Books and Learning, Business, Life

Tanpa Sengaja, Saya Sering Menggunakan Prinsip Pareto dan Parkinson

“Pak Roni, kalau ujian pake Sistim Kebut Semalam (SKS), pake Prinsip Parkinson juga ya? Jadi disalah gunain deh prinsipnya”, demikian tulis Pak Nur Alam, mengomentari tulisan saya kemarin.

Jawaban saya: betul sekali. Haha…

Waktu kuliah, saya sering menggunakan prinsip belajar kepepet ini.

Hasilnya? Not bad. Indeks Prestasi saya sering juga melampaui angka 3 koma.

Karena sering pakai sistim SKS ini, akhirnya tanpa sengaja saja menemukan sistim seperti mind mapping yang belakangan saya ketahui dipopulerkan oleh Tony Buzan.

Pengalaman yang paling mengesankan dan tidak pernah saya lupakan adalah waktu ujian akhir SMA dulu.

Ketika teman-teman lain sudah pada mengikuti bimbingan belajar, saya masih santai.

Ketika teman-teman lain sudah membuat kelompok-kelompok belajar, saya masih malas-malasan.

Saya hanya sibuk mengumpulkan buku-buku pelajaran dan soal-soal ujian tahun sebelumnya. Tumpukannnya cukup tinggi di sudut kamar saya. Tapi sama sekali tidak saya sentuh, apa lagi dipelajari.

Rencananya, 3 bulan sebelum ujian saya akan kebut belajar. Kenyataannya, buku itu masih belum juga tersentuh.

Waktu ujian semakin dekat. Saya pun panik.Saya kepepet. Mau mulai dari mana belajarnya? Buku sebanyak itu malah bikin saya stres. Banyak sekali yang perlu dipelajari.

Akhirnya, tanpa sengaja saya menggunakan Prinsip Pareto 80/20 dan Parkinson itu.

Hasilnya? Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya mendapat peringkat nomor 2 tertinggi di sekolah.

Bagaimana saya dapat melakukannya?

Saya bikin riset kecil-kecilan. Saya teliti soal-soal apa saja dari setiap mata pelajaran yang selalu keluar setiap tahun. Setelah ketemu, saya fokus hanya mempelajari soal itu saja. Yang lain tidak.

Begitu pula membaca buku. Saya persempit fokus belajar hanya untuk bab-bab yang sering keluar di ujian.

Saya temukan bahwa 80% pertanyaan berasal dari bab yang itu-itu saja. Saya pun kemudian fokus mempelajari bab itu saja, yang lain tidak.

Pertimbangan saya adalah, saya hanya mengejar yang 80% saja, sisanya saya kesampingkan.

Saya hanya fokus memaksimalkan nilai untuk mata pelajaran yang saya kuasai. Mata pelajaran yang tidak saya kuasai, terpaksa saya kesampingkan.

Memang kesannya seperti spekulasi, gambling. Kalau prediksi saya ini salah, matilah saya.

Ternyata dugaan saya benar.

Contoh paling sukses adalah dalam mata pelajaran bahasa Inggris, nilai NEM saya lebih dari 9. Ini mengangkat nilai NEM secara keseluruhan.

Saya sendiri kaget ketika diumumkan bahwa NEM orang malas seperti saya ini meraih peringkat tertinggi nomor 2 di sekolah. Hehe…

Padahal saya tidak pintar. Saya tidak tekun dan rajin belajar. Karena kepepet, saya menggunakan prinsip yang belakang saya ketahui namanya adalah Pareto dan Parkinson itu.

Di dalam praktek berbisnis, saya sangat terbantu sekali dengan penggunaan prinsip-prinsip itu. Kalau tidak, mana mungkin bisa seperti sekarang ini. Mungkin saya masih “gentayangan” di Tanah Abang, bekerja 7 hari seminggu tanpa libur dengan income pas-pasan.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB: Oya, buku yang sangat membantu saya dalam menerapkan prinsip ini adalah karya Richard Koch dengan 3 bukunya: Living the 80/20 Way, The 80/20 Principle, Rahasia untuk Memperoleh Lebih Banyak Hasil dengan Lebih Sedikit Usaha dan The 80/20 Individual, How To Build on the 20% of What You Do Best.

Tulisan Terkait: Prinsip 80/20, Usaha Lebih Sedikit, Hasil Lebih Banyak

QUOTE: Yang terukur itulah yang bisa dikelola. – Peter F. Drucker

NB 2: Sampai ketemu nanti sore di Hotel Sofyan Betawi di acara TDA Forum. Akan hadir nara sumber Isdiyanto (Pemred Majalah WK), Zainal Abidin (Rektor Institut Kemandirian Dompet Dhuafa) dan Tyas Anggoro (mantan penyiar Elshinta dan Trijaya). Be there, or be behind!

NB 3: Di acara TDA Forum ini juga akan ada penyerahan secara simbolis paket pinjaman tanpa bunga tanpa jaminan kepada salah satu alumni dari TDA Entrepreneur Maker.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s