Life, Mindset

Resolusi Tahun Baru, Perlukah?

Menurut saya, tidak semua orang cocok dengan resolusi tahun baru. Saya adalah salah satu contohnya. Sejak jaman kuliah, saya sudah mencoba membuatnya. Tapi hasilnya sama saja, bukannya tercapai malah tiap akhir tahun selalu dibebani rasa bersalah, merasa unhappy seperti teman saya ini. Saya jadi merasa malu terhadap diri sendiri.

Namun begitu, saya terus membuatnya. Soalnya, dari semua buku pengembangan diri yang saya baca tetap disarankan membuat resolusi dengan target yang spesifik untuk tahun depannya.

Pertanyaannya, kalau resolusi tahun lalu tidak tercapai, lantas tahun berikutnya gimana? Apakah targetnya dibuat dua kali lipat? Atau sama saja dengan sebelumnya?

Kalau dibuat dua kali lipat, bukankah jadi beban? Lha wong target sebelumnya saja belum kesampaian, masak ditambah terus.

Kalau dibuat sama dengan tahun sebelumnya, berarti kita nggak maju-maju dong. Jalan di tempat.

Hmmm….

Meski begitu, saya terus saja membuatnya. Hidup itu harus terus maju, meningkat dan berkembang.

Belakangan saya ketemu dengan Stephen Shapiro. Bukunya saya temukan tanpa sengaja. Judulnya memancing rasa penasaran saya, Goal Free Living, hidup tanpa sasaran? Ternyata hanya 8% orang di Amerika yang sukses mencapai target resolusi yang telah dibuatnya. Mereka banyak yang merasa desperate dengan resolusi yang telah dibuatnya.

Beberapa waktu lalu saya menonton DVD dari John Maxwell. Ia bercerita tentang seorang pria yang begitu semangat ingin berolah raga di gym tepat tanggal 1 Januari. Ia telah membuat resolusi untuk rutin berolah raga setiap hari.

Tapi, semangatnya itu terhalang oleh sulitnya mencari parkir di halaman pusat kebugaran tersebut. Akhirnya ia memarkir mobilnya 2 blok dari lokasi. Ketika ia komplain kepada manajer pusat kebugaran, ia mendapatkan jawaban enteng, “Datang saja 2 minggu lagi. Biasanya gym ini sangat penuh di awal tahun baru. Setelah 2 minggu akan kembali normal”.

Begitulah yang terjadi pada kebanyakan kita. Semangat hanya di awal. Hot-hot chicken sh**t!

Dan saya pun termasuk di antara orang banyak itu. Saya selalu membuat resolusi yang lengkap dan seimbang. Meliputi aspek bisnis, keuangan, sosial, mental, spiritual, keluarga, dan kesehatan. Biasanya di bulan kedua semua janji itu rontok satu per satu. Di penghujung tahun berakhir dengan rasa bersalah dan unhappy.

Stephen Shapiro menawarkan sesuatu yang unik tapi masuk akal. Ketimbang membuat resolusi yang sulit dicapai, ia menawarkan membuat “tema”.

Buatlah tema yang luas, yang tidak spesifik tapi menggairahkan, membangkitkan antusiasme dan semangat. Tema yang sesuai dengan passion kita.

Ia mencontohkan temannya yang membuat tema “service” atau melayani. Di TDA ada teman saya yang punya tema hidup seperti ini, namanya Pak Bambang Triwoko.

Tanpa sengaja saya pun pernah melakukan hal ini. Di tahun 2005, saat bisnis mulai stabil, saya memiliki waktu dan energi yang terluang. Saya harus membuat waktu itu menjadi bermanfaat, pikir saya. Saya ingin “berkontribusi” dengan waktu dan energi yang saya punya. Tapi saya tidak tahu jalannya. Saya tidak tahu harus melakukan apa untuk merealisasikannya.

