Life, Renungan

Belajar Berkata Tidak

Sebagai konsekuensi dari segala aktivitas saya ini (menulis blog, membangun bisnis dan komunitas), ajakan dan tawaran apa pun datang silih berganti.

Mulai dari wawancara, undangan-undangan, kerja sama dari berbagai pihak, minta waktu ingin ketemu untuk curhat, tawaran investasi, permintaan jadi pembicara, meeting-meeting, endorsement buku. Wah pokoknya sibuk seperti lurah atau camat deh.

Nyatanya, tidak semuanya bisa saya layani dengan baik. Bahkan karena kealpaan saya, beberapa janji sempat terlupa dan berakibat mengecewakan pihak lain.

Kepada istri, saya sudah memberikan pemahaman bahwa waktu saya saat ini sudah bukan lagi untuk keluarga dan bisnis saja, tapi juga untuk “orang banyak”.

Sejatinya, saya ini adalah seorang introvert yang suka mengurung diri di kamar, membaca dan merenung. Saya bukan orang yang suka tampil di depan umum dengan segala kehebohan dan pesonanya. Dalam keramaian, saya suka berpikir untuk menarik diri ke sebuah sudut untuk menikmati kesendirian dengan membaca atau berpikir. Itulah saya yang sebenarnya. Saya lebih suka duduk di belakang atau jadi sutradara di belakang layar saja.

Beberapa waktu lalu saya berusaha keras menolak permintaan berbicara di sebuah seminar dengan alasan bahwa saya sebenarnya bukan pembicara. Silakan pilih yang lain selain saya. Tapi argumen saya akhirnya “takluk” juga karena iklannya sudah siap terbit. Kasihan juga panitia nantinya.

Hidup ini memang konsekuensi dari pilihan-pilihan dan tindakan yang telah kita buat. Saya mengakui itu bahwa semua yang terjadi adalah konsekuensi logis dari keputusan saya yang tanpa sengaja mulai tampil ke publik, sejak menulis blog ini akhir 2005.

Menyesal? Jelas tidak. Saya malah mensyukurinya.

Cuma saat ini saya hanya ingin mereposisi diri kembali sebagai “orang di belakang layar” saja. Saya akan mengurangi tampil di publik karena saya yakin banyak teman-teman yang siap menggantikan saya. Saya lebih suka menyiapkan “pasukan” sebanyak mungkin, menciptakan leader-leader baru yang kelak akan menggebrak “dunia persilatan” di Indonesia.

Tahun ini saya akan mulai belajar untuk berkata “tidak” untuk komitmen-komitmen yang sulit saya penuhi. Banyak pekerjaan di belakang layar yang selama ini terbengkalai dan harus saya selesaikan.

Kok tulisan ini jadi curhat ya?

Salam FUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Follow me on Twitter: @roniyuzirman

Iklan
Standar

6 thoughts on “Belajar Berkata Tidak

  1. Ah! Siapa bilang dibelakang layar itu enak? Kalau saya dibelakang layar (monitor), mana bisa baca blognya Pak Roni yang inspiratif ini !

    Maaf kalau nggak lucu!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s