Life, Mindset

I Am A Slow Doer, Slow Thinker

Saya tersenyum simpul membaca postingan Pak Hasan ini. Ia menulis, “Saya lihat Pak Roni tidak terlihat bekerja keras seperti yang saya lakukan. Pembawaannya tenang, tidak grusa grusu. Langkahnya tidak banyak, namun sekali tembak langsung kena. Malas tapi sukses sekali”.

Pak Hasan menilai saya cukup tepat, kecuali penilaian “malas tapi sukses sekali”. Itu tidak benar.

Saya tidak malas, tapi cenderung lebih lambat. Saya belum sukses sekali, tapi insya Allah menuju ke sana. Amiiin…

Tepatnya, saya adalah seorang yang “slow doer”, mengerjakan segala sesuatunya dengan tempo yang lebih lambat. Mungkin itu sudah bawaan dari kecil, sudah karakter saya. Saya suka dengan seni, baik itu seni rupa, sastra, musik. Untuk menikmati itu perlu memperlambat tempo gerak kita. Saya juga suka merenung, berpikir. Dan itu butuh situasi yang mendukung.

Saya makan dan mengunyah dengan lambat. Bagi teman-teman yang pernah makan semeja dengan saya pasti tahu. Saya sering paling terakhir menyelesaikan prosesi makan itu.

Meski begitu, jika dibutuhkan, saya pun bisa bergerak cepat. Ibarat elang yang terbang santai mengintai ikan di atas permukaan laut, ketika mangsa terlihat, langsung disergapnya dengan gerakan yang sangat cepat.

Ternyata, saya tidak sendirian. Belakangan saya mengetahui bahwa gaya hidup “slow” itu tengah mewabah di negara-negara maju sana. Mereka mulai merasa muak dengan segala nafsu untuk mempercepat segalanya. Bekerja lebih cepat, makan lebih cepat, berjalan lebih cepat, teknologi serba cepat, komunikasi cepat, kaya lebih cepat, sekolah lebih cepat, bahkan berhubungan seks pun inginnya lebih cepat juga. Kalau bisa semuanya dirangkul sekaligus. Orang yang bisa bekerja secara multitasking dibilang hebat. Padahal di balik itu, ia mungkin saja stres.

Akhirnya mereka mempertanyakan, apa sih yang dicari dengan obsesi mempercepat semua hal ini? Endingnya apa, di balik semua keinginan serba cepat itu? Apakah dengan serba cepat anda bisa lebih bahagia? Apakah dengan serba cepat anda bisa menikmati hidup? Belum tentu.

Lihatlah, alam ini semuanya berproses perlahan. Pohon ditanam, dipelihara, dirawat dan setelah sekian tahun baru bisa dimanfaatkan buah atau kayunya. Itu sunnatullah. Upaya-upaya untuk mempercepat proses itu biasanya mengandung risiko di baliknya.

Kapitalisme, yang diawali dengan revolusi industri adalah biang keladinya, argumen kelompok ini. Semuanya dinilai dengan standar pencapaian kuantitatif, lebih cepat, lebih besar, lebih banyak dan sebagainya.

Saya sebagai pribadi, tentu punya preferensi, gaya hidup mana yang cocok dengan karakter saya. Saya pernah menjalani masa-masa di mana semuanya harus dilakukan serba cepat dan multi tasking. Itu di saat awal menikah dulu. Di mana beberapa bisnis dijalankan sekaligus.

Saya merasa sangat tidak nyaman. Ini bukan aslinya saya. Tapi pertanyaannya, bisakah saya tetap sukses, kaya dengan memperlambat tempo gerak saya? Rasanya tidak mungkin. Orang-orang sukses di sekeliling saya adalah para “speed doer”. Mereka bergerak cepat, berpikir cepat. Otaknya “panas” terus.

