Business, Life

Apa yang Saya Pelajari dari Musik Jazz?

Kulkul (Indonesia) mewakili generasi muda, mengangkat musik tradisional Bali

Balawan Trio feat Didit (Indonesia), kolaborasi senior dan junior

Ze Paulo Becker and Bernardo Aquiar (Brazil), mengangkat musik latino samba

Don Grusin, Bill Sharpe and The Bad Boyz featuring Andrea (USA, UK, Japan, Indonesia), lintas negara

Pembaca, maaf ya… saya masih antusias mau cerita soal Jak Jazz. Maklumlah, saya ini penggemar berat jazz.

Bahkan ada kata-kata dari seorang tokoh Perancis yang saya pelesetkan jadi begini: “rakyat tidak hanya butuh roti, rakyat juga butuh jazz…”. Hehehe…

Emosi dan perasaan saya begitu larut saat mendengarkan alunan musik jazz. Entah mengapa….

Awalnya saya berkenalan dengan musik jazz sejak kelas 2 SMP.

Waktu itu lagi malam minggu dan saya di rumah. Tau sendiri kan, cuma ada TVRI yang bisa ditonton.

Kebetulan setiap malam minggu ada acara jazz. Yang tampil adalah grup Bhaskara.

Saya coba menonton acara ini sambil bertanya-tanya: “apa sih enaknya musik jazz ini?”.

Ajaibnya, lama-lama saya kok menikmatinya. Asyik juga mendengar permainan piano yang “keriting” yang belakangan saya ketahui istilahnya improvisasi itu. Mulai saat itu saya jadi ketagihan deh.

Awalnya saya suka jazz karena ada improvisasi itu.

Dengan adanya improvisasi, sebuah lagu yang dimainkan ribuan kali pun tetap menarik karena selalu dibawakan secara berbeda oleh setiap musisi. Hal ini tidak ada di musik klasik, pop, rock yang selalu dibawakan persis seperti lagu aslinya.

Di samping suka dengan improvisasinya, belakangan saya juga menemukan nilai-nilai dan pengalaman lain. dari musik jazz itu.

Mendengar musik jazz itu seperti pergi berpetualang.

Kita nggak tahu apa yang akan terjadi di perjalanan dan kapan sampai di tujuan. Jalan yang kita temui pun sering berliku, memutar, mendaki, penuh aral lintang. Kadang-kadang kita kaget, kok sampai di sini?

Nah, seperti itulah perasaan saya saat mendengarkan musik jazz. Selalu excited, penasaran, siap kaget, dan kadang-kadang endingnya tidak sesuai dengan perkiraan saya.

Para musisi jazz adalah orang-orang yang kreatif, inovatif, tidak suka sesuatu yang teratur rapi dan kaku.

Mereka akan selalu mengekplorasi segala kemungkinan. Lihat saja, gitaris Balawan itu. Tadi malam, suara gitarnya dibuatnya mirip dengan suara piano.

Para musisi jazz juga punya budaya saling mengapresiasi dan mendukung satu sama lain. Jangan heran kalau melihat musisi senior mau tampil satu panggung dengan musisi junior. Di panggung Jak Jazz kemarin dicontohkan oleh Dwiki Dharmawan, Idang Rasyidi, Lewis Pragasam dan lain-lain.

Di dunia jazz juga ada istilah jam session atau jamming, di mana mereka berkumpul dari berbagai grup, aliran dan generasi berbeda di satu panggung dan bermain musik tanpa persiapan atau latihan dulu.

Karakter saling mendukung dan bekerja sama ini juga tercermin dengan adanya banyak festival jazz di seluruh dunia. Sulit dibayangkan festival seperti ini untuk jenis musik lain.

Nilai-nilai di atas tentu saja berpengaruh dalam keseharian saya di dunia bisnis.

Bisnis menurut saya harus fun, menyenangkan seperti mendengarkan musik jazz.

Bisnis adalah sebuah proses petualangan yang penuh tantangan dan tak terduga.

Dalam berbisnis kita juga musti kreatif, inovatif, luwes, fleksibel.

Bisnis juga akan maju kalau kita bisa saling mendukung dengan semua pihak, saling bekerja sama.

Dan di dalam bisnis, rejeki itu sudah diatur oleh Yang Di Atas. Jangan takut tertukar. Seperti dicontohkan oleh para musisi jazz yang mau sepanggung dengan musisi lain yang menurut kacamata kita adalah kompetitornya.

Masih banyak sih nilai-nilai dari musik jazz yang bisa dipelajari dan diterapkan di dalam bisnis. Salah satu buku yang menarik mengenai ini adalah karya John Kao berjudul Jamming!

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni

NB – Liputan TDA Joglo Goes To Campus bisa dibaca di sini.

Iklan
Standar

2 thoughts on “Apa yang Saya Pelajari dari Musik Jazz?

  1. Donny berkata:

    Saya juga menyukai musik jazz yang seperti ‘tanpa batas’ itu, meskipun belum jadi pecintanya. Saya juga jadi suka lagu stasiun balapan justru karena ada versi jazznya…:))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s