Business

Mini Market di Tengah Perkampungan Itu…

Pagi itu, seperti biasa saya mengajak Vito jalan-jalan. Ini adalah rutinitas pagi. Lumayan, buat mencari keringat. Jalan kaki minimal 30 menit sehari, itulah target saya.

Sudah pasti, Vito senang sekali dengan ritual yang selalu dinantinya ini. Jalur mana pun yang akan dilewati, tidak masalah buat dia. Yang penting jalan-jalan dengan Papa.

Keluar dari pintu rumah, saya pun membelokkan kaki ke arah kiri. Ke arah perkampungan yang padat penduduk.

Di pinggir jalan sudah nongkrong para pengojek yang menunggu penumpang pagi. Di sudut lain, tampak tukang sayur keliling dikerubuti pembeli. Ada juga kedai kopi yang ditongkrongi para peminum. Tukang nasi uduk juga sibuk melayani pembeli untuk sarapan pagi. Menarik sekali aktivitas pagi warga di lingkungan saya ini.

Saya perhatikan, satu per satu warung barang harian (kelontong) pun mulai di buka. Warung seperti ini banyak tersebar di sepanjang jalan yang saya lalui.

Tiba-tiba, mata saya tertuju kepada sebuah bangunan yang sepertinya sedang dalam proses penyelesaian. Dari ciri-ciri bangunan, banyaknya pintu kaca dan parkir yang cukup luas, saya langsung bisa menebak: ini pasti akan dijadikan mini market.

Pembukaan cabang mini market memang marak sekali saat ini. Persaingan di bisnis ini pun begitu ketat, terutama oleh dua brand yang sudah sangat dikenal itu.

Jarak antara satu mini market dengan yang lain saat ini begitu berdekatan. Persaingan terbuka tak bisa dihindari.

Saya membayangkan bahwa persaingan itu akan segera terjadi di kampung sebelah kiri komplek tempat tinggal saya ini. Sebab, tak jauh dari mini market yang akan dibuka ini juga telah dibuka mini market serupa.

Yang jadi keprihatinan saya adalah, bagaimana nasib warung-warung kecil di sepanjang jalan itu? Apakah mereka bisa bersaing dengan para “gajah” itu?

Saya yakin, setelah dibukanya mini market itu, satu per satu mereka akan kehilangan pelanggan yang lari ke tempat yang lebih nyaman, produknya lengkap dan manajemen modern itu.

Terus terang, hati kecil saya agak terganggu dengan hal ini.

Sebagai pebisnis, tentu saya mencari peluang dan laba yang setinggi-tingginya. Tapi, kalau itu harus mematikan “orang kecil”, hati kecil saya kok nggak sreg ya.

“Cek dulu hati nuranimu, sebelum bertindak”, demikian pesan Erbe Sentanu, penulis buku laris Quantum Ikhlas itu.

Sudahkah para pengusaha ini mengecek hati nuraninya sebelum memilih lokasi di situ?

Bisnis mini market ini memang menjanjikan bagi para investor. Bayangkan, dengan menyediakan dana beberapa ratus juta saja, investor bisa menikmati passive income belasan juta rupiah per bulan.

Bisnis ini benar-benar bisa berjalan dengan sendirinya. Berjalan secara auto pilot. It’s really money making machine.

Tapi, kalau itu berdampak dengan matinya para pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya dari warung-warung sederhana itu, sulit rasanya bagi saya untuk memilih investasi seperti ini. Hati kecil saya menolaknya.

Bagaimana dengan anda?

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Foto: uds.uvm.edu

Iklan
Standar

10 thoughts on “Mini Market di Tengah Perkampungan Itu…

  1. Badroni Yuzirman berkata:

    @Siszid: Masak sih? Hehe…

    @Samudra: Ini menarik. Banyak bisnis yg dimulai oleh wong cilik, kemudian diambil alih oleh yang besar.

    Suka

  2. don berkata:

    saya pernah ngobrol dengan teman, kenapa ngga kios2 kelontong yang di pinggir jalan, kita rangkul untuk dijadikan mitra usaha. (just a dream)

    Suka

  3. Badroni Yuzirman berkata:

    @Don: Sebenarnya sudah banyak yang melakukannya. Harusnya seperti itu, biar win-win.

    Di Amerika, daerah yang dimasuki oleh Wal-Mart juga mematikan toko2 kecil. Di Indonesia hal spt itu sudah terjadi. Pasar tradisional sudah banyak yg mati sekarang.

    Harus ada kebijakan pemerintah yang tegas dalam mengatur hal ini.

    Suka

  4. monique berkata:

    toko kelontong modern juga mempekerjakan banyak orang, artinya dia juga menghidupkan sendi ekonomi directly or in directly.

    Suka

  5. monique berkata:

    toko kelontong modern juga memeberikan pekerjaan ke lumayan banyak orang, artinyya ia menghidupkan sendi ekonomi directly or indirectly. gimana pendapat anda ?

    Suka

  6. andri berkata:

    salah satu brand minimarket sudah melakukan kemitraan dengan koperasi dan warung rombong. Rencananya sih dia mau jadi stockpoint untuk warung2 kecil di sekitarnya, sehingga warung2 kecil itu bisa jualan dengan harga yang sama murahnya dengan minimarket itu

    Suka

  7. Andhika Harya Pratama berkata:

    quote : Di Amerika, daerah yang dimasuki oleh Wal-Mart juga mematikan toko2 kecil. Di Indonesia hal spt itu sudah terjadi. Pasar tradisional sudah banyak yg mati sekarang.

    temen di solo pernah survei beneran utk membuktikan teori di atas. ternyata yang mematikan pasar tradisional bukan mini market tapi pedagang sayur keliling! ini data yang mereka temukan di lapangan, pak.

    nah, kalo wong besar vs wong kecil sih agak gampang. kalo kecil vs kecil (alias pasar vs pedagang keliling?)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s