Books and Learning

Saya Tidak Tahu!

Ada fenomena menarik dari dua orang bintang tamu di Festival Entrepreneur Indonesia atau Milad III TDA lalu. Mereka adalah Bob Sadino dan Ustadz Lihan.

Bob Sadino sejak dulu mengkampanyekan “bisnis dengan cara goblo” alias bisnis dengan modal otak di dengkul alias bisnis dengan bermodal “ketidaktahuan”.

Berbagai “logika dari dengkul” ia ungkapkan dan membuat shocking sekitar 1.200 member TDA yang hadir dari seluruh Indonesia. Meski nyeleneh, tapi logikanya itu masuk akal juga. Maksudnya masuk akal yang di dengkul. Hehe…

Dia tidak pernah punya tujuan atau target. Dia tidak mengerti apa itu manajemen bisnis. “Pokoknya, kalau anda mau bisnis, ya melangkah aja”, katanya.

Lain lagi dengan Ustadz Lihan, miliarder dari Martapura, Kalimantan ini. Dia juga punya logika yang kurang lebih sama.

Berlatar belakang guru pesantren, ia memulai bisnis semata-mata karena kepepet butuh uang dan tidak tahu apa-apa tentang bisnis.

“Saya itu nggak ngerti bagaimana mengelola bisnis”, ujarnya.

Ketika saya (moderator) tanyakan berapa omset masing-masing perusahaann yang berjumlah 13 itu ia jawab “Tidak tahu”.

Pun ketika mendirikan dan memulai bisnis baru, semua ia serahkan kepada ahlinya. “Saya nggak ngerti soal ngurus bisnis”.

Ketika mendengarkan presentasi peluang investasi di bidang penerbangan oleh Merpati, ia sama sekali tidak mengerti dengan slide-slide yang dipaparkan itu.

Ternyata, logika bisnis serba “tidak tahu” ini ada pembelaan akademisnya.

Kemarin saya baca resensi buku The Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb di Kompas. Penulis adalah mahaguru di bidang ilmu ketidakpastian (uncertainty), teori kemungkinan (probability) dan kemujuran (luck).

Menurutnya, apa yang tidak diketahui jauh lebih relevan dibandingkan dengan apa yang sudah diketahui.

Ia memaparkan sejumlah fakta yang terjadi di dunia yang luput dari “ramalan” para pakar. Runtuhnya menara kembar WTC, Tsunami di Samudera Hindia, krisis finansial global yang kabarnya menyusutkan kekayaan Aburizal Bakrie hingga tersisa 10% dari semula, terpilihnya Barack Obama, larisnya novel Harry Potter…

Teori Black Swan atau Angsa Hitam yang dijualnya ini dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena tak terduga yang masif namun luput dari ramalan atau perkiraan para pakar futuristik.

Menurutnya, banyak variabel baru yang dapat menjungkirbalikkan asumsi-asumsi dari berbagai prediksi itu.

Contohnya, siapa mengira harga minyak dunia bisa gonjang-ganjing seperti sekarang ini?

Yang menarik adalah, ia membagi dua kelompok manusia dalam aktivitas pergumulan kehidupannya. Pertama, adalah wilayah Mediocristan, wilayah yang mayoritas, yaitu tempat di mana sebagian besar kehidupan berjalan rutin, biasa, jelas, dan lebih mudah diperkirakan.

Misalnya adalah profesi orang kantoran, dosen, peneliti dan sebagainya. Kepastian memperoleh gaji bulanan adalah wilayah aman bagi orang-orang dalam wilayah ini.

Kedua, adalah wilayah Extremistan, dimana segalah hal tak terduga bisa terjadi, peristiwa-peristiwa kebetulan baik yang menyenangkan atau sebaliknya.

Di wilayah ini bermukim para entrepreneur atau TDA, seniman, artis, penulis buku, olahragawan, trader dan sebagainya. Ketidakpastian dan variabel pengubahnya yang selalu berubah menjadi makanan sehari-hari penghuni wilayah ini.

Menurut Nassim, idealnya seseorang bisa hidup di dua wilayah itu, kepastian dan ketidakpastian.

Buku ini sangat menarik menurut saya. Dari resensi ini saja saya dapat menemukan jawaban kenapa Bob Sadino, Ustadz Lihan dan banyak entrepreneur lainnya bersikap seperti itu.

Bukun ini juga menyindir para pakar dan akademisi yang selalu meramal masa depan merujuk kepada kekayaan pengetahuan mereka dan data historis.

Menurutnya, yang terjadi di dunia saat ini tidak lagi linier. Ilmu-ilmu masa lalu tidak lagi relevan untuk menjelaskan dan meramalkan masa depan.

Ini persis yang disampaikan oleh Bob Sadino. Kenapa banyak lulusan universitas banyak yang gagal? Karena mereka menilai masa depan dengan ilmunya yang sebenarnya sudah ketinggalan. Begitu ia lulus, serta merta ilmunya menjadi kuno di dunia nyata.

Kenapa banyak orang pintar gagal berbisnis? Karena ia terlalu banyak tahu dan itu membebaninya ketika melangkah.

So, mau pilih mana? Kalau saya, berusaha hidup di dua wilayah itu, Mediocristan sekaligus Extremistan.

Namun, berdasarkan pengalaman, memasuki wilayah Extremistan di mana saya “tidak tahu”, wilayah yang penuh ketidakpastian dan selalu berubah lebih mengasyikan ketimbang wilayah Mediocristan yang aman dan terkendali.

Antusiasme dan adrenalin selalu terpompa setiap kali saya menemukan sesuatu yang baru dan mengagetkan. Asyik…Coba deh…

Bagaimana dengan anda?

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Foto: Su’ud Ahmad

Iklan
Standar

6 thoughts on “Saya Tidak Tahu!

  1. Nopriansyah berkata:

    Assalamu’alaikum
    Pak Roni, SAua sependapat dengan artikel diatas. Semakin kita merasa tidak tahu maka akan semakin terobsesi untuk mencari tahu dan melangkah.

    Terimakasih Pak atas artikel yang menarik ini.

    Suka

  2. Gagah Putera Arifianto berkata:

    Setuju dengan komentator pertama, artikelnya menarik sekali…:)

    Saya sendiri adalah orang yang senang bermain dengan ketidakpastian, dan anehnya setiap saya merasa sesuatu itu telah pasti, sekejap selalu muncul masalah yang tidak saya duga-duga dan merepotkan saya. Namun saat saya berani melangkah dan menghadapi segala ketidakpastian, justru yang muncul adalah senyum karena ya saya sudah duga sebelumnya.

    Anyway, salam kenal mas, ijin berlangganan feednya ya. 🙂

    Suka

  3. renorain22 berkata:

    Om Bob memang unik. Beliau hidup dari pengalaman dan keyakinan dan keberanian dalam melangkah ketika mengarungi dunia bisnis menjadikannya sukses!

    Suka

  4. Grinclothing berkata:

    Iya pak, walopun di kelompok ekstrem itu banyak hal2 tak terduga. tapi setidaknya kita bisa sedikit ikut menentukan arah ketidak terdugaan tersebut :D..

    Suka

  5. kopi cina berkata:

    coba juga dihadirkan silent extremistan yg akhirnya cuma jadi sampah masyarakat, banyak banget tuh…biar berimbang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s