Life

Mama yang Pilih Rumahnya

Tulisan ini adalah pesanan dari seorang teman. Ia meminta saya bercerita mengenai peranan ibu di balik sukses saya, sebagai bahan untuk buku yang tengah disusunnya. Ia terkesan dari beberapa postingan saya yang menceritakan kedekatan saya dengan ibunda.

Hmm… Dari mana saya memulai? Topik tentang ibunda adalah topik sederhana namun sulit untuk dituliskan.

Pikiran saya melayang-layang, mengais-ngais kembali memori panjang yang terkumpul selama 34 tahun bersama ibunda. Sulit juga ya…

Suatu hari istri saya dinasihati oleh seorang Datuk atau sesepuh yang dituakan oleh orang di kampung. Waktu itu kami belum lama menikah.

Sebuah pepatah Minang ia kutip yang terjemahannya kira-kira begini: “sayang kepada buahnya, sayang kepada pohonnya”. Maksudnya, saya sebagai suami adalah buah dari pohonnya, yaitu orang tua saya.

Peran ibu hadir di hampir seluruh momen penting di dalam hidup saya. Keputusan untuk memilih sekolah, memulai bisnis, menikah, dan bahkan untuk memilih rumah pun saya libatkan beliau.

Contohnya adalah hari Ahad lalu. Malam sebelumnya saya menelepon beliau untuk mengajaknya menginap di rumah saya dan pagi-pagi kami bersama-sama mendengar ceramah di Masjid Sunda Kelapa, Menteng.

Seperti biasa, ibunda tidak menolak ajakan ini. Mengaji di Sunda Kelapa adalah seperti melepas rindu kampung halaman bagi kami. Ya, masjid ini dikenal luas dengan jamaahnya yang mayoritas berasal dari perantau Minang. Apalagi di Ahad pagi.

Jamaah tumpah ruah datang dari seluruh penjuru Jabodetabek. Berbagai makanan dan mata dagangan khas Minang dijajakan di pelataran masjid yang menurut saya sudah mirip dengan Pasar Atas Bukittinggi.

Ibu pun akhirnya larut mendengarkan ceramah di atas rumput taman sambil bersilaturahmi dengan sesama perantau dan sanak famili sekampung yang bertemu di sana.

Selepas dari Sunda Kelapa, kami pun meluncur ke daerah Kebayoran Lama. Saya ingin melibatkan ibunda untuk ikut memilih rumah yang sedang kami cari.

“Mama harus ikut memilih. Soalnya nanti mama juga tinggal di sini sambil menemani Vito”, kata saya.

Saya ajak beliau meninjau sebuah rumah dengan luas tanah lebih dari 500 meter. Halamannya luas dan ditanami berbagai macam pohon. Ada pohon mangga yang sedang berbuah, belimbing dan rambutan.

“Seperti rumah di kampung, Ma. Tenang dan banyak tanamannya”, kata saya meyakinkan.

Tapi ibu nampaknya kurang sepakat dengan pendapat saya ini. Menurutnya, rumah itu terlalu besar untuk kami bertiga. Sulit merawatnya nanti. Paling tidak perlu 2 pembantu dan 1 tukang kebun untuk merawat rumah ini.

Ibu lebih cenderung dengan rumah yang kami lihat sebelumnya. Tanahnya cuma 180 meter persegi dengan bangunan yang kompak dan mudah perawatannya.

Saya tetap ingin meyakinkan ibu dengan pilihan saya itu. Rumah impian saya bukanlah rumah mewah dan besar. Saya ingin punya rumah yang tanahnya luas, dengan bangunan yang kecil saja.

Saya selalu teringat dengan kata-kata dari Cicero, “If you have a garden and a library, you have every thing yo need”. Saya ingin rumah yang bertaman luas dan memiliki ruang perpustakaan pribadi mirip punya Bung Hatta yang saya kagumi itu.

Saya sebenarnya bisa saja memutuskan sendiri tanpa melibatkan ibunda. Tapi saya ingin beliau juga ikut berperan dalam proses ini. Ibu seperti dihargai, meski pun keputusan akhir ada di tangan saya.

Sebenarnya, apa sih yang diharapkan oleh seorang ibu ketika melihat anak-anaknya sudah besar dan mandiri? Yang menjadi vitamin buat seorang ibu adalah berita-berita gembira dari anak-anaknya.

Di setiap kesempatan, saya hampir tidak pernah bercerita yang negatif. Saya selalu berbagi cerita gembira dengan beliau.

“Alhamdulillah Ma, omset Manet sekarang naik terus. Manet sekarang begitu sibuk, mirip seperti menjelang bulan puasa”, kata saya. Padahal, di balik semua itu saya harus jungkir balik mengendalikan operasionalnya.

“Ma, habis lebaran nanti kita pulang basamo ya Ma. Nanti sekalian kita bikin acara adat menjemput cucu untuk Vito”.

“Ma, Vito sekarang sudah pandai bolak balik di kasur. Dia juga rajin berceloteh”.

Cerita-cerita penuh kegembiraan, hal-hal positif dan penuh harapan seperti itulah yang selalu saya sampaikan kepada ibunda.

Change focus, demikian pesan Anthony Robbins. Hal-hal negatif itu selalu ada. Pilihan ada di tangan kita. Mau negatif atau positif? Saya memilih untuk mengarahkan pikiran saya dan ibunda untuk selalu positif.

Kalau sekali-sekali ibu mengeluhkan hal-hal negatif, selalu saya alihkan kepada yang positif. Alhamdulillah, cara ini selalu berhasil. You are what you focus on.

Bersambung. Insya Allah…

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s