Life

Mengajari Vito Shalat dan Berbagi

Kemarin, saya pulang shalat berjamaah di musholla dengan rasa hati yang tidak enak. Pasalnya, salah seorang jamaah dengan muka kurang senang mengambil payungnya dari tangan saya setelah dilempar ke bawah tangga oleh Vito. Musholla kami memang berada di lantai 2 sebuah gedung sekolah yang letaknya tepat di depan rumah kami.

Ini adalah kali kedua rasa tidak enak saya akibat kelakuan Vito yang baru berusia 2 tahun ini. Minggu lalu, ia menginjak kacamata salah seorang jamaah sampai lepas dari frame-nya. Untung jamaah yang ini cukup ramah dan menanggapi kelakuan Vito ini dengan pengertian. Sekarang setiap shalat ia selalu memakai kacamata :).

Itu adalah 2 kejadian besar yang membuat saya cukup “terpukul” oleh rasa tidak enak. Selain itu Vito juga sering lalu lalang di depan jamaah, menarik-narik sarung jamaah, membuka-tutup jendela musholla dengan cara membanting, mengintip imam yang sedang memimpin shalat dan sebagainya.

Tapi saya terus bertekad mengajaknya shalat sebagai bentuk pengenalan beribadah sejak dini. Saya hanya mengajaknya saja, tanpa memberitahukan apa itu shalat. Sekarang setiap adzan berkumandang, ia buru-buru mengambilkan kain sarung dan menarik tangan saya untuk segera berangkat ke musholla. Dalam beberapa kesempatan terakhir, ia sudah mau duduk tenang di samping saya dan mengikuti gerakan-gerakan shalat, tanpa saya suruh.

Satu hal lagi yang saya ajari adalah soal memberi sedekah. Suatu hari saya mengajaknya jalan-jalan ke Pasar Kebayoran Lama yang letaknya tak jauh dari kantor Manet. Kepadanya saya berikan uang seribuan untuk diberikan kepada pengemis. Ada beberapa pengemis yang menerima sedekah Vito ketika itu.

Kemarin istri saya bercerita mengenai Vito yang tiba-tiba meminta uang saat diajak ke warung di sebelah rumah. Mamanya heran kenapa ia meminta uang. Rupanya ia melihat pengemis dan ingin memberinya uang. Beberapa hari lalu ia saya ajak shalat di musholla Senayan City. Saat akan keluar, tiba-tiba ia meminta uang untuk dimasukkan ke kotak infaq. Subhanallah.

Vito mengenal semua itu hanya dari contoh saja. Kami tidak mengajarinya banyak secara verbal. Luar biasa, anak itu ibarat spons, menyerap apa yang didapatnya dengan cepat dan terus mengulangi contoh apa yang dilihatnya.

Menurut saya, cara mendidik yang paling tepat dan efektif adalah dengan mencontohkan, bukan dengan berkata-kata (atau kurangi berkata-kata).

Saya tidak akan mengajarinya apa-apa yang tidak saya praktekkan sendiri. Ini memang berat. Misalnya saya tidak akan mengajarinya shalat kalau saya sendiri tidak shalat. Saya tidak akan mengajarinya kejujuran kalau saya sendiri tidak jujur dan seterusnya. Dibandingkan yang dikatakan, tentu mengajari dengan memberi contoh akan lebih sedikit yang ia pelajari. Tapi menurut saya lebih baik sedikit tapi efektif dan melekat.

Teringat buku Made To Stick, sebuah ide akan melekat di benak responden kalau disampaikan dengan cara yang menarik, sederhana dan diulang-ulang. Dan satu lagi, jangan banyak-banyak. Ketika anda ingin menyampaikan 3 hal, artinya anda tidak menyampaikan apa pun, demikian kutipan buku itu yang saya ingat. Lebih baik menyampaikan 1 hal tapi diulang-ulang dan melekat di benak responden.

Saya sendiri masih belajar banyak untuk menjadi orang tua. Dibandingkan teman-teman, kami termasuk terlambat dikarunai buah hati. Vito hadir di tahun ke tujuh pernikahan kami setelah proses yang cukup panjang dan melelahkan. Kami masih junior dan perlu belajar banyak di bidang mendidik anak. Tapi, satu point menarik dari keterlambatan kami adalah, kami bisa belajar dari teman-teman yang lebih dulu senior dalam mendidik anak. Saya menikmati sekali diskusi teman-teman mengenai mencari sekolah yang terbaik baik putra-putri mereka. Saya tinggal menyimpulkan dan mengikuti “best practises” dari mereka.

