Life

Mengantar Cucu ke Rumah Neneknya

Para ibu mengantar cucu dengan membawa makanan dipikul di atas kepala. Ibu mertua saya (tertawa), meminta tolong untuk diangkatkan, karena tidak kuat memikul dengan kepala

Makan bajamba, satu piring rame-rame, bisa 4-5 orang. Nasi dan lauk ditambah terus, tidak boleh berhenti sebelum habis. Saya menyerah di tengah jalan…

Ini beras Vito, yang diberikan oleh keluarga besar saya. Terkumpul 2 bakul.

Keesokan harinya, Vito bersama beras yang terkumpul, diantar lagi oleh keluarga saya

Ada beberapa acara penting yang menjadi agenda selama di kampung kemarin.

Yang pertama adalah acara adat “Mengantar Cucu ke Rumah Neneknya” atau maanta paja ka rumah inyiakno.

Karena di Minang berlaku sistim matrilineal, jadi Vito menjadi bagian dari keluarga istri saya. Ketika dia pulang kampung, dia harus dibawa ke rumah istri saya dulu.

Vito belum bisa datang ke rumah keluarga saya sebelum dibuat acara adat sebagai simbol bahwa Vito sudah resmi boleh menginjakkan kakinya di rumah neneknya (dari pihak laki-laki).

Meski pun jadi lebih ribet, tapi saya tidak bisa menolak diadakannya acara ini. Saya menyerah saja menuruti petuah orang di kampung harus begini, begini dan begini. Termasuk ibu saya yang sudah lama merantau dan tidak ingat lagi dengan prosesi adat ini.

Begitu sampai di kampung, dari pihak saya langsung menjemput Vito ke rumah Ely, istri saya. Setelah dijamu makan siang, Vito pun diantar beramai-ramai. Para ibu membawa makanan dan penganan yang dipikul di atas kepala sampai ke rumah keluarga kami.

Sesampai di rumah keluarga saya, para tamu disambut dengan jamuan makan lagi. Cara makannya pun istimewa. Namanya makan bajamba, alias satu piring rame-rame. Unik tapi mengasyikkan juga. Bagi pemula seperti saya, tidak mudah melakukannya.

Setelah itu, para pengantar pulang dan Vito bersama mamanya harus menginap minimal semalam di rumah itu. Para tamu dari keluarga besar saya pun berdatangan membawa beras dan uang sebagai hadiah untuk Vito. Alhamdulillah, terkumpul uang beberapa ratus ribu dan beras dua bakul.

Keesokan harinya, bersama rombongan keluarga saya, Vito pun diantar kembali ke rumah mamanya bersama beras dua bakul dan uang hadiah dari keluarga besar saya.

Di sana sudah menunggu anggota keluarga istri saya untuk menjamu makan. Ya, adat di Minang ini sangat mengutamakan makan. Segala sesuatunya harus dimulai dan diakhiri dengan makan.

“Di Sumbar ini tidak ada unjuk rasa, yang ada hanya unjuk nasi”, kata Gubernur Gamawan Fauzi, saat membuka Silaturahim Saudagar Minang di Padang.

Sebenarnya Vito harus dijemput oleh pihak keluarga istri saya, sebelum diantar. Tapi karena pertimbangan efisiensi dan tenaga, akhirnya diputuskan untuk diantar sendiri oleh pihak keluarga saya.

Demikianlah adat istiadat itu memang kadang bikin ribet dan tidak efisien. Resminya, acara ini bisa memakan waktu 3 hari. Tapi kami bernegosiasi dengan orang di kampung agar diringkas jadi satu hari saja. Akhirnya didapat jalan tengah menjadi 2 hari.

Namun, di balik itu semua, saya dan istri memang ingin agar Vito itu tahu dengan adat, budaya dan asal usulnya. Sejak awal ia kami perkenalkan dengan kampung halaman dan sanak famili di kampung.

Kami ingin mendidiknya untuk menjadi anak yang berpikir global, modern tapi tetap berpondasi nilai-nilai agama dan budaya dari mana ia berasal.

Kecintaan kepada kampung halaman dan asal usul adalah satu hal yang tidak bisa dinalar, kata Einstein. Entah mengapa. Dalam hal ini, saya setuju dengan Einstein.

Next time, insya Allah kami akan membawa Vito pulang kampung lagi untuk mengikuti kegiatan Khatam Al Qur’an. Di mana anak-anak yang sudah tamat membaca Al Qur’an akan dirayakan secara besar-besaran dan diarak keliling nagari (kampung).

Wassalam,

Roni

Iklan
Standar

3 thoughts on “Mengantar Cucu ke Rumah Neneknya

  1. Badroni Yuzirman berkata:

    @Taufan: ya, Indonesia kaya sekali dengan budaya beraneka ragam. Di Minang aja setiap daerah beda juga adatnya. Ini adalah kekayaan bangsa kita.

    Suka

  2. Khalimah berkata:

    Senang sekali melihat tradisi yang terus dilestarikan. Semoga seni tradisi di Indonesia terus dijaga.

    wassalam
    Mulyana
    http:www.kinanti.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s