Books and Learning, Business

Demam Blackberry, Crocs dan The Purple Cow

Beberapa hari lalu seorang Twitterer menulis statusnya yang keheranan melihat begitu ramainya pembeli Blackberry di Mal Ambassador. “Orang antri beli seperti beli kacang goreng”, tulisnya. Padahal saya tidak pernah melihat orang beli kacang goreng sampai antri begitu.

Satu lagi, fenomena sandal buaya alias Crocs juga sedang melanda ibukota. Di koran terpampang antrian panjang pengantri yang ingin membeli sandal ringan dengan warna warni lucu itu. Di Twitter juga terjadi conversation hangat mengenai brand ini. Bahkan di salah satu grup Blackberry Messenger yang saya ikuti juga memperbincangkannya. Heboh…

Saya pun termasuk korban dari kedua brand tersebut. Blackberry akhirnya “terpaksa” saya beli karena desakan pergaulan dan di mana-mana saya menyaksikan orang menggunakannya. Saya menjadi “suku minoritas” ketika meeting semeja dan hanya saya yang masih menggunakan HP non-Blackberry. Setiap bertemu teman saya sering ditanya, “Nomor PIN-nya berapa?”. Hmm…maka jebollah “pertahanan” saya, meskipun saya akui secara teknologi dan fungsionalitas, gadget ini sangat berdaya guna.

Demikian juga dengan sandal Crocs ini. Terus terang, memang enak dipakai, meskipun harganya terbilang mahal, bahkan over priced menurut saya. Entah mengapa harganya di Indonesia begitu mahal, padahal, menurut seorang teman harganya di Amerika cuma 10 dollar saja.

Pertanyaannya, kenapa konsumen Indonesia begitu kepincut dengan kedua produk ini? Padahal, iklannya terbilang minim sekali bahkan untuk Blackberry hampir tidak ada, kecuali yang dilakukan operator.

Kebetulan saat ini saya sedang membaca buku fenomenal karya Seth Godin, The Purple Cow. Buku tipis bersampul ungu ini menjelaskan dengan gamblang kenapa sebuah brand begitu cepat menjalar bagaikan virus.

Ia mencontohkan ketika kita melewati area peternakan sapi. Anda tahu sapi kan? Warnanya pasti putih dan hitam.

Bayangkan seandainya seharian anda melewati kawanan sapi itu. Pasti membosankan melihat warna yang monoton itu. Anda pasti kesulitan ketika diminta menyebutkan perbedaan di antara mereka.

Tiba-tiba nyelonong seekor sapi berwarna lain dari yang lain. Warnanya ungu. Mata anda pasti langsung tertuju ke sapi yang lain sendiri ini.

Ketika sampai di rumah, pasti anda hanya teringat sapi berwarna ungu ini.

Nah, produk kita, brand kita hendaklah bisa dibedakan dengan jelas seperti sapi unggu atau Purple Cow ini.

Kenapa produk purple cow ini bisa begitu sukses di pasaran dengan sedikit atau tanpa biaya marketing? Jelas, karena ia memang berbeda dari yang lain. Selain itu?

Menurut Godin, keunikan dan keunggulan produk-produk Purple Cow ini telah membuatnya terjual dengan sendirinya. Mereka menciptakan kategori baru dalam industrinya. Blackberrry menciptakan kategori sendiri dalam industri smart phone dengan keunggulan teknologi push dan pull emailnya itu. Crocs juga demikian, meskipun menurut sebagian orang (termasuk saya) sebenarnya produk ini terbilang jelek penampilannya. Demikian juga dengan produk-produk keluaran Apple seperti iPod, iPhone dan yang sedang dinanti, iPad.

Seorang tukang roti tawar di Perancis bertekad untuk membuat roti dengan kualitas terbaik di dunia. Lebih dari 8.000 tukang roti diwawancarainya untuk mencari celah di mana kelemahan roti yang telah ada di pasar saat ini. Akhirnya ia menemukan celah itu dan melakukan riset dan membaca ribuan buku cara membuat roti yang lebih baik.

Menurut kaca mata awam, yang dikerjakannya itu termasuk kriteria “orang kurang kerjaan”. Ia menolak menggunakan pemanggang yang biasa digunakan dan menggantinya dengan kayu bakar. Bahan bakunya pun digantinya dengan tepung organik. Ia juga memensiunkan para tukang roti berpengalaman dan mengganti dengan pekerja yang masih baru dan belum berpengalaman.

Awalnya, banyak toko roti dan restoran yang menolak menjual roti kreasinya itu. Belakangan, hampir semua restoran mahal di Paris menggunakan rotinya. Tokonya yang kecil itu ramai diantri orang hanya untuk membeli seloyang roti tawar saja.

Salah satu kriteria produk atau brand Purple Cow adalah, keunggulan dan keunikannya yang tidak dimiliki oleh produk sejenis di industrinya. Ia menciptakan “blue ocean-nya” sendiri.

