Business

Tak Tahan Macet, Bu Giat pun Mengundurkan Diri

Bu Giat, demikian karyawan saya yang lain memanggilnya. Nama aslinya Sugiarti. Menjahit adalah pekerjaannya di tempat kami.

Sesuai dengan namanya, ia memang giat dalam bekerja. Sejak pagi hingga petang, nyaris tanpa henti ia terus menjahit model-model terbaru Manet.

Hampir tidak pernah saya dengar Bu Giat berkata-kata. Dari suara deru mesin jahitnyalah saya selalu mengetahui bahwa ia sedang bekerja.

Akhir bulan lalu, Bu Giat pulang dengan membawa gaji yang akan digunakannya untuk membiayai hidup bersama seorang putranya yang bersekolah SMP. Setelah wafatnya sang suami, Bu Giat menjadi single mom dan menghidupi putra semata wayangnya ini.

Ternyata itu adalah gajinya yang terakhir dari saya. Dua hari lalu ia menyatakan mengundurkan diri dari Manet.

Saya sulit untuk menolaknya. Alasannya adalah karena ia tak tahan lagi karena kemacetan di jalan yang menghabiskan energi dan bahan bakar motornya.

Sejak ditutupnya jalur busway, perjalanan yang dilaluinya dengan motor menjadi begitu menyiksanya. Empat puluh kilometer dihabiskannya untuk datang ke kantor dari rumahnya di Pulo Gadung. Motor yang biasanya bisa dipacu dalam kecepatan tinggi, harus selalu direm dan berjalan beringsut.

Ia tak tahan lagi. Ia memutuskan untuk berhenti saja dan pindah ke tempat kerja lamanya yang hanya menghabiskan 13 kilo meter perjalanan dari rumahnya.

Saya tanya kepada karyawan lainnya, apakah Bu Giat betah bekerja di Manet? Mereka semua menjawab bahwa Bu Giat betah di Manet. Salah satu alasannya adalah karena Manet libur di hari Sabtu yang memungkinkannya menghabiskan waktu lebih lama dengan anaknya.

Suasana kerja pun lebih menyenangkan di Manet. Di tempat lama, ia diawasi dengan ketat oleh bossnya yang selalu berdiri di sampingnya saat ia menjahit. Jam kerja di sana pun tidak jelas. Ia sering pulang melebihi waktunya dan tidak dibayar lemburnya.

Ooo, pantaslah. Ketika saya berdiri di samping Bu Giat, ia seperti grogi, serba salah. Padahal gaya seperti itu sama sekali tidak pernah saya terapkan di Manet. Manet saya ciptakan sebagai tempat kerja yang menyenangkan bagi semua yang terlibat di dalamnya.

Tapi semua alasan kelebihan bekerja di Manet itu tidak kuat menahan Bu Giat untuk resign. Ia tidak tahan dengan kemacetan yang harus dilaluinya setiap hari.

Saya pun tidak punya pilihan lain. Saya terpaksa harus merelakan kepergian Bu Giat.

Haruskah saya mengumpat kepada pengelola busway? Haruskah saya salahkan kemacetan Jakarta yang begitu mengintimidasi warganya? Ah, ketimbang menyalahkan lebih baik saya cari karyawan baru, yang rumahnya lebih dekat saja.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Iklan
Standar

3 thoughts on “Tak Tahan Macet, Bu Giat pun Mengundurkan Diri

  1. Balqees Kids berkata:

    Assamu’alaikum bung Roni

    Saya beberapa hari membaca blog anda, wow inspire banget, sorry saya panggil anda bung karena anda menginspirasi dan menggerakkan banyak orang seperti bung Karno, bung Hatta dan bung Tomo pun masih muda. Saya juga jadi buat blog karena benar kata anda toko di tanah abang mulai over jumlahnya (www.rumahbalqees.blogspot.com memproduksi busan muslim anak) apalagi bung Roni cerita Azril yang bangkrut dari tanah abang.

    Waktu bung Roni bilang (berharap) Azril pernah melihat blognya bung Roni atau TDA, saya agak berpikir untuk ukuran pedagang tanah abang (terutama yang pribumi) rasanya masih sedikit yang menggunakan internet sebagai pedoman untuk menentukan langkah, beda dengan etnis Cina yang sangat familiar dengan dunia IT (ini menurut pengamatan saya). Makanya saya sangat senang waktu bung Roni ingin membukukan blognya karena akan lebih banyak orang yang tersentuh. Tapi kalau boleh saran kenapa ngak bikin buku aja (selain kumpulan tulisan bung yang ada di blog) Saya yakin dengan gaya penulisan bung yang original, apalagi bung mengalami sendiri berdarahnya berdagang, buku bung akan seperti bukunya Habiburrahman El-Sirazy yang Ayat-ayat Cinta karena beliau seperti menceritakan dirinya sendiri di Cairo. Tulisan yang digali dari pengalaman sendiri saya yakin lebih membumi dan lebih mudah dipraktekkan.

    Atau seperti Ustad Rahmat Abdullah mungkin bung kenal salah satu founder PKS sudah almarhum, kalau beliau bicara nggak ada yang mubazir, juga perilakunya benar-benar orang besar, selalu menegur lebih dulu, memberi salam lebih dulu, (ngak sanggup kata-kata saya untuk menggambarkannya) semuanya isi (excellent), tulisannya juga begitu, walaupun agak sastra tapi jelas sekali terlihat bahwa beliau mengalami dan merasakan berdarahnya jalan da’wah.

    Wassalam
    Iqbal (rbalqees@gmail.com)
    NB: belum jadi anggota TDA gimana ya caranya

    Suka

  2. arievz! berkata:

    Pak Roni, kenapa Bu Giat tidak dimodali mesin jahit saja? Kala iya, berarti jumlah TDA bertambah 1 org lagi. Just an idea. Thx

    Suka

  3. emerzet615 berkata:

    …wah pak Roni, blog bapak inspiratif lho…saya tau TDA jg ga sengaja ketika menemukan blog pak Yusuf ‘Madurejo Swalayan’…Misi yg bagus n cemerlang (bagi saya yg ‘amphibi’ ini)..Saya tunggu artikel nya yg pak…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s