Books and Learning, Business, Life

Ibuku yang Pantang Menyerah, Mengeluh dan Meminta

Cerita saya kemarin mendapat tanggapan dari salah satu pembaca. Ia berterima kasih kepada saya karena telah menyadarkannya bahwa selama ini ia sering bercerita hal-hal negatif dan berkeluh kesah kepada ibunya.

Hasil penelitian mengatakan bahwa manusia menerima berita negatif di sebagian besar harinya. Haruskah itu kita tambahkan lagi untuk orang-orang yang kita cintai?

Waktu bisnis kami nyaris bangkrut di Tanah Abang akhir 2003 lalu, orang tua kami sama sekali tidak tahu. Ya, mereka sama sekali tidak tahu kemalangan yang menimpa kami itu.

Belakangan, setelah bangkit lagi, barulah mereka kami beri tahu. Sampai mertua saya berpesan dengan lirih berulang kali, “lain kali kalau bangkrut, jangan diam-diam aja ya…”

Saya dan istri adalah anak sulung. Kami bertekad untuk memberi contoh kepada adik-adik supaya menjadi pebisnis yang kuat, tidak mudah menyerah dan mengeluh.

Jiwa pantang menyerah dan mengeluh ini saya pelajari dari ibu saya. Secara verbal, ibu saya hampir tidak pernah mengajari perihal nilai-nilai kehidupan. Maklum, beliau hanya lulusan kelas 3 SD.

Tapi saya belajar dari contoh sikap hidup dan daya juangnya yang tinggi. Beliau adalah super mom, menurut saya. Mencari nafkah dan mengurus anak dilakukannya berbarengan.

Saya memberi istilah mencari nafkah, bukan wanita karir. Menjadi wanita karir itu adalah pilihan, mencari nafkah itu adalah karena keadaan. Keluarga kami tidak miskin. Namun hidup sebagai pedagang kaki lima begitu berat dan serba tidak pasti.

Kadang keluarga kami harus mengencangkan ikat pinggang selama petugas trantib “membersihkan” pasar kaget tempat kami berdagang.

Hidup dalam ketidakpastian sudah menjadi menu sehari-hari keluarga kami. Makanya, setiap hari itu harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Soalnya, besok belum tentu bisa berdagang.

Sikap hidup pantang menyerah dan mengeluh itu begitu membekas di dalam diri saya sampai sekarang.

Satu hal lagi pelajari dari sikap hidup ibu adalah pantang meminta. Menurutnya, hidup itu harus mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Padahal, menurut saya kalau ada saudara atau famili yang bisa dimintai bantuan, kenapa tidak?

Tapi ibu saya berpendapat lain. Beliau sama sekali tidak pernah mengeluhkan kesulitan hidup kepada saudara-saudaranya. Haram baginya untuk meminta-minta.

Padahal, kakak kandungnya atau tante saya adalah orang yang kaya ketika itu. Di kampung kami, ia termasuk orang paling kaya. Bayangkan, ketika seluruh rumah di desa masih gelap gulita, rumah beliau terang benderang oleh listrik dari mesin diesel.

Semua itu tidak membuat ibu saya bergeming. Beliau tetap pada pendiriannya bahwa hidup itu harus mandiri dan tidak boleh merendahkan diri dengan meminta.

Saya akhirnya menyadari sikap itu ada betulnya juga. Dengan sikap tidak pernah meminta itu, beliau berusaha keras untuk mencapai keinginannya tanpa mengharapkan bantuan dari siapa pun.

Di sisi lain, ada salah satu famili yang punya sikap sebaliknya, gampang meminta. Setiap mengalami kesulitan selalu minta bantuan, baik itu modal usaha dan sebagainya. Dampaknya, daya juangnya menjadi rendah dan gampang menyerah. Sebab, setiap kali gagal toh dengan mudah meminta bantuan lagi kepada sanak keluarga. Sikap ini pun akhirnya menurun kepada anak-anaknya.

Pantang menyerah, mengeluh dan meminta adalah sikap hidup yang saya teladani dari ibu sampai sekarang. Namun, istilah meminta di sini jangan diartikan sempit ya. Kalau minta didanai oleh bank, ya sah-sah aja. Tapi meminta bantuan karena kepepet dan merendahkan diri, tidak pernah saya lakukan.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB: Foto di atas adalah ketika saya mengajak ibu jalan-jalan di Kuala Lumpur tahun 2005.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s