Komunitas TDA

Silaturahmi dengan Pak Wuryanano

Seperti apa kalau member TDA itu pada ngumpul? Lima puluh persen ngalor-ngidul, 50 persennya lagi bersenda gurau. Nah, isinya apa dong? Hehehe… Ya begitulah. Ngalor-ngidul a la TDA itu tetap ujung-ujungnya ya soal bisnis juga.

Apalagi dengan hadirnya Bu Ning Harmanto di tengah-tengah kami. Ya sudah, suasana jadi tambah meriah dengan celotehannya yang membuat kami tak tahan menahan tawa.

Tak terasa acara yang diawali selepas Maghrib ini mengalir sampai tak terasa malam semakin larut. Jam 23.30, kami pun mengakhiri pertemuan ini.

Acara tadi malam di kantor Manet itu digagas sehubungan dengan kedatangan Pak Wuryanano, member TDA dari Surabaya yang kebetulan berada di Jakarta untuk beberapa urusan bisnis.

Ia sedang menjajaki pengembangan bisnis pendidikannya untuk di-franchise-kan, menghubungi beberapa pabrik di Bandung untuk pengembangan bisnisnya yang baru di bidang garment, mengikuti training Financial Revolution-nya Pak Tung dan sekalian bersilaturahmi dengan para member TDA Jakarta.

Maka berkumpullah sekitar 20-an member TDA yang memang ingin bersilaturahmi dengan Pak Wuryanano dan ingin mendengar cerita sepak terjang bisnisnya secara live dari sumbernya langsung, karena selama ini memang interaksinya hanya dari milis, blog dan Yahoo! Messenger.

Uniknya di TDA ini – seperti diakui oleh Pak Wuyanano sendiri – bahwa suasana akrab penuh kekeluargaan begitu terasa di TDA ini. Ia pun mengakui bahwa komunitas TDA ini “beda” dibandingkan dengan milis-milis lain. TDA lebih kuat di offline, dibandingkan online-nya.

Di acara yang cair dan mengalir ini Pak Wuryanano sedikit berbagi cerita mengenai perjalanan bisnisnya mulai dari membuka peternakan ayam di awal 90-an. Peternakan ini berkembang pesat sampai dihempas krisis moneter tahun 1997. Miliaran rupiah kerugian harus ditelannya.

Di tengah kondisi sulit ini, Pak Wuryanano mampu bangkit lagi. Bahkan di tahun 2000 ia bersama sang istri berhasil menyisihkan sebagian keuntungannya untuk mendirikan Swastika Prima, sebuah lembaga pendidikan profesi setingkat D3 di Surabaya.

Bisnis ini pun berkembang cukup pesat. Dalam waktu 2 tahun sudah balik modal. Bahkan lembaganya saat ini sudah mampu bersaing dengan lembaga sejenis yang jauh lebih besar dan berpengalaman.

Selain Pak Wuryanano, beberapa hadirin juga sharing mengenai bisnisnya.

Bu Ning, bercerita mengenai peluang-peluang bisnis yg telah diraihnya belakangan ini. Jamu Mahkota Dewa yang dikembangkannya, saat ini sudah merambah Eropa, khususnya Jerman. Ia bahkan telah diwawancarai oleh salah satu televisi dari Jerman.

Akhir bulan ini ia juga berkesempatan mengikuti pameran produk Indonesia di Singapura. Dan itu semua didapatnya dengan gratis, alias nggak bayar. Kok bisa? Nah, itulah hebatnya Bu Ning yang mengaku banyak terbantu karena kedekatannya dengan lembaga-lembaga bantuan UKM yang didirikan oleh pemerintah. Makanya, Bu Ning juga mengajak member TDA untuk “merapat” dan mengambil kesempatan-kesempatan yang ditawarkan oleh pemerintah yang begitu luas.

Yang menarik, Pak Hantiar juga punya cerita dahsyat. Insya Allah bulan Maret 2008 nanti ia akan mengikuti pameran produk Indonesia di Paris, Perancis. Hebatnya, itu semua ia dapatkan secara gratis. Bagaimana ceritanya? Pokoknya seru deh.

Pak Hadi yang hadir jauh dari Bekasi juga sharing mengenai “ketakutannya” dikejar impian. Lho, apa pula ini?

Ya, ia mengalami semacam kekhawatiran kalau-kalau nanti impiannya tidak tercapai. Bagaimana setelah ia full TDA nanti jika skenarionya tidak jalan?

Ia pun bertanya kepada beberapa pengusaha sukses a la “street smart”. Pak Hadi menyimpulkan bahwa mereka rata-rata tidak punya impian yang muluk-muluk dan jelas seperti diajarkan oleh buku-buku dan seminar-seminar itu. Mereka “mengalir” saja mengikuti kata hati. Visi mereka tidak macam-macam: cukup bagaimana mengatasi tantangan bisnis esok hari. Nyatanya, mereka sukses luar biasa.

Ya, memang ada dua pendekatan mengenai mengejar impian itu. Yang paling umum dianjurkan oleh buku-buku dan motivator itu adalah kita harus memiliki impian besar dan jelas. Semakin jelas semakin baik.

Tapi sekarang juga ada arus sebaliknya yang menafikan itu semua. Buku Goal Free Living karya Stephen Shapiro adalah salah satu rujukannya.

Ia mewawancarai lebih dari 50 orang sukses yang ternyata mencapainya tanpa menentukan impiannya secara jelas dan mengejarnya dengan membabi buta.

Orang yang dipacu oleh fokus kepada impian itu seperti menggunakan kaca mata kuda, kata Shapiro. Dampaknya, ia kehilangan keseimbangan hidup dan bahkan tidak menikmati hidup dan segala prosesnya itu.

Pak Wuryanano menanggapi bahwa ia pun termasuk ke dalam tipe orang yang lebih suka mengalir mengikuti kata hati saja. Ia memang menetapkan target dan tujuan. Namun ia menjalani dengan menikmati proses dan tidak terlalu menjadikan target itu adalah segalanya.

Acara pertemuan tadi malam juga dihadiri Pak Bambang Triwoko dan Mas Seta dari TDA Jogja Solo.

Demikianlah sekelumit yang bisa saya tuliskan mengenai acara tadi malam. Semoga bermanfaat.

Foto-fotonya silakan dilihat di sini.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Founder TDA

NB – Siang ini saya insya Allah akan diwawancara oleh Tabloid Kontan seputar kisah perjalanan bisnis Manet.

NB 2 – Saya juga akan kedatangan tamu seorang regional manager sebuah bank asing ternama. Katanya ia berminat menjalin kerja sama dengan TDA. Seperti apa? Tunggu saja. Mudah-mudahan tawarannya menarik.

NB 3 – Kata Pak Hasan, biar lebih meriah, acara workshop SDM Sabtu ini juga akan diisi dengan door prize. Ayo, siapa yang mau nyumbang? Silakan hubungi Pak Hasan di: hasan.basri (at) siemens.com. Terima kasih.

NB 4 – Saya ada titipan pesan dari Bu Ning, Pak Bams Triwoko dan Pak Wuryanano soal lomba menulis positif dalam rangka menyambut Milad II TDA. Hadiah menarik telah disiapkan. Silakan baca penjelasannya di sini.

NB 5 – Anda ingin membuat kelompok mastermind? Sebelum mulai, ada baiknya baca dulu referensi berikut ini:

Laporan TDA Mastermind Group

Pendapat Lain Tentang Mastermind Group

Pembentukan TDA Mastermind Group

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s