Books and Learning, Life

Live with Passion

Buku The Passion Test yang sedang saya baca ini termasuk buku yang “nendang” banget buat saya.

Saya tidak bisa membacanya dengan cepat. Karena buku ini adalah “tentang saya”. Buku ini menggiring saya untuk melihat ke dalam diri.

Buku ini membuat saya tertantang untuk membuat pertanyaan besar kepada diri sendiri. Apa yang ingin saya lakukan sepanjang hidup ini? Dampak apa yang ingin saya hasilkan terhadap diri sendiri dan lingkungan saya?

Jangan “bermain aman” seperti kebanyakan orang, tulis Janet Bray dan Chris Attwood. Perhatikan orang-orang di sekeliling anda yang hidup dengan penuh passion, penuh antusiasme, enerjik, dan bersemangat dalam menjalani hidupnya bersama dengan orang-orang yang mendukungnya untuk hidup dan menjalani impiannya. Mereka adalah orang-orang yang “live, eat, breathe with their passion”

Terbayang oleh saya orang-orang yang menjalani hidupnya dengan passion yang tinggi. Aa Gym, Ary Ginanjar, John Wood, Anthony Robbins, Tung Desem Waringin, Oprah Winfrey, Andrie Wongso…

Mereka adalah orang-orang yang menjalani hidupnya dengan “memberi arti” bagi hidup orang banyak.

Passion bukanlah tujuan atau goals. Passion adalah bagaimana kita menjalani hidup. Goals adalah segala sesuatu yang ingin dicapai dalam hidup.

Passion adalah proses. Goals adalah hasil.

Sebagai ilustrasi, ini adalah hasil Passion Test dari Jack Canfield, penulis buku terlaris Chicken Soup for The Soul:

1. Helping people live their vision.
2. Being part of dynamic team.
3. Being of service to massive numbers of people
4. Having an international impact
5. Creating a core group of ongoing trainers who feel identified with my organization.

Terlihat, list itu semuanya mempunyai “tema besar”, mengarah kepada “change the world”.

Ya, passion cenderung mengenai hal-hal besar yang ingin anda lakukan dalam hidup anda. Mengenai legacy atau warisan yang ingin anda tinggalkan untuk dunia.

Buatlah “pertanyaan besar” kepada diri anda, saran penulis yang juga mitra kerja dari Jack Canfield ini.

Jangan takut membuat pertanyaan besar itu.

When we focus on the biq questions, the really big questions, we are challenging our brains to think outside of the box, and this causes the structure of our neurons to change, particularly in our frontal lobes, that part of the brain that controls logic, reason, language, consciousnes, and compassion”, kata Dr. Andrew Newberg dan Mark Waldman, neuroscientist dari University of Pennsylvania.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah: apa passion saya?

Tunggu dulu.

Saya belum sampai ke bagian itu.

Buku ini begitu menarik, sehingga saya tidak sabar untuk sharing kepada anda.

Saya rasa ini adalah salah satu buku terbaik yang saya baca tahun 2008 ini.

Saya menemukan buku ini tanpa sengaja. Saya tidak pernah tahu buku ini sebelumnya. Saya pun tidak tahu siapa penulisnya. Saya juga tidak pernah membaca resensi buku ini di mana pun.

Buku ini saya beli tanpa dapat melihat isinya dulu, karena memang di-seal plastik. Jadi, saya beli buku ini dengan penuh spekulasi.

Saya berharap menemukan jawaban yang saya cari selama ini setelah membaca buku ini. Paling tidak saya menemukan fokus.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, trying to live with passion.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s