Books and Learning, Life, Mindset

The Paradox of Choices, Why More is Less?

Kalau jalan-jalan ke mal, tempat yang pasti saya tuju adalah toko buku. Beberapa waktu lalu berulang kali saya mengunjungi Gramedia Grand Indonesia. Di sana lagi ada diskon 30%, karena baru saja dilaunching.

Ajaibnya, berulang kali ke sana, tapi saya tidak membeli satu pun buku. Kecuali buku-buku untuk Vito dan buku masak untuk mamanya.

Buku-buku yang saya pegang semuanya menarik. Ini bagus, itu bagus. Ini penting, itu lebih penting. Akhirnya saya bingung sendiri dan memutuskan untuk tidak membeli sama sekali. Soalnya, di rumah ada puluhan (mungkin hampir seratusan) buku menunggu giliran untuk dibaca.

Saya memang punya kebiasaan membeli buku begitu saja tanpa mempedulikan kapan mau dibaca. Prinsip “don’t take more than you can chew”, tidak berlaku buat saya kalau sudah menyangkut buku. Ada istilah biblioholic (?), mungkin saya adalah salah satu pengidapnya :-).

Mungkin saya terkena penyakit yang namanya The Paradox of Choice yang bukunya ditulis oleh Barry Schwartz. Why more is less?, demikian pertanyannya.

Setiap hari kita dihadapi oleh banyak sekali pilihan. Mulai dari pilihan menggunakan alat cukur, makanan, pakaian, gadget, perlengkapan hobi, buku sampai strategi bisnis yang paling canggih.

Saya penggemar salah satu merek celana jeans. Setiap datang ke counternya saya selalu heran, model yang saya sukai itu ternyata telah “beranak pinak” menjadi macam-macam turunannya. Saya jadi bingung memilihnya. Saya ingin membeli seperti yang dulu, enak dipakai. Ternyata jenis itu bukannya tidak ada, tapi sudah dipecah-pecah menjadi berbagai varian, seperti slim fit, easy fit, relaxed fit atau extra baggy. Bingung kan? Padahal saya hanya ingin yang reguler, yang lebar dari atas sampai bawah.

Begitu juga kalau mau makan di restoran yang menunya “palugada” alias “apa lu mau gue ada”. Akhirnya, kalau sudah terlalu bingung pilihan saya jatuh ke menu orang putus asa, “nasi goreng”.

Ternyata hidup dengan semakin banyak pilihan itu bukannya malah membahagiakan dan meningkatkan kepuasan ya. Justru malah mengintimidasi kita.

Barry Schwartz, seorang profesor di bidang teori sosial dan tindakan sosial memperhatikan dengan cermat fenomena ini.

Menurutnya, saat ini pilihan tidak lagi membebaskan, justru mengekang. Bahkan pilihan dapat dikatakan menjadi suatu tirani. Lho?

Banyaknya pilihan tidak otomatis lebih baik. Ia yakin, banyak orang modern saat ini merasa kepuasannya makin lama makin berkurang, walau pun kebebasan memilih kian bertambah. Paradoksal ya?

Jadi sekarang jargonnya bukan lagi “more is more”, tapi “more is less” atau “less is more”.

Kita akan merasa lebih baik jika kita menurunkan ekspektasi terhadap hasil dari sebuah pilihan. Kita bisa lebih baik jika kita bisa memperbaiki keputusan yang sudah terlanjur dibuat. Kita bisa menjadi lebih baik jika kita tidak terlalu memperhatikan apa yang orang lain dapatkan atau lakukan. Ketidakpuasan dari pilihan itu lahir dari kebiasaan mengintip kehidupan orang lain dan membanding-bandingkan.

Berikut ini beberapa tips dari buku itu:

1. Memilih saat harus memilih. Tentukan prioritas, mana yang paling penting, kurangi subjektivitas.

2. Jadilah pemilih, jangan asal pilih. Sadari apa yang harus “dibayar” dari dampak pilihan itu.

3. Lebih merasa puas dan lebih sedikit maksimalisasi. Cukupkan yang sudah ada. Jangan jadi orang yang maksimalis, yang memiliki harapan terlalu tinggi dan takut kecewa dengan lewatnya kesempatan, takut terhadap perbandingan sosial.

4. Terapkan sikap bersyukur. Kita bisa memikirkan betapa hidup kita saat ini, bahwa sebenarnya segala sesuatunya begitu sempurna dihadirkan Tuhan untuk kita.

5. Jangan sering-sering merasa menyesal. Minimalkan rasa penyesalan dengan menggunakan standar “mudah puas”, bukan standar seorang maksimalis.

6. Kendalikan harapan. Kurangi pilihan, jadilah mudah puas.

7. Kurangi perbandingan sosial. Kita mengevaluasi kualitas pengalaman kita dengan membandingkan pengalaman diri kita dengan orang lain. Perbandingan sosial dapat memberikan informasi berguna, dapat dapat juga mengurangi kepuasan kita. Fokuslah pada apa yang membuat ANDA bahagia dan apa yang berarti bagi hidup ANDA.

8. Belajar menyukai batasan. Lihatlah batasan sebagai sesuatu yang membebaskan, bukan penghambat.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB: Video: Barry Schwartz on The Paradox of Choice

Foto: dangerousintersection.org
Iklan
Standar

3 thoughts on “The Paradox of Choices, Why More is Less?

  1. Yodhia Antariksa berkata:

    Less is more…
    Misal, saya membaca tak lebih dari 4 blog secara rutin (blog ini salah satunya…). Koran cukup satu, Kompas saja; majalah dua : fortune dan BW; TV cukup NGC atau Discovery saja; celana cukup 1 merk saja.

    Mall hanya ada 2 yang selalu saya kunjungi (MTA dan MKG). Makan di mall selalu ditempat yang sama. Parkir di mall juga selalu ditempat yang sama.

    Less is more…simplicity is beautiful.

    Suka

  2. Badroni Yuzirman berkata:

    @Yodhia: Sebuah kehormatan buat saya masuk dalam daftar bacaan rutin anda. Terima kasih.

    @renorain22: Sama2 semoga bermanfaat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s