Business

Cashflow Tornado a la Palembang

Istilah cashflow tornado ini saya dapatkan dari Pak Rosihan. Intinya adalah, jual semurah-murahnya dengan margin tipis untuk mendapatkan tingkat perputaran yang tinggi.

Ini adalah teknik bisnis paling kuno tapi masih dipraktekkan sampai sekarang. Lihatlah di pasar-pasar tradisional, di pusat-pusat grosir. Bahkan perusahaan-perusaahaan besar pun masih menggunakan teknik ini. Perang tarif operator seluler yang makin panas dan perang tarif tiket pesawat adalah beberapa contohnya.

Saat berkunjung ke Palembang dalam rangka resepsi adik ipar saya kemarin, saya tak melewatkan kesempatan ini untuk sekedar bertanya bagaimana denyut bisnis di Palembang saat ini.

Kebetulan, Andre yang menjemput saya ini berdagang grosir seprai dan bed cover di Pasar 16 Ilir Palembang.

Sambil ngopi Capuccino, saya pun beraksi dengan pertanyaan standar, “Bagaimana kondisi pasar di Palembang saat ini, An?”.

“Wah, berat Da, harga hancur, untung makin tipis. Persaingan makin ketat. Ada pemain baru yang banting harga. Untung seprai saat ini cuma Rp. 2.500 per potong. Padahal modalnya sudah lebih dari Rp. 200.000. Tipis sekali”, jawab adik sepupu istri saya ini.

“Dia berani jual tanpa untung. Bahkan, bisa ngasih utang”, lanjut Andre sambil menyeruput kopi hangat.

Begitulah pola persaingan a la cashflow tornado ini berlangsung di mana-mana. Akhirnya, siapa yang kuat bertahan, dialah yang menang.

Target utama pemain baru ini mungkin untuk mematikan pemain-pemain lain. Setelah itu dia akan melenggang sendirian. Syaratnya, modal musti kuat. Dan memang, pemain baru ini disokong oleh modal sangat kuat.

Tapi, belakangan cara seperti ini mulai menuai masalah. Satu per satu piutangnya mulai macet. Otomatis hal ini berpengaruh kepada pembayarannya ke supplier. Dampaknya, barang dagangannya pun berkurang jumlah dan variasinya.

Hal ini dilihat dan dimanfaatkan dengan jeli oleh Andre. Ia terus menambah varian dan melengkapi barang dagangannya.

“Alhamdulillah Da, supplier di Jakarta mau membantu dengan memberi utang. Dari satu toko saja, An boleh ngutang sampai 900 juta. Toko lain ada yang 400 juta”, tutur Andre yang mungkin belum 5 tahun berdagang ini. Prestasi ini termasuk luar biasa. Kredibilitasnya sudah mulai diperhitungkan.

“Ya, kalau dagang model adu harga seperti ini syaratnya tidak boleh ada yang “patah”. Barang musti lengkap dan tidak boleh putus, cashflow harus lancar, dan bisa ngutang ke supplier”, saran saya.

Andre, seperti pedagang lainnya di pusat grosir seperti ini tidak punya pilihan lain kecuali melayani dengan cara bersaing yang sama. Artinya, dia harus kuat melawan tekanan persaingan harga seperti ini.

Hanya itulah yang bisa dilakukannya. Tidak ada pelanggan yang loyal kecuali kepada harga. Selisih Rp. 500 saja mereka akan berpaling ke pesaing. Jangan dulu bicara service dan sebagainya.

Meski pun teknik bisnis seperti ini sudah terbilang kuno, namun masih dipakai sampai sekarang. Sekarang pilihannya tergantung di kita. Mau main dengan cara “kerumunan” seperti ini atau keluar dari kerumunan itu dan mencari cara yang lain.

Kalau saya sih memilih keluar dari kerumuman itu dan menggunakan cara saya sendiri. I created my own blue ocean…

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB: Pak Iim ada-ada aja. Masak kita dibilang Three Musketeer. Haha… Silakan baca ceritanya di sini.

Iklan
Standar

One thought on “Cashflow Tornado a la Palembang

  1. Taufan berkata:

    wah..saya termasuk dalam persaingan seperti ini dan KALAH….lempar handuk putih ke tengah ring…dan sekarang sedang mencari ring yang lain….he he he….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s