Kemudian saya pun membuat kriteria sukses dengan ukuran saya sendiri. Saya ubah sudut pandangnya. Saya mungkin tidak sekaya dia, tapi saya mungkin lebih menikmati hidup dibandingkan dia. Hidup ini adalah pilihan.

Hasilnya? Ternyata dua-duanya pun bisa didapat. Ternyata dengan berpikir dan bertindak lebih lambat, tidak berarti saya ketinggalan kereta di banding yang lain. Tahun ini kinerja bisnis saya meningkat cukup signifikan, meski pun saya tidak banyak ekspansi, buka cabang dan sebagainya.

Kuncinya adalah mengubah sudut pandang, mengubah prioritas hidup kita. Gunakan kompas, bukan peta, kata Stephen Shapiro. Orang yang mengandalkan peta, meski pun ia melakukannya dengan cepat, bisa saja tersesat, karena ia melupakan kompas. Orang yang mengandalkan kompas sekaligus peta, walau pun lebih lambat, ia akan tiba di tujuan dengan selamat.

Salam FUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB: Beberapa link tentang slow movement: Carl Honore, Carl Honore (Video), Wikipedia, SlowMovement.com, Slow Movement on CNN, The Huffington Post, Slow Food, Slow Travel, Slow Leadership

Gambar: CrimsonPublishing
Iklan
Standar

9 thoughts on “I Am A Slow Doer, Slow Thinker

  1. Yodhia Antariksa berkata:

    Sebuah tulisan yang sangat memikat, dan menawarkan sebuah pendekatan fresh dalam memaknai jalan kehidupan.

    Suka

  2. Aan Hidayat Djufry berkata:

    Tulisan pak Roni kali ini menjawab beberapa pertanyaan saya selama ini,
    hidup di negara maju yang serba instan, cerita temen kerja yg lebih dulu sukses maninggalkan saya,
    seakan jawaba dr pertanyaan itu sudah pak Roni jawab

    Suka

  3. E-PUBLISHINGMEDIA.COM berkata:

    Bisa benar bisa juga salah mas rony,.. dan jangan menyalahkan Kapitalisme itu sendiri,..Karena kita pengusaha juga seorang kapitalist karena salah satu faktor kapitalisme adalah menggunakan Sumberdaya lain untuk bisnis kita,..
    mental pemenang nggak pernah menyalahkan keadaan,…mas,..jadi menurut saya , lebih baik fleksibel aja mas rony,..menyesuaikan dengan kondisi dan situasi,..kalo cepat, ya kita harus cepat,…karena memang keadaan menuntutnya akan hal itu, kalau harus lambat,… ya kita kerjakan tidak tergesa-gesa,..yang penting kelar,..Maaf mas rony , nuwun sewu, punten pisan,… kalo saya nggak bener ngomongnya,…tapi saya tetap mendukung,…

    http://www.e-publishingmedia.co.cc

    Suka

  4. Badroni Yuzirman berkata:

    @E-Publishing: Pagi ini saya tambahkan satu tulisan lagi. Supaya lebih lengkap dan komprehensif menilai ide ini

    Suka

  5. Badroni Yuzirman berkata:

    @Ati: Belain apanya? Sering dikritik lambat ya? Mendingan lambat tapi jadi (selamat sampai tujuan) daripada tergesa-gesa tapi nyasar

    Suka

  6. I KETUT berkata:

    Tipe Mas Roni sama dengan saya. Cendrung lambat, suka seni, suka musik suka merenung.Semoga virus kesuksesan Mas Roni juga menjalar ke saya

    Salam,
    Ketut-Makassar

    Suka

  7. Bahtiar Baihaqi berkata:

    Wah, yang ini cocok dengan prinsip keawamanku (awamologi): gak ngoyo, tapi juga gak pemalas dan sejenisnya. Cenderung di tengah: opsimis (perpaduan antara harapan keoptimisan dan rem “kepesimisan” dll semacam itu. Hal-hal beginilah yang melandasi lahirnya awamologi:
    http://awamologi.wordpress.com/

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s