Life, Mindset, Motivasi

Pelajaran dari Joki 3 in 1

Tak disangka, perjalanan pulang pergi ke Pancoran begitu menyita waktu dan menyiksa.

Saya perkirakan perjalanan untuk membeli ikan Koi di Hanggar itu memakan waktu tidak lebih dari 2 jam. Istri dan Vito pun saya minta untuk menunggu saja di kantor Manet untuk saya jemput lagi.

Jam 16.30 saya baru parkir.

Dengan cepat, tanpa tawar menawar yang ketat, sepuluh ekor ikan Koi pun langsung saya suruh ‘bungkus’.

Pulangnya saya bingung. Saya tidak terbiasa dengan lalu lintas di saat jam pulang kantor di area 3 in 1 ini. Saya juga tidak terbiasa menggunakan jasa joki.

Tapi, janji dengan istri dan membayangkan Vito harus menunggu di kantor membuat saya mengambil keputusan untuk menggunakan jasa mereka.

Saya pilih-pilih mana yang cocok. Kalau tampangnya seram, saya lewati. Nah, ada pria dengan seorang anak perempuan berjilbab. Aman nih, batin saya. Lagi pula, saya bisa berhemat. Bayar satu untuk dua orang.

Untuk membunuh waktu di tengah kemacetan, saya pun berbincang-bincang dengan pria ini. Ada apa di balik pribadi ini? Saya selalu tertarik dengan kisah perjalanan hidup manusia. Semuanya unik, dan pasti ada inspirasi di baliknya.

Rupanya etiap pagi dan petang ia selalu nongkrong di sana menantikan tumpangan sebagai joki. Siang harinya ia mengamen. Lumayan, dari ngejoki dia bisa dapat rata-rata 40 ribu sehari dan dari ngamen 30 ribuan.

Saya menyarankan agar ia meningkatkan hidupnya. Pilihan yang saya tawarkan adalah berdagang. “Kumpulin duitnya Mas, buat modal. Trus suruh istri dagang apa kek. Atau bikin kue di rumah”, saran saya.

“Istri saya udah nggak ada Mas. Dia kawin lagi dengan laki-laki laen. Tukang bangunan, yang penghasilannya lebih pasti”, jawabnya lirih.

“Lantas, anak-anak sama siapa?”, tanya saya penasaran.

“Saya saya semua Mas, tiga-tiganya. Dia nggak mau bawa”, jawabnya, masih dengan lirih dan nada suara tertahan.

Saya terdiam. Bermacam pikiran berkecamuk dalam benak. Kok bisa ya.

Tapi, itulah hidup. Saya lihat dia cukup tabah dan tidak putus asa. Setiap hari, salah satu dari ketiga putrinya diajak untuk menemaninya ngejoki. “Kalau mereka males, ya saya nggak ngejoki”.

“Kalau lagi ngejoki, yang dua lagi di rumah gimana? Makannya gimana?”, tanya saya penasaran.

“Saya suruh beli lauk aja di warung. Kalau pake lele dua ribu sekali makan. Nasinya kan tinggal masak pake magic jar”, ujarnya.

Kerongkongan saya terasa tercekat mendengar kisahnya. Mereka harus hidup mandiri tanpa ibu.

“Jangan putus asa Mas. Tetap bersabar dan terus berusaha. Sekali lagi, saran saya kalau mau meningkatkan hidup, ya berdagang. Dagang kaki lima juga nggak apa-apa”.

“Wah, kalau dagang kaki lima nggak kuat dikejar-kejar trantib Mas”, tukasnya beralasan.

Saya pun menceritakan kisah hidup saya yang juga anak pedagang kaki lima, bahkan asongan.

“Dulu bapak saya dagang kayak gini nih Mas, seru saya sambil menunjuk pedagang asongan di perempatan jalan. Setelah ada modal, mulai dagang di meja 1 x 1 meter di emperan toko. Ada modal lagi, dagang kaki lima di trotoar jalan di daerah Pademangan. Karena sering digusur, akhirnya ngontrak toko sampai punya toko sendiri”, tutur saya.

Maksud saya menceritakan ini adalah untuk memotivasi dia. Bahwa kehidupan itu harus mulai dari bawah dan terus bertumbuh. Saya gunakan pendekatan Anthony Robbins agar membangun “rapport” atau empati dengan lawan bicara.

Dari penuturannya, tersirat bahwa ia pesimis untuk mencari pekerjaan. Alasannya, usia yang tidak muda lagi dan harus ada orang dalam untuk menjamin diterimanya bekerja.

Saya hanya berharap, dari perbincangan ini bisa membuka pikirannya untuk berubah dan terus meningkatkan diri.

Saya sendiri belajar dari pria yang memutuskan untuk tidak mau mengeluh dan menyerah pada nasib ini. Apa pun dilakukannya untuk ketiga buah hatinya.

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Gambar: artfiles.art.com

Iklan
Standar

4 thoughts on “Pelajaran dari Joki 3 in 1

  1. Herizaly, berkata:

    kalo Pak Roni beli ikan koi
    ( kesenangan )
    kalo Bapak Joki beli ikan lele ( utk makan )

    apa mau di kata itulah Jakarta…

    penuh dengan dinamika

    Suka

  2. birojasakendaraan berkata:

    wah sy lebih menyentuh riwayat orang tua pak roni dalam menembus belantara jakarta..sy pikir hanya ada di dongeng2 cerita tentang pedagang asongan yang berkembang menjadi pemilik toko..inspiring sekali pak!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s