Books and Learning, Life, Mindset

The Go-Giver, Meraih Sukses dengan Memberi

Sebuah buku hebat baru saja saya tuntaskan. Setelah Who Moved My Cheese, inilah buku bertopik inspirasi bisnis yang dikemas dengan gaya bercerita sederhana namun sangat mencerahkan.

Berkat Who Moved My Cheese-lah saya nekat memberanikan diri mengambil keputusan untuk hengkang dari Tanah Abang tahun 2004 dan memulai sebuah perjalanan yang baru dari nol. Sebuah sejarah titik balik dalam bisnis dan kehidupan saya.

Nah, buku The Go-Giver berkover merah karya Bob Burd dan John David mann ini bisa jadi akan berperan tidak kalah penting dalam kehidupan saya. Buku ini memberi arah sekaligus menguatkan saya.Kenapa? Tentu ada beberapa alasannya.

Buku ini saya ketahui dari Mas Wasis Gunarto, seorang teman TDA praktisi bisnis kuliner yang juga moderator milis Jalansutra serta menjadi tim kreatif acara Wisata Kuliner-nya Bondan Winarno.

“Pak, udah baca The Go-Giver belum?”, tanyanya melalui pesan di Facebook.

“Belum”, jawab saya.

“Itu buku bagus dan banyak kaitannya dengan TDA”, balasnya.

Saya pun menjadi penasaran dan melakukan riset browsing di Google. Ternyata betul, buku ini wajib saya miliki, batin saya.

Buku ini mengisahkan seorang eksekutif bernama Joe yang begitu ambisius mengejar sukses tapi tak kunjung diraihnya. Akhirnya ia berkonsultasi dengan Gus, teman sekantornya yang begitu sukses tapi diraihnya tidak dengan begitu ambisius, melainkan secara santai dan enjoy.

Dari Gus ia dipertemukan dengan Pindar, Sang Guru Sukses yang menjadi panutan Gus. Dari sinilah cerita mengalir. Pindar memperkenalkan 5 Hukum Kesuksesan Tertinggi yang selama ini menjadi misteri bagi Joe, melalui perbincangan dengan orang-orang sukses yang diperkenalkan kepadanya.

Berikut ini adalah 5 Hukum Kesuksesan itu dan sedikit penafsiran saya terkait dengan bisnis saya dan Komunitas TDA.

1. Hukum Nilai. Nilai anda sebenarnya ditentukan oleh berapa banyak yang anda berikan dalam bentuk nilai lebih daripada pembayaran yang anda peroleh.

Kaitannya dengan sukses TDA, saya teringat dengan pesan Pak Erie Sudewo (penasehat TDA). Beliau mengatakan bahwa produk TDA adalah nilai (value). Itu betul. Sejak awal TDA didirikan, produknya adalah nilai yang selalu diberikan kepada member tanpa henti dan penuh dengan komitmen tinggi dari para aktivisnya.

Lantas, apa pembayaran yang saya dan teman-teman aktivis TDA terima? Secara materi saya katakan, tidak ada. Tapi secara immateri, saya berani mengatakan sangat besar sekali. “Bayarannya” telah dinikmati oleh saya dan teman-teman aktivis TDA dalam bentuk “lain” yang tidak dapat dinilai dengan uang.

Selalulah berfokus kepada nilai tambah, nilai tambah dan nilai tambah. Insya Allah, the money will follow.

2. Hukum Kompensasi. Pendapatan anda ditentukan oleh seberapa banyak orang yang anda layani dan sebagus apa anda melayani mereka.

Setuju 100% saya dengan pendapat ini. Bill Gates, mungkin telah melayani puluhan juta orang pengguna produknya. Tak heran dia begitu kayanya.

Berapa orang yang anda layani melalui bisnis anda saat ini? Seratus? Seribu? Sepuluh ribu? Seratus ribu? Sejuta? Nah, setelah ketemu jumlahnya, silakan kalikan sendiri.

Semakin besar jumlahnya, tentu semakin besar juga hasil yang ada peroleh. Faktor kali, adalah istilah yang sering dikatakan oleh Pak Tung DW. Kurang lebih maksudnya adalah seperti ini.

3. Hukum Pengaruh. Pengaruh anda ditentukan oleh berapa besar anda mendahulukan kepentingan orang lain.

Inilah yang terberat. Di sinilah peran leadership seseorang diuji. Mampukah ia meleburkan dirinya untuk kepentingan orang lain. Mampukah ia menjadi “pengungkit bagi kesuksesan” orang lain, menurut istilah Pak Jamil Azzaini saat memberikan training Kubik Leadership di TDA beberapa waktu lalu.

Saya meyakini hal ini karena telah berulang kali membuktikannya di TDA. TDA dibangun dengan semangat ini. TDA telah dan akan terus menjadi “pengungkit” sukses bagi para membernya.

Lantas, bagaimana dengan sukses saya sendiri? Otomatis. Otomatis saya pun akan sukses dengan sendirinya, karena terjadi fenomena “saling mengungkit” di TDA. Tanpa saya sadari, tanpa saya minta pun selalu ada saja pihak-pihak yang kemudian menjadi pengungkit kesuksesan saya dari arah yang tak disangka-sangka.

