Business, Peluang Bisnis

Palembang, Surganya Para Pedagang

Setiap kali berkunjung ke kota Palembang, saya selalu terpukau dengan perkembangannya yang pesat.

Di kiri kanan jalan yang dilewati selalu ada bangunan baru baik itu berupa ruko, mal, hypermart, gedung perkantoran, restoran, hotel dan sebagainya.

Apalagi setelah dibangunnya bandara internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dan suksesnya Palembang menyelenggarakan PON terakhir, geliat ekonomi kota ini semakin kencang saja.

Mal-mal dan pasar selalu ramai dikunjungi pengunjung. Merek-merek produk terkenal dari Jakarta pun mengepung kota yang dikenal dengan Jembatan Amperanya ini. Breadtalk, J.Co, Pizza Hut, Mc Donald’s, Starbucks, Rotiboy, Restoran Sederhana, Carrefour, Hypermart, Makro, Novotel, Aston adalah di antara merek-merek yang saya lihat.

Saya sendiri sering bingung mau bawa oleh-oleh apa untuk ibu mertua di sana. Soalnya, hampir semua yang ada di Jakara telah tersedia di sana.

Satu hal yang saya perhatikan di sana adalah, daya beli masyarakatnya yang begitu tinggi. Hal ini sering membuat saya geleng-geleng kepala.

Ibu mertua saya berjualan karpet di Lorong Basah, Pasar 16 Ilir. Menurut agennya di Jakarta, distribusi produknya ke Palembang termasuk yang tertinggi di Indonesia. Ia sering bertanya ke ibu mertua saya, bagaimana cara menjualnya?

Sudah menjadi kebiasaan, menjelang lebaran gudang ibu mertua saya penuh dengan karpet sampai garasi dan sebagian rumah pun disesaki oleh karpet.

“Masyarakat di sini sering berbelanja karena gengsi dan ikut-ikutan,” kata Pak Donny, salah satu member TDA yang bertemu saya di Palembang Square kemarin.

“Mereka sering mengadakan acara-acara di rumah dengan membentangkan karpet seluas rumah”, lanjutnya.

Lain lagi dengan cerita adik ipar saya yang berjualan sepatu di Palembang Square. Keuntungan berlipat dinikmatinya dari margin tinggi yang biasanya mencapai 2-3 kali lipat harga pokok.

“Kalau dijual lebih murah, malah nggak laku”, katanya.

Hal ini juga diamini oleh Bu Muslichah, istri Pak Donny yang berdagang busana muslim di Palembang Trade Center.

Member TDA yang baru setahun berstatus full TDA ini mengaku semakin tinggi harga produk yang dijualnya malah semakin dimininati.

Waktu saya masih berjualan perlengkapan interior di Tanah Abang dulu, salah satu pembeli terbesar toko kami adalah dari Palembang.

“Berapa pun ada stok, kirim aja”, kata salah satu pembeli besar kami ketika itu.

Dengan gaya hidup konsumtif dan daya beli masyarakat yang tinggi ini, Palembang memang surga bagi para pedagang. Apa saja yang dijual, pasti diserbu peminat. Apalagi kalau produk-produk tersebut terkait dengan gengsi dan gaya hidup.

Cuma, salah satu kelemahan kota ini adalah tingkat kriminalitasnya yang terbilang tinggi. Kalau ingin membuka usaha di sana harus ektra hati-hati. Bisnis kita harus dibackup dengan kedekatan dengan aparat keamanan atau preman setempat.

Stigma negatif ini juga harus dihapus oleh pihak pemerintah yang saat ini terlihat begitu serius menata kota dan menjual kota ini sebagai salah satu tujuan wisata.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s