Business, Mindset

Jika Tak Sanggup Taklukkan Pasar, Buatlah Pasar Tandingan

Di tengah-tengah kesibukan saya mengawasi sesi pemotretan koleksi Manet edisi terbaru, tiba-tiba HP berbunyi. Tertera nama H. Nuzli Arismal atau yang dikenal H. Alay, inspirator dan sesepuh Komunitas TDA.

Pasti ada sesuatu yang penting, batin saya.

“Bagaimana bisnis Roni sekarang?”, tanya beliau membuka pembicaraan.

“Alhamdulillah, ada peningkatan”, jawab saya.

“Bagaimana dengan kondisi di Tanah Abang, Da?” saya bertanya balik.

“Di Tanah Abang biasa saja. Tapi Uda sekarang lagi sibuk di bisnis properti”, jawabnya.

Beliau menjelaskan saat ini telah membangun lebih dari 300 kios di sekitar Tanah Abang yang disewa-sewakan kepada para pedagang dengan harga murah. Animonya bagus sekali. Sekarang beliau akan membangun gedung untuk membuat 5.000 kios. Wow…

Kenapa kios-kios itu begitu sukses?

Karena harganya murah. Sewanya cuma Rp. 35 jutaan setahun. Bandingkan dengan harga sewa di Blok A atau Blok B yang segera launching. Bisa ratusan juta rupiah per tahun.

Saat menghadiri seminar HIPMI minggu lalu yang membahas strategi menghadapi CAFTA, seorang pedagang dari Tanah Abang mengungkapkan bahwa harga kios di Blok A dan B mencapai Rp. 150 sampai 500 juta per meter persegi. “Bagaimana kami bisa bersaing dengan produk dari China kalau semua modal kami tersedot habis hanya untuk membeli atau menyewa kios?”, keluhnya.

Proyek revitalisasi pasar yang sedang digembar-gemborkan di mana-mana itu sebenarnya adalah bentuk penyingkiran para pedagang lama yang modalnya pas-pasan. Para korban kebakaran Tanah Abang beberapa tahun lalu sekarang nasibnya makin terjepit. Selain tokonya hilang, mereka harus menebus kembali toko yang baru dibangun dengah harga gila-gilaan. Sudah jatuh tertimpa tangga, seperti inilah kondisinya.

Tak sedikit di antara mereka yang saat ini sakit, stress, stroke bahkan meninggal dunia memikirkan beban ini. Termasuk salah satu keluarga saya, saat ini terkena stroke lantaran memikirkan 5 kiosnya yang hilang. Bayangkan, untuk mereka yang memiliki lebih dari 1 kios, berlaku harga progresif. Harga toko kedua lebih mahal dari toko pertama dan begitu seterusnya. Gimana nggak stress?

Inilah bentuk ekonomi kapitalis yang jahat tanpa belas kasihan kepada yang lemah.

Kondisi seperti ini terjadi merata hampir di seluruh Indonesia. Hampir semua pedagang lama akhirnya terlempar ke luar pasar karena alasan revitalisasi pasar seperti ini.

Pak Haji Alay, tidak larut dengan kondisi ini. Ia tidak sanggup melawan kekuatan kapitalis itu. Ia melakukan perlawanan dengan caranya sendiri, menciptakan pasar tandingan yang harganya terjangkau untuk sebagian besar pedagang. Dengan harga kios yang murah, biasa operasional pun dapat ditekan sehingga harga jual produk mereka pun jadi lebih kompetitif dibandingkan pedagang yang berjualan di kios yang mahal.

Saya menyambut positif sekali apa yang dilakukan Pak Haji ini. Saya yakin ini adalah bentuk perlawanan yang riil terhadap ketidakadilan dan kapitalis yang tak mengenal belas kasihan kepada yang lemah. Saya mendapat kabar di daerah Lampung juga telah dimulai gerakan seperti ini. Para pedagang pasar yang disingkirkan kemudian menjadi developer pasar dengan mengumpulkan modal bersama yang kemudian dijual kepada sesama mereka sendiri dengan harga terjangkau.

Saya dukung perjuangan Pak Haji Alay dan para pedagang yang dilemahkan ini. Jika tidak sanggup masuk ke pasar itu, buatlah pasar tandingan.

Salam FUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Follow me on Twitter: @roniyuzirman

Iklan
Standar

10 thoughts on “Jika Tak Sanggup Taklukkan Pasar, Buatlah Pasar Tandingan

  1. Eva Rosida berkata:

    Wah, menarik tuh bung Roni yang dilakukan P Haji.. kios murah di Tanah Abang
    saya jadi interest untuk menggunakan jasa kiosnya, saat ini sedang berpikir untuk bisnis pakaian jadi cuman belum ada gambaran mau buka dimana
    Saya mau banget dikenalkan sama P Haji Alay.. Terima kasih, semoga komunitas TDA terus berjaya

    Suka

  2. Ide yang bermisi mulia, sederhana tapi high-impact. Mungkin memerlukan modal yang besar. Tapi bisa kita tiru dengan modal yang rendah, asal ada kemauan dan action tentunya. Mungkin kita bisa buat Sentra Dagang Online (SDO) terlebih dahulu. Konsepnya seperti supermarket yang berisi outlet2/toko2 online milik TDA’ers. Dengan adanya SDO online ini memberikan nilai tambah untuk konsumen yakni pilihan yang lebih banyak. Dan akhirnya dengan banyaknya konsumen yang akses, akan meningkatkan penjualan outlet2 tadi. Saya pikir masih banyak Win-Win lainnya baik untuk konsumen maupun pedagangnya.
    Semoga bermanfaat…

    Suka

  3. ira berkata:

    Semoga Allah merahmati dan melindungi usaha pak haji dan beliau terus berjuang dan waspada membela yang lemah karena setan kapitalis juga akan terus merengsek ke semua usaha kebaikan yang diusahakan ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s