Saya berkesimpulan bahwa tantangan dalam mendidik anak di era serba digital ini cukup berat. Kita sebagai orang tua harus pintar menyikapinya. Itu semua harus di mulai dengan memprioritaskan, first thing first. Apa sih yang paling penting buat anak kita? Menurut saya adalah kasih sayang dan membangun karakter.

Bagaimana menurut anda?

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB: Baca juga tulisan di blog ini setahun yang lalu: Income dalam Dollar, Pengeluaran dalam Rupiah. Menarik Bukan?

Iklan
Standar

19 thoughts on “Mengajari Vito Shalat dan Berbagi

  1. Apa itu shalat & apa esensinya bagus juga diberitahu sejak dini, itu pun iA akan melekat bang 🙂 bgmn kl semua jamaah tnyata punya anak kecil & semua mengajaknya ke masjid, susah khusuknya y 🙂

    Suka

    • Ya, pelan-pelan. Tapi saya ingin tanamkan habit dulu. Soal jamaah, itu dilematis juga, tapi skrg Vito sdh mulai tertib, mau duduk dan mengikuti gerakan. Semua ada prosesnya

      Suka

  2. Ada sesuatu dibalik ‘pembiaran’ Rasulullah saat cucunya Hasan dan Husein naik dipunggung Rasulullah saat beliau mengimami shalat berjamaah. hal ini membuat bingung para sahabat/jamaah shalat karena sujud rasulullah cukup lama. setelah ditanyakan, RAsulullah menjawab sembari tersenyum: ‘ketika aku sujud hasan-husein naik dipunggungku’. Saya yakin sahabat2 lebih tahu maksud dr peristiwa ini..

    Suka

  3. Pengalaman saya mengenalkan anak sholat sejak umur 1 tahun ketika sudah bisa duduk atau merangkak. Saya ajak sholat berjamaah di rumah dengan ibunya. Alhamdulillah setalah umur 1,5 ketika sudah bisa berdiri/jalan sudah bisa mengikuti gerakan2 sholat, seperti gerakan dan ucapan takbir, sujud, duduk diantara dua sujud walaupun tidak sempurna minus rukuk karena gerakan ini perlu keseimbangan yg lebih ;)). Alhamdulillah setelah umur 2 tahun sudah bisa meniru semua gerakan sholat plus doanya walaupun cuma komat-kamit;)).

    hiks… panjang juga ya sharing pengalamannya, bisa jadi postingan nih 😀

    Suka

  4. Wah very inspire mas, kebetulan saya juga punya putri 2 thn yang saat ini sedang saya kasih suggesti terus perihal hal sholat ini memang peran orang tua sangat penting untuk membangun karakter anak jika tidak lingkungan yang akan mengambil alih sesuai aktifis anak favorit saya ayah edy ( ayahkita.blogspot.com )

    Suka

    • Ya, sebaiknya kita conditioning aja dengan menciptakan lingkungan yang kita mau. Soal pentingnya karakter itu saya juga dapat dari mendengar Ayah Edy

      Suka

      • Taufiq berkata:

        Saya juga termasuk yang sering mendengarkan talk show Ayah Edy di radio dan membaca buku-buku beliau, bolehlah sesekali pak Roni mengundang beliau di acara TDA Parenting 🙂

        Suka

  5. Anak saya br berumur 6 bulan tetapi saya dan ortu saya setiap hr sering mendengarkannya lantunan ayat Al Quran dan Adzan.
    saya ingat ketika saya dan adik saya beranjak remaja, agar anak kita nantinya tidak bnyak terpengaruh dengan hal2 negative. bisa sprti ortu saya mengajarkan kami. benar kata pak Roni dengan contoh drpd omongan.
    setiap hr kami pagi sekolah SD biasa, siang madrasah, malam mengaji sampai kami SMA. dan hasilnya lumayan kami bnyk tau dan trs blajar soal agama smp skr. ortu saya aja msh sring belajar : ).

    Suka

  6. Tapi ada juga pendapat yang berpendapat memberi pelajaran shalat yaitu ketika umur 7 tahun, asalnya dari anjuran untuk memukul anak yang sudah berumur 7 tahun tapi belum shalat.

    Suka

  7. alyassar berkata:

    “Character building” dan selekstif memperkenalkan lingkungan bagi si Anak, dengan memberikan gambaran baik dan buruk mengenai lingkungan tersebut. Semoga Alloh memudahkan usaha anda sekeluarga, Amin…

    Suka

  8. putri saya 3 th klo saya sholat gak jauh beda dg Vitonya bang roni,sekarang lagi belajar iqro ngikut kakaknya yang dah SD tanpa disuruh.seperti yang d katakan bang Roni anak hanya mengulang contoh yang dilihatnya,mudah2an sampai dewasa dewasa ya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s