Books and Learning

Dari Roni’s Book and Learning Club Kedua: Kisah Cinta Aku dan Buku

Pagi ini seorang teman di Facebook bertanya tentang kegiatan bulanan di rumah saya, Roni’s Book and Learning Club. Ia berminat untuk hadir dan menunggu kegiatan berikutnya.

Selain itu ia juga minta saya untuk sharing rangkuman kegiatan itu. Saya memang berniat untuk menceritakannya di blog ini, tapi masih bingung mau menulis dari angle yang mana. Soalnya semua angle menarik.

Baik, saya ambil dari angle yang satu ini saja. Dalam pertemuan terakhir saya meminta teman-teman yang hadir untuk menceritakan “kisah cinta” mereka dengan buku. Bagaimana awalnya mereka tertarik dengan buku dan apa saja pengaruh buku itu terhadap kehidupan mereka. Ternyata topik ini mengalir dengan begitu menarik dan penuh inspirasi.

Pak Didi Diarsa sejak kecil begitu terobesi dengan buku. Beruntung ia adalah anak kepala sekolah, sehingga ia mendapat priviledge membacai buku-buku sebelum masuk di rak perpustakaan sekolah.

Hidupnya diwarnai oleh bacaan-bacaan yang membawanya bertemu dengan tokoh-tokoh Indonesia yang juga pembaca buku. “Rata-rata mereka punya buku di atas 10.000 di perpustakaan pribadinya”, ungkapnya. Itulah yang menjadi obsesinya dengan terus melengkapi koleksi bukunya yang saat ini sudah mencapai 3.000-an.

Berkat inspirasi dari buku pulalah ia akhirnya meraih impian berkeliling Eropa. Mirip ceritanya Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi dan Edensor.

Setiap bulan jutaan rupiah ia anggarkan untuk membeli buku. “Sebagai balas dendam, dulu saya nggak mampu beli buku”, demikian ia beralasan.

Topik buku yang diminati oleh konsultan pendidikan ini sebelum berkenalan dengan TDA adalah buku-buku pemikiran dan pergerakan. Maka ia akrab dengan Goenawan Mohamad dan tokoh sejenisnya. Buku-buku bisnis mulai digemarinya sejak bergabung di Komunitas TDA.

Lain lagi dengan Mas Kika Syafii yang gayanya sangat nyeni ini. Kesendiriannya ketika kecil ia lampiaskan dengan membaca dan menulis puisi. “Saya ditinggal wafat oleh ibu, sehingga buku dan menulis menjadi teman pembunuh sepi dan gundah saya”, ungkapnya.

Pengoleksi buku yang delapan puluh persennya adalah buku sastra ini saat ini aktif mengelola Taman Baca bagi anak-anak kurang mampu di daerah terpencil. Dulu ia adalah aktivis di jalanan yang berjuang dengan keras, sekarang perjuangannya lebih soft, membina anak-anak untuk bermimpi dan menjemput masa depan.

Mas Untung Kasirin, dulu adalah mahasiswa pendiam dan pintar yang berubah menjadi pemberani. Ia di-drop out dari kampusnya gara-gara menentang rektor yang otoriter. Keberanian itu didapatnya setelah membaca sebuah buku. Belakangan rektor itu dipecat dan kampusnya sendiri ditutup.

“Saya tidak suka buku bisnis yang to the point dan how to”, kata Pak Ardiansyah Abdullah. “Saya lebih suka membaca buku tentang pemikiran yang filosofis seperti karya-karya Muhammad Iqbal. Buku Ihya Ulumuddin dari Ghazali sudah saya akrabi sejak kecil”, ungkapnya. Namun, belakangan ia mau tak mau harus membaca buku bisnis karena kebutuhan untuk membesarkan bisnisnya. Dalam kesempatan ini ia pun sharing buku yang baru saja dibacanya “Business Stripped Bare”, tentang biografi Richard Branson, pebisnis gila, pendiri kerajaan bisnis Virgin.

Pendapat serupa juga diamini oleh Pak Ade Aan. Ia juga tidak suka buku-buku berjenis how to yang to the point. Ia lebih suka buku yang isinya perlu dikunyah beberapa kali supaya bisa dicerna. Pilihan bukunya pun terbatas. “Saya hanya membaca buku-buku terkait dengan bisnis dan minat saya di IT.”

Kisah perkenalan Pak Ade dengan buku cukup menarik. Ayahnyalah yang pertama kali memberinya buku, yaitu buku mengenai catur sekaligus papan permainannya. “Berkat buku itu saya bisa menjadi juara catur tingkat kecamatan”, ujarnya. Begitu juga dengan buku gitar klasik yang juga dibelikan ayahnya yang akhirnya mengantarkannya menjadi guru les gitar di kota Malang.

Pak Ade saat ini aktif di Komunitas Coding For Humanity (CFH),sebuah komunitas orang-orang IT yang ingin berkontribusi kepada anak-anak tak mampu agar melek IT. Dalam kesempatan ini ia sharing buku yang sangat menarik, “What Would Google Do?”

Benang merah dari teman-teman yang hadir bersembilan itu adalah bahwa perjalanan hidup mereka sampai sekarang banyak sekali dipengaruhi oleh buku. Dan ternyata semua yang hadir itu berlatar belakang aktivis di lingkungannya. Mereka semua digerakkan oleh bacaan-bacaan itu dan orang-orang yang mereka temui dalam perjalanan hidup.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Insya Allah akan saya ceritakan dalam kesempatan mendatang.

Salam FUUUNtastic! Sukses Mulia!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Iklan
Standar

2 thoughts on “Dari Roni’s Book and Learning Club Kedua: Kisah Cinta Aku dan Buku

  1. Fadil - Jaket Farco berkata:

    Memang benar Mas Rony, ada beberapa jalan yg bisa memberi jln hidup seseorang, pencerahan diri setelah banyak mengalami masa kegelapan, baik dalam bid. keluarga, bisnis, maupun karier. Begitupun juga yg saya alami sekarang banyak dipengaruhi dengan buku.

    Suka

  2. Hendra Permana berkata:

    Setuju Pak Rony, buku bisa menjadi jalan inspirasi bagi seseorang. Lewat buku, saya bisa menemukan berbagai pola pikir dan "ruh" dari para penulisnya. Buku2 motivasi & action telah memacu adrenalin saya untuk terus bergerak & lebih berpikir terbuka. Padahal saya orang yg sangat pendiam & cenderung pasif.Tapi lewat buku2 bisnis, agama, succes story people, sy "sedikit" sudah merubah sifat pendiam sy menjadi lebih aktif.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s