Life

Dad, You Are The Reason

“You’re the reason when I wake up in the morning…”, demikian lirik lagu favorit saya di era 90-an yang dibawakan oleh Jonathan Butler.

Saya tidak ingin cerita tentang lagu itu. Tapi tentang “the reason”, alasan, kenapa saya melakukan ini dan itu. Kenapa saya dari akhir 2005 tetap konsisten (baca: berusaha) menulis blog. Kenapa saya mendirikan Komunitas TDA dan tetap terlibat di dalamnya sampai sekarang?

Tentu ada alasannya.

Nah, pekan lalu saya di wawancara oleh Majalah Islam Tarbawi. Saya merasa surprise dengan pertanyaannya yang sangat beda dengan mainstream wartawan yang selama ini telah mewawancarai saya.

“Di blog bapak ditulis bahwa blog itu dipersembahkan untuk almarhum ayah bapak. Bisa diceritakan pak?”, tanya Mbak wartawati itu.

Saya tertegun sejenak. Menarik napas. Berpikir. Pertanyaan ini tidak pernah saya terima.

“Ayah saya adalah orang yang yang baik”, jawab saya.

“Beliau mengajari saya kebaikan dan empati kepada orang lain dengan caranya”.

Suatu ketika, seorang salesman lampu neon mampir ke toko ayah saya. Ia curhat bahwa dagangannya belum laku, masih jauh dari target. Karena kasihan, ayah saya memborong dagangannya.

Lain waktu, seorang temannya mengeluh terlibat hutang piutang dan tidak mampu membayar. Akhirnya, sebuah televisi besar berkaki empat diboyong ke rumah kami sebagai ganti uang yang diberikan ayah saya kepada orang itu.

Rumah kami pun dipenuhi barang-barang yang sebetulnya tidak diperlukan. Barang-barang yang dibeli ayah saya karena kasihan. Ada jam tangan, batu permata, pesawat telepon, hiasan dinding, sepatu dan lain-lain.

Setiap mau berkunjung ke rumah keponakan-keponakannya, ayah saya selalu makan di jalan. Alasannya, beliau tidak mau merepotkan keponakannya untuk menyiapkan makanan.

Menjelang akhir hayatnya, beliau masih aktif membuka toko. Padahal, kondisi kesehatannya sudah tidak mendukung. Sekali lagi, alasannya juga bukan untuk dirinya sendiri. “Kalau papa nggak buka toko, kasihan karyawan, siapa yang gaji”, demikan jawabnya.

Ayah saya adalah orang yang baik, dengan caranya. Saya berusaha menirunya, dengan cara saya. Saya ingin menjadi buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Insya Allah. Kumohon ridhoMu ya Allah…

Itulah “alasan” saya kenapa melakukan semua ini.

Mohon doanya untuk almarhum ayah saya. Beliau tidak sempat menyaksikan semua ini.

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB: Dengarkan wawancara live saya besok, Jumat jam 9 di Radio 68 H, 89,2 FM.

Iklan
Standar

2 thoughts on “Dad, You Are The Reason

  1. FAJAR S PRAMONO berkata:

    Mas, do’a kami sekeluarga untuk Almarhum Ayahanda Mas Roni.
    Saya yakin, beliau bisa “melihat” apa yang Mas Roni lakukan, dengan “cara”-Nya.

    Amien…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s