Business

Saudagar Itu Dulunya Seorang Penjual Kacang Rebus

Ada yang bertanya tentang bisnis saudagar yang gambar rumahnya saya tampilkan beberapa hari lalu di blog ini.

Bisnisnya sederhana: dagang baju. Ya, dagang baju. Istilah kerennya, bisnis ritel.

Ia berdagang di Jambi. Dari informasi yang saya terima, ia sekarang menjadi salah seorang perantau asal Minang terkaya di sana.

Saya pernah mengunjungi tokonya di sana, karena adik laki-lakinya adalah suami dari salah satu famili saya. Tokonya saat itu berjumlah 8 buah, tersebar di sekitar pusat kota Jambi.

Rumahnya besar sekali. Anak-anaknya semua sekolah di Amerika sampai S-2.

Awal mulanya ia berbisnis adalah sebagai penjual kacang rebus. Haji Amin – sebut saja namanya demikian – mengawali perjalanan bisnisnya memang dari bawah sekali. Keluarganya dikenal sangat miskin di kampung saya, Magek, Bukittinggi.

Ibu saya, yang berusia tak jauh darinya, mengisahkan bahwa Haji Amin ini dulu sering diolok-olok oleh teman seusianya karena berjualan kacang rebus ini.

Sekarang, kehidupan Pak Haji yang kabarnya buta huruf ini sudah seperti bumi dan langit. Seluruh keluarganya menikmati berkahnya.

Saya sempat bertemu beberapa kali dengannya di Jambi, sosoknya sangat sederhana dan cuek sekali. Bahkan, kalau bicara pun terkesan kampungan.

Jika ia berbelanja ke Tanah Abang, para pedagang beramai-ramai memanggil namanya supaya tokonya untuk menarik perhatiannya. Mereka semua tahu, bahwa Haji Amin ini adalah buyer besar.

Saat berbelanja ia sudah tidak pakai uang kontan lagi. Cukup pakai giro mundur yang ditandatanganinya dengan cap jempol.

Saat berbincang-bincang dengan saya dan adiknya, saya mempelajari sedikit ‘ilmunya’. Ilmunya sederhana saja, tidak canggih, hanya common sense. Beli murah sebanyak-banyaknya, dan jual dengan margin cukup sebanyak-banyaknya.

Sekali-sekali ia membicarakan beberapa properti yang dijual di daerahnya. Satu hal kunci yang saya garis bawahi adalah: ia begitu kompak dengan adiknya. Ia membangun bisnisnya bersama adiknya ini. Adiknya bertindak sebagai penjaga gawang di Jambi, dan ia bertugas keliling-keliling mencari barang ke Jawa. Istilah kerennya sebagai purchaser atau merchandiser.

Kekompakan itulah yang menjadi kekuatannya dalam membangun bisnis. Hal ini jarang saya temukan di kalangan pebisnis lain.

Terakhir saya dengar adiknya itu terjatuh dan tangannya patah. Dengan segera ia mencarter pesawat untuk menerbangkannya ke rumah sakit di Malaka, Malaysia.

Semoga bermanfaat.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Iklan
Standar

6 thoughts on “Saudagar Itu Dulunya Seorang Penjual Kacang Rebus

  1. Badroni Yuzirman berkata:

    @Zidni: Ya. Lagian kisah hidupnya memang menarik dan inspiratif…

    @Admin: Silakan pak…Tks

    @Imamnisa: Sama2, semoga bermanfaat…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s