Books and Learning, Business

Mengkombinasikan Grosir dan Eceran

Pagi ini saya dapat pencerahan.

Ada hikmahnya juga setiap pagi mengajak Vito jalan-jalan keliling kompleks. Saya jadi banyak berkenalan dengan tetangga.

Ternyata kompleks a la town house yang saya tinggali ini sebagian besar penghuninya berasal dari Minang dan mayoritas adalah pedagang dari Tanah Abang.

Pagi ini saya berkenalan dengan seorang ayah muda yang berdagang kemeja di AURI, Blok F dan Metro Tanah Abang. Ia dan istrinya ternyata juga berasal dari Bukittinggi, seperti saya.

“Nama tokonya Eddy Auri”, katanya.

“Wah, itu sih pernah jadi langganan saya waktu saya jualan ritel dulu”, sahut saya.

Ia yang juga menggendong putri pertama yang seusia dengan Vito akhirnya berbagi cerita dengan saya.

Saya yang “alumni” Tanah Abang ini tentu ingin tahu bagaimana update terakhir kondisi bisnis di sana.

“Semakin berat”, katanya.

“Persaingan harga semakin ketat, keuntungan makin tipis, sementara sewa makin tinggi, terutama di Metro. Setiap tahun sewa naik. Akibatnya keuntungan makin menipis”.

“Untunglah saya buka toko ritel juga di Lampung. Penjualan dari toko-toko ini lumayan menolong”, lanjutnya.

Aha, saya dapat pencerahan di sini.

Kalau dulu, mindset pedagang itu terbelah dua: grosir dan eceran saja. Tidak pernah ada yang mengkombinasikan keduanya.

Kondisi pasar dan persaingan seperti sekarang ini memaksa para pedagang ini untuk “think out of the box”. Kenapa tidak mengkombinasikan grosir dan eceran?

Berdagang grosir, volumenya memang tinggi, tapi marginnya tipis. Persaingan harga sangat ketat. Belum lagi risiko utang piutang.

Sedangkan berdagang eceran, perputaran uangnya memang lebih lambat, tapi marginnya tinggi. Risiko pun rendah. Uang kas keluar masuk setiap hari dan relatif lebih aman dari risiko utang piutang.

Saya sendiri termasuk yang masih “berpikiran cara lama”. Grosir dan eceran saya pisahkan. Sekarang saya hanya menjual secara grosir.

Perbincangan singkat ini membuka pikiran saya. Saya mendapat semacam “paradigm shift”.

Mengkombinasikan grosir dan eceran? Why not! Toh, dulu awalnya saya adalah pedagang eceran.

Terima kasih ya Vito. Kalau nggak karena “ditagih” jalan-jalan tiap pagi, Papa tentunya nggak dapat pencerahan ini…

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

NB: (Road to Milad II TDA) Meski pun pendaftaran sudah ditutup tapi masih banyak juga calon peserta yang “memaksa” ingin ikut dan mentransfer. Subhanallah, tinggi sekali minat perserta kali ini. Mudah-mudahan panitia bisa mempertimbangkan peserta yang “ketinggalan kereta” ini.

NB 2: Alhamdulillah, penjualan pre order t-shirt Be Positive disambut positif juga. Di tangan saya dan Pak Try sudah masuk beberapa orderan. Ini pertanda bagus bagi kerja sama antara kami berdua. Insya Allah… Ayo, siapa lagi yang berminat? Silakan pilih nomornya dan email ke saya di roniyuzirman(at)gmail.com.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s