Books and Learning, Life, Mindset

Aspirasi dan Sasaran

Tulisan saya kemarin mengundang komentar. Ada yang setuju, ada yang bingung.

Saya tidak ingin mengundang polemik.

Karena saya sendiri terbatas kemampuannya dalam mencerna dan menyampaikan kembali ide Stephen Shapiro ini, maka saya kutip aja beberapa definisi dari bukunya itu.

Menurut Shapiro, sasaran hanya mewakili tujuan, tempat yang harus dicapai. Sasaran sering menunjukkan titik akhir yang didefinisikan dengan jelas, bukan petualangan untuk mencapainya. Sasaran tidak melibatkan kepuasan.

Sebaliknya, “aspirasi” (aspiration) yang berasal dari kata semangat (spirit) dan inspirasi (inspiration). Semua berasal dari kata Latin yang maknyanya “meniupkan napas”. Kira-kira konotasinya adalah “meniupkan kehidupan ke dalam”.

Secara sederhana, sasaran bersifat logis, terencana, dan berorientasi otak kiri. Aspirasi, di pihak lain bersifat emosional, intuitif, berdasarkan pengalaman dan berorientasi otak kanan.

Kita memerlukan keduanya.

Sasaran tanpa rasa aspirasi sering menimbulkan rasa putus asa.

Mencapai sasaran tidak berarti sama dengan meraih kebahagiaan.

Ada orang yang mencapai 20 sasaran yang diinginkannya, tapi ia malah merasa lebih buruk daripada sebelum mencapainya.

Sebaliknya, aspirasi tanpa sasaran apa pun dapat menuntun ke kehidupan tanpa tujuan.

Kuncinya adalah memiliki keseimbangan yang tepat antara sasaran dan aspirasi, yang memiliki hubungan yang benar dengan sasaran anda.

Merefleksi sedikit perjalanan blog ini yang kemudian melahirkan Komunitas TDA yang dahsyat itu sebenarnya tidak berawal dari sasaran yang saya tetapkan dari awal.

Saya tidak pernah berniat atau bertujuan membuat komunitas ini.

Semua itu berawal dari aspirasi. Aspirasi saya ketika itu hanyalah “ingin sharing sesuatu melalui blog”. Mudah-mudahan ada yang memetik manfaat dari situ. Titik.

Bahwasanya kemudian blog ini direspon oleh pembaca yang kemudian melahirkan Komunitas TDA, adalah sebuah ketidaksengajaan yang membahagiakan saya.

Berdirinya TDA adalah “dampak” dari aspirasi saya.

Sejalan dengan semakin banyaknya member dan kegiatannya, tentu TDA perlu sasaran yang jelas. Tanpa sasaran, bagaimana caranya “mengikat” semua member itu dalam satu ikatan kepentingan bersama?

Jadi, mengambil hikmah dari perjalanan TDA ini. Saya menemukan bahwa awalnya adalah aspirasi, bukan sasaran.

Setelah itu, aspirasi perlu “diikat” dengan sasaran.

Saat ini saya sedang membaca buku Leaving Microsoft to Change The World, sebuah memoar dari John Wood, mantan eksekutif Microsoft yang meninggalkan karirnya demi aspirasinya yang kemudian berhasil mendirikan 3.600 perpustakaan di Asia.

Awalnya, Wood menemukan aspirasi ini ketika berpetualang di Nepal dan menemukan bahwa anak-anak di sana memerlukan buku.

Aspirasi itu kemudian ia wujudkan dengan membuat sebuah lembaga nirlaba Room To Read yang dikelolanya dengan profesional dan dengan sasaran yang jelas. Tahun 2004 ia mendapat penghargaan Asia’s Heroes dari majalah TIME Asia.

Semoga bermanfaat…

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Founder Komunitas TDA

NB – Tapi jangan dibandingkan antara saya dan John Wood ya… Beda. Jauh banget… Tapi sosok John Wood ini layak menjadi inspirasi kita….

Iklan
Standar

One thought on “Aspirasi dan Sasaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s