Indonesiaku

Mengunjungi Rumah Kelahiran Bung Hatta

Tampak depan. Bangunan ini dibangun ulang sejak 1995, setelah dibeli oleh Pemda Bukittinggi. Rumah ini sebelumnya dijual oleh keluarga besar Bung Hatta kepada pemilik toko di sebelah rumah.

(Mungkin) ini ruang tempat Bung Hatta dilahirkan. Saya tidak sempat tanya kepada penjaga rumah ini.

Ruang tengah lantai bawah. Kursi dan perabotnya masih asli. Di sekelilingnya dipajang foto-foto dan silsilah keluarga Bung Hatta

Kamar Bujang, tempat Bung Hatta menginap sekali-sekali, selain di Surau yang berada tepat di depan rumah ini

We were here! Berharap Vito bisa mewarisi nilai-nilai luhur Bung Hatta

Salah satu yang membuat saya penasaran dengan kota Bukittinggi adalah rumah kelahiran Bung Hatta. Waktu pulang kampung terakhir, saya hanya sempat melihat rumah bersejarah ini dari depan saja, karena sedang ditutup saat itu.

Kali ini saya harus masuk ke rumah itu, batin saya. Saya tahu, sebagian keluarga saya pasti keheranan dengan kengototan saya ini. Pasalnya, menurut mereka mengunjungi tempat seperti ini pastilah membosankan, ketimbang jalan-jalan dan makan-makan.

Nyatanya tidak demikian. Ibu saya, ibu mertua, Ely istri saya, Deri adik ipar saya, dan keluarga yang lain begitu menikmati kunjungan ke rumah kelahiran proklamator RI ini.

Satu persatu ruangan mereka masuki dengan komentar kagum dan rasa terpesona. Bentuk lay out rumah itu menurut mereka cukup canggih untuk ukuran saat itu.

Rumah itu berlantai dua dengan dua ruang terbuka di atas dan di bawah. Di sisi kiri dan kanan ada kamar-kamar untuk setiap penghuninya. Salah satunya adalah kamar kelahiran Bung Hatta.

Masing-masing lantai memiliki teras dengan view yang bagus. Di belakang ada 2 bangunan kecil yang berfungsi sebagai lumbung penyimpan padi atau rangkiang.

Kamar mandi dan dapur dibuat terpisah di bagian belakang. Di samping kamar mandi ada garasi untuk bendi / delman. Di samping rumah ada semacam istal atau kandang kuda yang cukup untuk 3 ekor kuda. Ini menggambarkan bahwa keluarga Bung Hatta adalah keluarga yang cukup berada saat itu.

Di sinilah sang pemikir dan pembaca buku yang tekun itu dilahirkan. “Bung Hatta tinggal di sini sampai setingkat SMP (MULO)”, kata penjaga rumah itu. “Setelah itu ia belajar ke Belanda dan tidak pernah lagi tinggal di sini”.

Ada sebuah ruangan terpisah di teras di samping pintu masuk yang diberi nama Kamar Bujang. “Apa maksudnya?”, tanya saya kepada penjaga itu.

“Waktu bujang (akil baliq) Bung Hatta tinggal di ruangan ini selain di surau tempat ia belajar mengaji. Supaya ia bisa keluar masuk tanpa mengganggu anggota keluarga yang lain”, jawabnya.

Sebagaimana diketahui, dalam sistim matrilineal di Minangkabau seorang anak laki-laki tidak mendapat tempat di rumah keluarga. Ia harus tinggal di surau untuk mengaji dan belajar kehidupan. Setelah itu ia harus hidup mandiri atau merantau.

Inilah contoh falsafah Minang yang dikenal dengan Tigo Tungku Sajarangan: adat bersendi syariat, syariat bersendi kitabullah. Alam terkembang jadi guru.

Di setiap dinding ruang tengah terpasang foto-foto Bung Hatta dan silsilah keluarga beliau. Di salah satu sudut juga tersimpan lemari yang berisikan sebagaian buku-buku koleksi beliau.

Mengunjungi rumah bersejarah ini membuat pikiran saya melayang. Membayangkan tokoh besar ini dengan segala jasanya kepada bangsa. Ia adalah sosok yang jujur, sederhana, bijak dan teguh pada pendirian. Ia rela berpisah jalan dengan Bung Karno karena perbedaan prinsip di antara mereka.

Saya berandai-andai, jika pemikiran Bung Hatta diaplikasikan, tentunya arah dan nasib bangsa kita saat ini akan berbeda.

Sejak awal beliau sudah memperingatkan akan bahaya korupsi yang mulai menggerogoti bangsa saat itu. Dan betul, kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Indonesia terpuruk menjadi salah satu negara terkorup di dunia. Beliau begitu peduli dengan ekonomi kerakyatan dan berkeadilan dengan konsep koperasi.

Di akhir kunjungan saya bertanya kepada penjaga di mana lokasi perpustakaan Bung Hatta. Saya tertarik mengunjungi tempat di mana keluarga Bung Hatta menyumbangkan ribuan koleksi bukunya untuk dinikmati oleh anak bangsa. Setelah saya catat alamatnya, saya pun mengagendakan kunjungan ke sana.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas (TDA)


NB: Kunjungan ini membuat saya berpikir untuk mengunjungi rumah kelahiran tokoh-tokoh lain seperti: Sjahrir, Agus Salim, Hamka, M. Natsir, M. Yamin, Abdul Moeis, Tan Malaka, Rasuna Said, Imam Bonjol, Adnan Kapau Gani, dll. Kenapa Pemda/Pemkot atau agen travel tidak membuat paket tour napak tilas ke tempat-tempat seperti ini? Pasti menarik…

Iklan
Standar

2 thoughts on “Mengunjungi Rumah Kelahiran Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s