Tiba-tiba “tangan tuhan” menyentuh saya. Saya diberi ilham, inspirasi, jalan. Saya “dibimbing” untuk menulis blog. Akhirnya, melalui blog itulah saya bisa mewujudkan keinginan berkontribusi kepada orang banyak. Dari blog itu lahirlah Komunitas TDA yang sampai hari ini saya sendiri masih tidak percaya. Subhanallah, kok bisa seperti ini ya.

Saya tidak pernah membuat target untuk mendirikan organisasi TDA dengan member sekian dan cabang di sekian tempat. Tidak pernah terlintas sedkit pun. Tapi, mungkin karena “tema” itulah semua itu menjadi kenyataan sekarang ini.

Tahun ini tema saya adalah “menikmati hidup sambil terus bertumbuh dan berkontribusi”. Memang tidak spesifik. Namun kalau saya telaah ke belakang, alhamdulillah saya telah mencapainya. Indikatornya adalah, saya merasa happy dengan kondisi saya saat ini. Saya tidak menyesal lagi dengan resolusi yang gagal dicapai seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kembali lagi, the choice is yours. Saya tidak mengatakan mana yang lebih baik atau lebih buruk. Saya hanya mengatakan bahwa saya sering gagal dengan resolusi tapi merasa nyaman dengan membuat tema. Thanks to Stephen Shapiro.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Foto: Lifedynamix.com

Iklan
Standar

8 thoughts on “Resolusi Tahun Baru, Perlukah?

  1. E-PUBLISHINGMEDIA.COM berkata:

    Mas Ron,.. Kadang saya juga mematok hal – hal yang ingin saya capai pada tahun baru ini,.. Prinsip saya saya lakukan semaksimal mungkin dan kalo tidak kesampaian minimal usaha saya telah kesana sambil terus mencari kekurangan kenapa tidak tercapai,.. tapi meneurut saya bukan hasil akhir akan tetapi proses kesananya itu lho,… setidaknya kalo tidak tercapai ya mendekatilah atau dengan kata lain kalo tidak dapat sapi kaming juga cukup lah,… setiap usaha pasti akan memberikan efek, pasti ada hasilnya masalah persis apa tidak tergantung….

    Robi Irawan
    http://www.e-publishingmedia.co.cc

    Suka

  2. Rian Seriritta berkata:

    “Karena resolusi ibarat target, ibarat suatu titik yang akan kita tuju
    dalam perjalanan kita. Ada banyak keuntungan dari memiliki resolusi atau
    target, salah satunya adalah resolusi atau target akan membuat
    perjalanan kita terarah……memiliki tujuan, bukan sekedar pengembaraan
    yang tiada akhir” Selengkapnya di http://seriritta.blogspot.com

    Wassalam,
    Rian Seriritta

    Suka

  3. Capucino Finance berkata:

    ya resolusi harus cukup masuk akal untuk dicapai dengan sumberdaya yang kita miliki. Kalau tidak ya nasibnya berakhir seperti khayalan belaka.

    Yang penting jangan malas dan
    DOING NOTHING

    Suka

  4. idiluam berkata:

    empat hari saya memikirkan apa resolusi di tahun 2009 dan setelah saya list justru jadi beban. Thanks Mas Ronny, sekarang list tersebut mampatkan jadi satu tema, “Tahun 2009, punya usaha sampingan”

    Suka

  5. Badroni Yuzirman berkata:

    @Evi: Siip. Tapi kata2 masih negatif Uni. Kenapa tidak diubah jadi “menjadi lebih rajin”? Ingat LoA works. Hehe…

    @Frizzy: Salam kenal juga dr saya. Happy new year…

    @E-Publishing: Ya, kadang orang terlalu mematok target sehingga menafikan proses. Justru proses itulah yang menarik. Proses adalah “sebab” sedangkan target adalah “hasil”. Kalau “sebabnya” kita perbaiki, hasilnya otomatis akan mengikuti

    @Rian: Tujuan jelas perlu. Jalan utk mencapainya juga penting. Nikmati perjalannya, insya Allah tujuan juga akan tercapai.

    @Hilal: Kurang nendang mas…

    @Idiuam: Siip…Semoga sukses!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s