Business, Mindset

Mau Jadi Master? Selesaikan Dulu 10.000 Jam Anda

Coba perhatikan gambar di sebelah ini. Itu adalah fotonya Harvey Mason, drummer senior yang saya ambil dari ajang Java Jazz 2009 tadi malam.

Lihat ekspresinya. Dia memukul drum seperti orang yang menangis. Entah mengapa. Itu ciri khasnya. Mungkin dia begitu menghayati, larut atau trance.

Yang saya suka dari drummer Fourplay ini adalah sentuhannya stik drumnya itu. Ada semacam feeling tertentu yang berbeda dengan drummer lain. Dia memukul drum tidak dengan power dan energi yang kuat. Bahkan kadang-kadang seperti tidak disentuh, saking lembutnya.

Dia tidak lagi pamer teknik yang canggih dan rumit. Dia levelnya sudah beda. Dia sudah master. Kalau master, tidak lagi mencari tepukan penonton karena kecanggihan teknik. Dia levelnya sudah di atas itu. Levelnya sudah “feel”.

Pertanyaan yang mengusik saya adalah, bagaimana dia bisa sampai ke level itu?

Yang pasti, rekam jejaknya sudah panjang sekali. Mungkin dia sudah puluhan tahun menabuh drum. Dia telah menjadi master di bidang tabuh menabuh drum. Jelas, dia tidak tiba-tiba bisa seperti itu dengan seketika.

Dia menjadi master dengan menyelesaikan 10.000 jamnya.

Maksudnya?

Pak Tung cerita soal ini ketika bertemu menjelang Milad TDA lalu. Menurutnya, orang-orang yang telah menjadi master di bidang apa pun pasti telah melewati 1.000 jam latihan atau praktek.

Ia bercerita mengenai Efek Hamburg. Anggota The Beatles sebelum ngetop dan mendunia selalu latihan bertahun-tahun di Hamburg. John Lennon atau Paul Mc Cartney itu setiap hari menghabiskan waktu latihan 8 jam sehari selama bertahun-tahun.

Setelah mereka ngetop, banyak orang melihat puncak gunung es kesuksesan saja, tanpa melihat ke dalam, atau prosesnya. Mereka telah menyelesaikan 10.000 jamnya.

Pak Tung sering ditanya, kok seminarnya begitu hebat dan memukau sih? Jawabnya, “karena saya telah menyelesaikan 10.000 jam saya. Dalam sebulan saya bisa seminar 52 kali”.

Dalam sebuah tayangan infotainment saya melihat perayaan ulang tahun ke 7 band Nidji. Ketujuh? Padahal saya baru tahu band ini sekitar 2 tahunan. Ya, mereka ngetop baru 2 tahun, tapi perjalanan keseluruhannya adalah 7 tahun. Mereka membayar 10.000 jamnya selama 5 tahun.

Dalam sesi seminar Pak Nukman Luthfie di Milad TDA, tiga orang pebisnis online dipanggil ke depan. Masing-masing disuruh bercerita tentang omset dan waktu yang mereka kerahkan untuk mengurus bisnis onlinenya.

Ternyata, yang hasilnya paling besar adalah dia yang mengurusi bisnis onlinenya minimal 8 jam sehari. Di susul oleh yang 5 jam sehari dan 3 jam sehari. Ada korelasi positif antara waktu yang dikerahkan dan hasil yang dicapai.

Jika anda punya bisnis, sudahkah anda membayar 10.000 jam pertamanya? Jangan sampai anda bertanya-tanya, kenapa bisnis saya kok nggak maju-maju, padahal anda belum mendedikasikan waktu dan energi anda untuk 10.000 jam pertama untuk menjadi master itu.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Iklan
Standar

7 thoughts on “Mau Jadi Master? Selesaikan Dulu 10.000 Jam Anda

  1. manfaat berkata:

    10.000 jam lama juga ya pak…
    kalo 8 jam / hari, +/- 3,5 tahun baru tercapai
    kalo 5 jam / hari, +/- 5,5 tahun…

    Suka

  2. Yodhia Antariksa berkata:

    Kisah 10 rb jam, termasuk tentang kisah Beatles latihan di Hamburg itu, dengan sangat memikat telah diekpslorasi oleh Malcolm Gladwell dalam buku yang sudah 4 bulan menjadi Amazon business best seller : Outlier – The Story of Success.

    Setiap anggota TDA, saya kira, wajib membaca buku yang fenomenal itu (sayang edisi Indonesianya belum ada, mungkin 6 bulan lagi).

    Suka

  3. Zidni berkata:

    setuju pak 5 tahun adalah angka yang moderat, walau sebenarnya 10 tahun adalah angka yang konservatif utnuk sebuah proses.

    Suka

  4. noers31.blogspot.com berkata:

    Assalamu’alaikum…

    Saya mengenal TDA belum lama dan tertarik dengan komunitas ini. Bagaimana bergabung dan aktif disini pak?
    Nur setiawan – Lampung.

    Wassalam…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s