Semua itu harus diawali dari mindset “the power of abundance”. Cara berpikir keberlimpahan, lawan dari cara berpikir scarcity (kelangkaan). Saya percaya segala sesuatunya berlimpah di dunia ini. Tidak akan habis meski pun diperebutkan oleh miliaran mahluk Allah. Semuanya sudah disediakan cukup untuk saya. So, mengapa harus khawatir?

Hukum ini sekaligus mementahkan prinsip mereka yang menanggap bahwa pengaruh itu bisa dibeli, bisa dimanipulasi. Segala macam teori bagaimana mempengaruhi orang lain akan mentah kembali jika ia tidak mendahulukan kepentingan orang lain. Lihatlah Nabi Muhammad, lihatlah Gandhi, lihatlah Mother Theresa, lihatlah Mandela. Mereka semua telah mencontohkan kehidupan yang mementingkan orang lain.

4. Hukum Autensitas. Hadiah paling berharga yang harus anda tawarkan adalah diri anda sendiri.

Saya teringat kata-kata bijak dari Ali bin Abi Thalib; kehadiran adalah hadiah terbesar. Hadiah terbesar bukanlah materi minus kehadiran. Hadiah terbesar bagi orang lain adalah diri kita sendiri, bukan diwakilkan.

Makanya, saya kurang setuju dengan pendapat kualitas pertemuan lebih penting ketimbang kuantitas pertemuan, ketika mereka menghadapi masalah kurangnya waktu pertemuan dengan keluarganya. Bagi saya, kuantitas akan menentukan kualitas. Sentuhan personal lebih mengena ketimbang sentuhan massal. Makanya isu marketing terkini adalah soal bagaimana konsumen bisa dilayani secara pribadi oleh perusahaan sebagai “manusia”, bukan sekadar konsumen secara statistik. Saya sendiri perlu banyak belajar mengenai hal ini.

5. Hukum Kemampuan untuk Menerima. Kunci untuk memberi dengan efektif adalah secara terbuka untuk menerima.

Mungkin gerakan kembali ke hati dengan berikhlas yang dicanangkan oleh Pak Erbe Sentanu mewakili pernyataan ini. Kita harus bersedia menerima apa pun “bayaran” yang kita terima. Diberi besar alhamdulillah, diberi kecil pun alhamdulillah.

Belakangan ini saya sering diundang untuk mengisi seminar di berbagai tempat. Kompensasi yang saya terima mulai dari ucapan terima kasih dan plakat (baca: tanpa dibayar), uang ratusan ribu sampai jutaan sekali bicara.

Kalau saya berpatokan kepada kompensasi yang saya dapatkan, tentu saya akan menyeleksi setiap permintaan seminar berdasarkan ini. Tapi itu tidak saya lakukan. Ini adalah bagian dari kontribusi saya kepada masyarakat. Ini saya maknai sebagai bentuk “give back”, ucapan terima kasih dan rasa syukur saya atas semua yang telah saya peroleh. Saya akhirnya hanya fokus kepada “nilai” dari presentasi yang saya berikan. Saya selalu concern dengan “nilai” optimal yang bisa saya berikan kepada audiens.

Pun demikian dengan berbisnis. Ketika target pertumbuhan tidak tercapai. Ketika masalah yang dihadapi lebih besar ketimbang hasil, ya harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada. Tidak perlu menyalahkan karena dari sikap itu tidak akan lahir pembelajaran.

Bisnis dan kehidupan ibarat menjalani roller coaster yang turun naik silih berganti. So, buat apa kecewa atau mengutuki hasil yang tidak sesuai harapan? Itu adalah the nature of life. Berjalan saja terus dan teruslah mendaki.

Buku ini mengangkat tema yang sebenarnya sudah sering kita dengar. The power of giving, atau kekuatan sedekah seperti yang selalu didengungkan oleh Ustad Yusuf Mansur. Tapi buku ini menggali lebih dalam topik ini sehingga menjadi lebih kaya, dalam dan kontektual.

Sebuah buku yang sangat inspiratif yang layak masuk dalam daftar buku referensi sekaligus buku terbaik saya di tahun 2009 ini.

Tulisan ini saya tutup dengan kata-kata Guru Harfan dalam film Laskar Pelangi, “Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan dengan menerima sebanyak-banyaknya.”

Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Iklan
Standar

4 thoughts on “The Go-Giver, Meraih Sukses dengan Memberi

  1. Pembelajar Sukses Mulia berkata:

    Setuju Uda Roni, salah satu buku referensi “nilai-nilai” terbaik, terutama nilai “kekuatan memberi”, semoga nilai ini semakin lama semakin melekat juga pada para memberi TDA. Salam FUUUNtastic Suksesmulia

    Suka

  2. TDA PESANTREN berkata:

    Sebuah materi yang bagus, tiap saat saya update membaca tulisan-tulisan blog ini, tulisan inilah yang sangat Powerfull, padat berisi menginspirasi khas Mas Roni dan TDA Bangets…

    Suka

  3. Fadil - Jaket Farco berkata:

    Ulasan dan komentar Mas Rony tentang buku, saya acungi jempol. Kita banyak mendapatkan inspirasi dan pencerahan, apalagi kalo sedang down

    Suka

  4. admin berkata:

    tidak salah kl blog ini jd referensi banyak org, krn sangat2 bermanfaat, terima kasih pak, semoga saya bisa mengikuti jejak pak roni untuk berbagi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s