Business, Komunitas TDA

Vito pun Harus Kehilangan Sifa…

Kemarin saya menerima kabar yang menyesakkan dada.

Salah satu tetangga di kompleks saya harus keluar dari rumahnya karena tidak sanggup lagi menyambung biaya sewa.

Bisnis busana muslimnya di Tanah Abang bangkrut, demikian kata pengelola kompleks.

Tetangga ini, sebut saja namanya Azril. Sama dengan saya, ia juga berasal dari Bukittinggi. Kami berkenalan belum lama, karena sering bertemu ketika mengajak Vito jalan-jalan di pagi hari. Ia juga mempunyai bayi perempuan seusia dengan Vito. Sifa namanya.

Ternyata tokonya saat ini sebenarnya tidak jauh dari salah satu toko saya di lantai 1 Blok F dulu. Cuma, kami saat itu tidak saling kenal. Dia tidak kenal dengan Manet. Maklum, toko kami sangat kecil.

Salah satu berkah dari kehadiran bayi adalah saling kenal dengan tetangga. Beberapa penghuni yang memiliki bayi sekarang menjadi teman Vito yang otomatis orang tuanya menjadi teman saya juga.

Kompleks perumahan ini cukup unik. Dari sekitar 40 rumah yang ada, 80%-nya di huni oleh perantau dari Minang yang rata-rata adalah pedagang di Tanah Abang.

Dari beberapa tetangga yang saya kenal, mereka rata-rata mengeluhkan lesunya bisnis di Tanah Abang.

Tapi, berita bangkrutnya Azril ini tidak saya sangka-sangka dan cukup memprihatinkan. Istrinya baru melahirkan. Biaya untuk merawat bayi cukup tinggi saat ini.

Ingatan saya melayang ketika saya nyaris bangkrut di tahun 2003 lalu. Saya merasakan bagaimana getirnya saat itu.

“Katanya, dia mau pindah ke rumah mertua”, kata pengelola kompleks.

Duh, saya prihatin sekali. Tadi pagi saya lewat rumahnya. Isi rumah sepertinya sudah diangkuti.

Saya sempat mengusulkan kepadanya untuk berganti jenis dagangan. Saya tawarkan untuk membuat jilbab. Saya perhatikan, jilbab senang booming saat ini.

“Saya tidak punya keahlian di bidang jilbab”, kilahnya.

Nampaknya ia tidak siap dengan perubahan. Tanah Abang sekarang jauh berbeda dengan Tanah Abang ketika saya masih di sana. Perubahan berjalan begitu cepat. Tren baru bermunculan. Selera konsumen berubah. Persaingan makin ketat. Harga bahan baku membumbung. Biaya tenaga kerja makin tinggi. Jumlah toko sudah over supply, dan sebagainya.

Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan. Seorang pebisnis harus mampu mengelola 4 C dalam lansekap bisnis, yaitu: Company, Customer, Competitor dan Change itu sendiri. Mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan keempat C tadi, siap-siaplah menjadi dinosaurus alias punah.

Saya pun berandai-andai. Seandainya dia sempat membaca blog saya. Seandainya dia bergabung dengan TDA. Mungkin hasilnya akan lain. Akan banyak pencerahan dan alternatif yang didapatnya.

Saya sendiri merenung dan berpikir. Bagaimana caranya supaya pencerahan di TDA ini bisa dijangkau oleh lebih banyak lagi orang yang butuh bantuan? Bagaimana TDA ini bisa membantu orang-orang sekampung saya di Tanah Abang? Itu semua adalah PR yang belum selesai.

Vito pun harus merelakan kepergian salah satu temannya.

Vito tidak bisa lagi bertemu dengan Sifa yang berkereta warna biru itu.

Selamat jalan Sifa.

Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Wassalam,

Roni, Owner Manet Moslem Fashion, Founder Komunitas TDA

NB: Foto Vito ini adalah hasil jepretan Pak Fauzi saat silaturahmi TDA kemarin. Terima kasih Pak.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s