Life

Pengalaman Sehari Latihan Menjaga Hati Bersama emWave

Rasa penasaran yang tinggi membuat saya segera membeli alat pengukur kondisi hati dan pikiran ini kemarin.

Saya pun segera mencobanya.

Ini beberapa temuan yang saya rasakan. Meskipun pengalaman sehari belumlah komprehensif.

Sebagaimana saya ceritakan sebelumnya, alat ini akan “melaporkan” secara real time kondisi hati dan pikiran kita.

Begitu hati dan pikiran tidak sinkron, lampu indikatornya langsung berwarna merah. Misalnya, ketika kita memikirkan banyak hal dalam waktu bersamaan. Istilah sainsnya, otak kita dalam kondisi Beta.

Ketika pikiran terfokus dan hati saya  tenang, rileks dan damai, lampu indikator langsung menjadi hijau. Kondisi hijau inilah yang menjadi target kita setiap saat, 24 jam sehari. Kondisi otak seperti ini disebut Alpha.

Alhamdulillah, saya dengan mudah masuk ke kondisi Alpha atau hijau dengan cukup mudah, meski pun sekali-sekali berwarna merah. Menurut Mas Nunu, ini karena otak saya sudah cukup terlatih. Ya, saya sudah melatih otak masuk ke kondisi Alpha sejak mengenal Mas Nunu tahun 2002 lalu.

Alat ini saya beli karena penasaran saja. Dengan demikian saya bisa mengetahui persis fluktuasi emosi dan pikiran saya.

Saya mengujinya saat menjelang dan setelah shalat. Kalau shalat kita benar, otomatis lampu akan berwarna hijau setelah melaksanakannya. Setelah berwudhu pun mestinya sudah hijau, karena air wudhu berfungsi sebagai pengantar masuk ke kondisi Alpha.

Saya mengujinya saat mengemudi. Saya ingin tahu, apakah kondisi lalu lintas mempengaruhi emosi saya. Ternyata tidak. Salah satu alat menangkalnya adalah musik yang membuat rileks. Kalau kita menyetel radio yang isinya berita-berita negatif, otomatis lampu jadi merah lagi.

Saat bermain dengan anak, indikator otomatis jadi hijau. Betul dugaan saya selama ini. Anak-anak adalah medium yang efektif untuk masuk dalam kondisi Alpha, kondisi playfull.

Saya pun mengetes alat emWave ini kepada beberapa teman. Hasilnya cukup mencengangkan. Beberapa di antara mereka sangat sulit mencapai kondisi hijau.

Ada satu teman mencoba alat ini sambil chatting di BlackBerry dan membuka Twitter. Ternyata BlackBerry membuat pikiran terpecah, memicu kita memikirkan banyak hal dalam waktu bersamaan. Otak yang berpikir multitasking sangat sulit masuk ke kondisi Alpha.

Seorang teman lain yang juga kesulitan masuk ke kondisi Alpha alias warnanya merah terus, saya bimbing untuk menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lewat hidung perlahan-lahan dan memfokuskan pikirannya dengan rileks ke satu hal saja. Hasilnya, warna hijau pun dapat diraihnya dengan mudah.

Menggunakan alat ini saya jadi teringat dengan ayat* yang mengatakan bahwa dia yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Betul. Dengan menjaga hati tetap tenang dan damai kita pun merasa selalu syukur.

Banyak buku, penulis dan motivator mengajarkan untuk menikmati kekinian (the power of now, being present) tapi tidak ada indikatornya. Inilah alat yang dibutuhkan untuk itu. Dengan melatih diri menggunakan alat ini, sepertinya kita tidak perlu lagi buku-buku petunjuk itu.

Demikian pengalaman saya sehari menggunakan alat ajaib ini. Apa yang saya sampaikan tentulah subyektif. Saya hanya menceritakan yang dirasakan saja.

Saya masih akan terus mengekplorasinya dalam rangka memperbaiki diri. Sebuah proses yang harus dilakukan tanpa henti.

NB: emWave adalah produk dari HeartMath (USA). Di Indonesia sudah tersedia di http://www.greenheartasia.com

*mohon koreksi bila saya salah

Iklan
Standar

12 thoughts on “Pengalaman Sehari Latihan Menjaga Hati Bersama emWave

  1. kalimat “dia yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya” terbalik pak.

    Siapa yang mengenal Tuhan-nya, akan mengenal dirinya, karena dia akan tahu untuk apa Tuhan menciptakan dirinya, dan konsekuensinya setelah itu. Kalo udah tau dia diciptakan (Allah) untuk beribadah, maka insya Allah akan membuat tenang kehidupan. Kalau dia tahu bahwa Allah maha penyayang, maha bijaksana dan semua yang Allah takdirkan itu ada hikmahaya, dengan keadilan dari Allah dan hikmah Allah (bukan kezaliman atau hukuman), maka dia juga akan tenang.

    Beda, kalo orang cuma kenal dirinya, dia belum tentu kenal Tuhan-nya. Malah mungkin akan ada kesombongan di sana. ^^

    Suka

  2. alhamdulillah, setelah saya cek di buku, “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia”,
    teksnya, “man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu”, “barangsiapa yang mengenal dirinya berarti mengenal Tuhannya.”

    Derajat: tidak ada asal-usulnya

    Saya nukilkan perkataan salah satu ulama yang mentakhrij (meneliti hadits itu shahih atau tidak),

    Syaikh Fairuz Abadi berkata, “Lafazh ini bukan hadits Rasulullah, meskipun kebanyakan manusia menjadikannya sebagai hadits Rasulullah.”

    Imam Nawawi (penulis Riyadush Shalihin), mengatakan, “Hadits ini tidak shahih.”

    Wallahu a’lam

    Suka

  3. Ass Pak…salam kenal, bagaimana caranya agar hati hijau terus Pak…mungkin ada tipsnya.

    Saya juga pakai emwave, dan ganti2 terus tiap saat : merah, biru, hijau

    Terima Kasih
    Salam Ikhlas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s