Business, Life, Mindset

Mengambil Risiko

Sewaktu masih kecil, kita melompat ke kolam tidak peduli kita dapat berenang atau tidak.

Kita tidak kenal takut.

Jika tidak berenang kita akan tenggelam.

Sebelum usia tiga puluh, kita mengalami berbagai hal penting yang membentuk sisa hidup kita.

Yang pertama adalah:

Kita sadar akan diri kita sendiri dan pada pemikiran kita sendiri. Kita mencapai usia yang penuh pertimbangan.

Yang kedua adalah:

Dalam kematangan kita yang baru, kita mulai berpikir secara lebih dewasa.

Kita menjadi orang dewasa.

Kecerobohan dan risiko tidak sejalan dengan usia.

Risiko menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan masak-masak.

Tulisan di atas saya kutip dari buku Whatever You Think, Think The Opposite karya Paul Arden di halaman 36.

Tulisan di buku yang sempat diresensi oleh Tanadi Santoso itu “nendang” saya banget.

Saat ini saya cenderung hati-hati mengambil langkah dalam berbisnis. Pengalaman nyaris bangkrut di tahun 2003 itu masih menjadi momok buat saya. Bayangkan, hasil jerih payah selama 3 tahun itu habis dan saya harus memulainya lagi dari awal.

Meskipun akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan itu, tapi sisa pengalaman pahit itu terus terang masih tertinggal dan menyisakan trauma yang sulit dihilangkan.

Saya menjadi lebih hati-hati dalam mengambil keputusan bisnis.

Jeleknya, pengambilan keputusan jadi lambat dan bahkan tidak diambil. Lewatlah peluang itu…

Saya selalu mengecek berulang-ulang kepada istri dalam setiap pengambilan keputusan. Padahal secara rasional, risiko itu tidaklah berbahaya. Tapi, ya itu tadi, sisa trauma itu sulit dihilangkan.

Nah, mumpung masih di awal tahun dan diingatkan lagi oleh buku itu, insya Allah tahun ini saya bertekad akan lebih banyak lagi mengambil risiko.

Satu lagi kutipan menarik dari Paul Arden: It’s not how good you are. It’s how good you want to be.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

NB: Tulisan ini terkait dengan sebuah objek properti yang sedang saya timbang-timbang. Beli nggak, beli enggak, beli enggak. Tahun 2005 lalu saya pernah melewatkan sebuah peluang properti dahsyat yang saya sesali sampai sekarang.

NB 2: Selamat ya Pak Faif. Satu lagi prestasi telah ditorehkan oleh member TDA. Saya merasa bahagia dan bangga. Kalau dulu anda banyak mendapat inspirasi dari TDA, sekarang anda telah menjadi salah satu inspirator bagi kita semua. Silakan baca ceritanya Pak Faif di sini.

NB 3: Selamat juga kepada Bu Yulia dan Bu Widya, dua orang member TDA yang baru berkenalan saat halal bihalal kemarin dan sepakat mengikat janji dalam sebuah kerja sama bisnis. Selamat. Saya bangga. Ini adalah buah dari kebersamaan di TDA. Jargon TDA seperti “Silaturahmi Membawa Rezeki”, “Take Action Miracle Happen”, “Bersama Menebar Rahmat” telah terbukti. Begitu juga dengan cerita Pak Bambang di sini. I’m truly happy dengan semua perkembangan ini. Spirit TDA sudah menyebar ke mana-mana. Alhamdulillah.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s