Penulis buku-buku marketing terlaris dan blogger aktif ini pun menganjurkan untuk mengganti aturan lama dalam pemasaran, yaitu: menciptakan produk biasa yang aman dan gabungkan produk itu dengan pemasaran yang tepat dengan aturan baru, yaitu: ciptakan produk luar biasa yang dicari oleh orang yang tepat. Blackberry dan Crocs telah mempraktekkan aturan baru itu.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Follow me on Twitter: @roniyuzirman

Iklan
Standar

11 thoughts on “Demam Blackberry, Crocs dan The Purple Cow

  1. wew…inspiratif…
    Saya malah kebalikan dari Anda pak. Saya tidak mau mengikuti yang trend karena terkesan pasaran. tapi bukankah keragaman itu tercipta dai perbedaan 🙂

    Suka

  2. luar biasa tulisan Pak Roni ini. lugas: singkat. padat dan berisi, mengingatkan saya pada teori black hole 🙂 – jauh ya…. intinya, sangat menginspirasi

    satu hal yg menarik ttg fenomena BB di negri ini, yg konon terbesar di dunia. sebagian menjadi kebutuhan, lainnya hanya sekedar gengsi & latah aja – seperti kata KOMPAS: lha wong email account ‘aja nggak punya, kok. :-O

    saya sendiri mengenal dekat BB terlambat ketimbang tahu fasilitas google apps yg support push-mail pun untuk domain sendiri.
    BB unggul dengan teknologi kompresi, yg mungkin saat itu menjadi mutlak diperlukan utk akses data yg gede secara mobile.
    namun dengan bandwidth sekarang sudah tembus 3G, 3.5G bahkan sudah terinstal 3.75G yg mampu membawa data dalam besaran 20+MB/s, kok rasanya gak (baca: kurang) relevan lagi menggunakan kompresi tadi. smart phone sudah cukup.
    mungkin itu alasan saya sehingga belum jebol pertahanannya :p
    (baca juga: belum rela melepas 200rb/bln :D)

    lalu mengenai PIN? mungkin sy akan jawab dengan memberi PIN yang pake peniti untuk ditempel di baju 😀 [joke mode ON]

    …meski penasaran juga dengan komunitas/network antar pengguna PIN-BB tersebut. mungkin ininya yg pantas dibayar mahal.

    oops panjang & OOT neh koment :p
    salam dari NGalam
    AnDroid dreamer

    Suka

    • Untuk teknologi/gadget saya cenderung sebagai late adopter Pak. Saya tunggu dulu apakah ini benar-benar akan jadi kebutuhan saya, dan apakah harganya cocok juga dengan kantong saya :). Android, iPad, termasuk teknologi yg jg sedang saya tunggu 🙂

      Suka

  3. wah orang Indonesia memang sudah terlalu lama dijajah Belanda ya Pak. Mentalnya masih inlander, apa2 yang dipake bule pasti dianggap bagus. Demi blackberry dan sandal crocs mereka mau ngantri lama padahal saudara mereka yang pemulung ditimpa plengsengan yang roboh….sungguh ironis ya pak.

    Suka

  4. Thx Sharingnya Pak,
    Terutama di Indonesia ini, ada 2 tipe customer yang bisa dibidik. Satu memang yang benar2 butuh dengan produk tsb, dan satu lagi yang…memang beli gensi (dan ini kategori yang jauh lebih banyak). Tetangga sy juga ada yg beli BB tapi belum punya email, pengen ngakak rasanya Pak…oalahh…
    Tapi Bagi para entrepreneur; ini tentu peluang yang sangat menggiurkan untuk menciptakan produk seperti itu.
    Btw, dari bahasan Pak Roni sy lebih tertarik ke bukunya, Purple Cow….segera akan saya cari dan beli…:)

    salam,
    abay

    Suka

  5. abuzhavar berkata:

    masalahnya, layanan yang dilakukan blackberry (chat, push mail), juga bisa dilakukan smartphone lain. bahkan semua fasilitas blackberry bisa didapat dari smartphone lain, dan bahkan banyak smartphone merk lain yang menawarkan fasilitas lebih. perbedaan satu-satunya adalah smartphone lain tidak bisa blackberry messenger. Namun tentu smartphone lain juga bisa yahoo messenger, gtalk, dst. malah lebih praktis yang ini, setiap berganti perangkat, tidak perlu ganti id (bb messenger harus ganti PIN: berarti kembali “mengumumkan” PIN baru pemiliknya). Selain itu untuk menghemat baterai selagi di kantor/di depan komputer malah bisa dimatikan dulu selagi online lewat komputer.

    Dengan demikian layanan blackberry tidak lah unik. Di Indonesia word of mouth dan mitos lebih berperan. Mau produk anda laku? saya rasa buatlah mitos, dan pastikan menyebar dari mulut ke mulut. Mitos dalam kasus ini adalah: hanya blackberry yang dapat melakukan itu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s