Life, Mindset

Beberapa Argumentasi Gaya Hidup Lambat

Berikut ini saya sampaikan beberapa argumen yang dikutip dari bukunya Carl Honore. Dalam buku In Praise of Slow, ia tidak mengajak pembacanya untuk mendeklarasikan perang melawan kecepatan. Kecepatan telah terbukti membantu kita memperbaiki dunia ini hingga mencapai taraf yang mengagumkan dan membebaskan.

Siapa yang menyangkal kebebasan yang ditawarkan internet atau kecepatan yang diberikan pesawat jet?

Persoalannya adalah kecintaan kita untuk melakukan segala hal dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sudah keterlaluan.

Ada beberapa hal yang tidak dapat dan seharusnya tidak dapat dipercepat. Hal-hal tersebut membutuhkan waktu, membutuhkan kelambatan. Ketika kita mempercepat hal-hal yang tidak dapat dipercepat, akan ada yang harus dikorbankan.

Kapitalisme modern menghasilkan kekayaan luar biasa, tetapi mengorbankan sumber daya alam yang dikuras dengan kecepatan yang melebihi kemampuan alam untuk menggantikannya. Ribuan hektar hutan tropis di Amazon dan Indonesia musnah setiap tahun.

Banyak hal yang harus dibayar manusia sebagai akibat dari turbo capitalism ini. Kita menjadi pelayan ekonomi, bukan sebaliknya. Berlama-lama di tempat kerja malah membuat kita tidak produktif, mudah membuat kesalahan, ketidakbahagiaan dan sakit.

Kini sudah saatnya kita mendefinisikan istilah-istilah yang kita gunakan. Cepat itu berarti sibuk, kendali, agresif, bergegas, analitis, penuh tekanan, dangkal, tak sabar, aktif, dan kuantitas mendahului kualitas.

Sedangkan lambat adalah kebalikannya; tenang, hati-hati, reseptif, diam, intuitif, tidak tergesa-gesa, sabar, reflektif, dan kualitas di atas kuantitas.

Lambat berarti melakukan hubungan yang nyata dan berarti dengan orang lain, dengan budaya, dengan pekerjaan, dan segala sesuatu.

Lambat tidak berarti malas. Melakukan sesuatu dengan lambat sering kali justru mendatangkan hasil yang lebih cepat. Lambat juga adalah menjaga ketenangan diri meski pun sedang bergegas untuk mengejar tenggat waktu.

Menjadi lambat berarti anda mengendalikan ritme kehidupan anda sendiri. Anda menentukan seberapa cepat anda harus bergerak dalam konteks tertentu. Jika hari ini aku ingin bergerak cepat, maka aku bergerak cepat; jika aku ingin bergerak lambat, maka aku bergerak perlahan. Intinya adalah bagaimana menentukan tempo kehidupan anda sendiri.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Foto: spectrum.ieee.org
Iklan
Standar

7 thoughts on “Beberapa Argumentasi Gaya Hidup Lambat

  1. *Fajri Salim* berkata:

    Saya setuju dengan teori ini,pada dasarnya manusia akan menemukan suatu keseimbangan hidup kalau berprilaku sesuai fitrahnya (batas kewajaran/pertengahan alias berprilaku tidak over atau kebalikannya tidak terlalu lambat atau malas dengan arti sebenarnya).cuma dalam artikel pak roni ini, saya menemukan kerancuan dengan istilah “kata lambat” karena tidak ada pembeda,bagaimana membedakan istilah “prilaku lambat” yang efective/produktif dengan prilaku lambat yang tidak produktif alias prilaku orang malas yang sebenarnya?

    Suka

  2. Badroni Yuzirman berkata:

    @Fajri: Istilah yang dipakai memang ‘lambat’ atau Slow Movement. Silakan pelajari link2 yg saya berikan di tulisan sebelumnya, terutama di Wikipedia. Terus terang, saya lebih setuju dengan istilah “wajar” tapi terkesan kurang greget, ya. Sekali lagi, lambat bukan berarti malas, tapi tetap produktif dan efektif. Tks

    Suka

  3. thebennies berkata:

    “Orang lupa betapa cepatnya anda melakukan sebuah pekerjaan – namun mereka ingat seberapa baik Anda melakukannya” – Howard W. Newton

    Suka

  4. Mohamad Rosihan berkata:

    Wah Pak .. kalau saya melihat dari sisi lain. Selalu ada yang tampil terbalik, melawan arus. Ketika semua ingin serba cepat, maka muncullah arus ingin wajar (lambat). Ketika banyak yang demen fastfood, maka digulirkan alur slowfood. Ketika tema marketing gencar, muncullah anti marketing. Pada dasarnya sih masih berkutat pada creat a new Competitive Advantage …

    Suka

  5. Faizal Rahman SAP berkata:

    blog yang menenangkan hati, buat saya yang selalu ingin cepat beres memang seharusnya kita memeperlambat sejenak langkah kita untuk melihat apakah jalan saya sudah benar atau belum….namun itu semua kembali ke karakternya masing2
    salam kenal

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s