Books and Learning, Business, Komunitas TDA

Menelanjangi dan Menertawakan Diri Sendiri di Workshop Ritel TDA

Ini istilah yang diberikan oleh Pak Hantiar yang membuat kami cekikikan namun mengangguk setuju.

Kami duduk berdekatan bersama Pak Iim, Hertanto, Try Atmojo dan Hasan saat mengikuti workshop sehari Mengelola Toko Ritel yang Efektif untuk Memaksimalkan Profit oleh Christian F. Guswai, pakar dan praktisi ritel terkemuka di Indonesia.

Apa yang disampaikan oleh penulis beberapa seri buku manajemen ritel ini sehingga kami merasa seperti ditertawakan dan ditelanjangi itu?

Contohnya adalah ketika ia memaparkan ada tujuh kriteria mencari lokasi toko yang ideal, yaitu: harus visible, punya heavy traffic, terletak di arah arus pulang, didukung oleh public facilities, acquisition cost yang reasonable, regulasi yang mendukung dan akses yang baik.

Saat kami, para gerombolan “Laskar Nekad Pemberani” memulai di ITC Mangga Dua tahun 2006 lalu, semua syarat itu tidak terpenuhi kecuali acquisition cost yang gratis. Itulah yang membuat kami terbahak menertawakan keluguan ketika itu. Gimana mau sukses? Lha wong, syarat yang terpenuhi hanya satu.

Ketika memaparkan topik studi kelayakan pendirian toko, kami juga merasa tersentil dengan sikap kami yang selalu berpikir: pokoknya action dulu, hasilnya gimana nanti aja.

Itu bagus. Sangat action oriented. Sangat nekad. Sangat “otak kanan”. Tapi, menurut Pak Guswai yang baru meluncurkan buku berjudul Basic Principles of Retail Business ini, penggunaan otak kanan jangan sembrono begitu, harus terukur sehingga sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Ketika kita mulai membuka toko, rata-rata nggak ada yang berani menetapkan berapa target omzet dan profitnya. Padahal itu adalah basic dari semuanya.

Jika kita punya hitungan biaya tetap dan variabel yang jelas, tentunya dengan mudah kita bisa menentukan berapa omzet dan keuntungan yang ideal untuk dikejar. Hitungan awal ini juga berguna untuk exit strategy ketika menemukan masalah di perjalanan.

Hmmmm…. good point.

Tidak salah kita mendatangkan pakar yang terbilang langka di Indonesia ini. Saya berani mengatakan demikian karena saya tidak tahu pakar ritel lain di Indonesia yang pemikirannya bisa diakses oleh publik dengan mudah. Kalau tidak percaya, coba saya tantang anda menyebutkan 5 orang saja pakar ritel di Indonesia. Sulit bukan?

Industri ritel adalah industri yang dimasuki oleh mayoritas pengusaha skala kecil dan menengah di Indonesia. Jumlahnya mungkin puluhan juta. Tapi itu berbanding terbalik dengan tersedianya sumber-sumber informasi dan pengetahuan mengenainya. Ironis sekali ya?

Acara yang dilangsungkan Sabtu, 14 November lalu boleh saya katakan adalah salah satu workshop terbaik yang diadakan oleh TDA. Pesertanya membludak, datang tidak hanya dari Jabodetabek, melainkan juga dari Kediri, Bengkulu, Semarang, Surabaya, Bandung, bahkan Samarinda.

Meski pun masih dirasa kurang cukup, tapi Pak Guswai telah berhasil memilihkan topik-topik penting bagi para peserta seperti: bagaimana membuat studi kelayakan bisnis sederhana, bagaimana mencari dan memilih lokasi yang tepat, bagaimana strategi penetapan harga, bagaimana cara mengelola inventory, bagaimana mengelola SDM, bagaimana meningkatkan pelayanan.

Gaya penyampaian yang menarik dengan ilustrasi studi kasus riil di lapangan memancing banyak pertanyaan bertubi-tubi dari peserta. Bahkan sampai terjadi debat terbuka dengan peserta yang tidak sepaham dengan pendapatnya. Seru.

Yang saya sayangkan adalah, kenapa baru kali ini diadakan di TDA setelah hampir 4 tahun usianya? Kenapa tidak dari dulu-dulu, sebelum teman-teman banyak yang tumbang dan berdarah-darah karena kurang ilmu dan informasi. Tapi it’s okey. Better late dan never.

Sebuah fenomena menarik saat workshop adalah begitu kompak dan pedulinya para pengurus TDA untuk meng-update Twitter mereka untuk menginformasikan poin-poin penting workshop agar dibaca oleh para followernya. Pak Iim, Hertanto, Try Atmojo secara simultan menginformasikan apa yang mereka pelajari agar bisa diikuti oleh member yang tidak berkesempatan mengikuti kegiatan yang bergizi tinggi ini.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

NB: Nantikan event, seminar dan workshop dahsyat berikutnya di TDA. Yang akan hadir di antaranya adalah: Ustad Yusuf Mansur, Naomi Susan, dll

Iklan
Standar

3 thoughts on “Menelanjangi dan Menertawakan Diri Sendiri di Workshop Ritel TDA

  1. Alhamdulillah, hal luar biasa yang bisa diakomodasi oleh TDA EO. cukup disayangkan sebuah pembelajaran, yg pendokumentasiannya hanya ‘share’ via twitter dan Facebook, mungkin juga via blog, tetapi terkesan penafsiran ‘subyektif’. tapi itu semua its OK, daripada tidak benar2 di share. tapi bila kemudian di dokumentasikan secara live dan di compact dalam disc jauh lebih ‘baik’. tapi kembali lagi kepada TDA EO untuk mengemasnya. <<< hanya pemikiran subyektif. salam sukses Pak!

    Suka

    • Ya, itulah yang maksimal bisa dilakukan saat ini. Kalau didokumentasi full tentu terkait dengan ijin dari narasumber. Sebaiknya memang ikut langsung

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s