai pihak. Namun pada kenyataannya banyak peluang itu yang tidak terealisasi karena berbagai keterbatasan yang ada. Kenapa peluang itu tidak dilempar saja ke TDA?

Hmmm… isn’t that interesting?

Nah, begitulah beberapa poin dari perbincangan hangat kami tadi malam. Insya Allah, sinergi yang berawal dari silaturahmi ini dapat terealisasi untuk saling mengisi untuk kemajuan bersama.

TDA sendiri sejak awal berdirinya telah melakukan sinergi, kerja sama dan aliansi strategis dengan berbagai pihak dan institusi sampai sekarang.

Bagaimana pendapat anda?

Salam FUUUNtastic TDA!
Bersinergi Membangun Negeri

Wassalam,

Roni, Founder TDA

NB – Nanti malam di kantor Manet akan datang beberapa teman TDA dalam rangka bersilaturahmi dan menyambut kedatangan Pak Wuryanano, member TDA dari Surabaya. Hadir juga beberapa member dari luar kota, seperti Yogyakarta.

Iklan
Standar

One thought on “Bersinergi dengan TDA, Kenapa Tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s