Uncategorized

Belajar Mengalahkan Ketakutan dari Guru Kecilku

Pagi ini saya belajar satu hal dari Vito Ramadhan (2,5 tahun), putra sulung saya.

Minggu lalu dalam sebuah acara Mas Erbe Sentanu memanggil anaknya Prema ke atas panggung dan berkata bahwa “Prema adalah guru saya”.

Pagi ini saya membenarkan pernyataan itu. Saya juga belajar dari Vito.

Vito mengikuti field trip yang diadakan oleh sekolahnya ke Telaga Arwana, Cibubur. Di sana, ia dan teman-teman pre school-nya akan diajak menaiki kerbau dan bajak di sawah serta menangkap ikan di kolam.

Vito begitu takjub melihat mahluk kerbau yang baru dilihatnya secara langsung ini. Ketika ditawari untuk menaiki bajak ia pun menurut.

Hore! Teriak saya dalam hati. Vito berani menjadi pionir. Saya pun membanggakan Vito dengan meng-update status di Twitter.

Tak lama, saya pun kecewa. Vito ternyata takut ketika sudah berada di dekat kerbau. Ia menolak menaiki bajak.

Gurunya pun memaklumi dan mengajak anak yang lain untuk memulai. Satu per satu mereka pun menaiki kerbau dan bajak, meskipun banyak yang menangis.

Saya perhatikan dari jauh Vito terlihat berpikir keras menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya. Sebenarnya saya maklum dengan ketakutannya ini. Naik kuda pun ia takut.

Satu per satu temannya sudah menyelesaikan satu putaran berkeliling sawah. Vito makin terlihat galau di wajahnya. Ia seperti berpikir keras, mengumpulkan keberanian.

Akhirnya ia pun menjulurkan tangan mengajukan diri untuk terlibat. Saya tersentak kaget. Vito telah mengambil keputusan. Vito telah mengalahkan ketakutannya. Vito telah memenangkan peperangan dengan dirinya sendiri.

Namun, apa yang terjadi adalah di luar harapannya. Ia berharap akan naik bajak di belakang kerbau dipangku oleh gurunya. Karena sudah ada temannya yang lebih dulu dipangku, maka ia pun diangkat ke atas punggung kerbau.

Ia menjerit ketakutan dan menolak. Tapi ia tak kuasa melawan. Kerbau sudah mulai berjalan perlahan. Akhirnya ia berhasil menguasai diri, mulai menikmati punggung kerbau. Mungkin ia berpikir, ketakutannya tidak terbukti. Ternyata duduk di punggung kerbau itu biasa-biasa saja.

Vito telah mengalahkan ketakutannya. Ia belajar dari teman-temannya. Banyak yang menangis, banyak juga yang tidak. Yang menangis menularkan ketakutan. Yang tidak, menularkan keberanian. Ia memilih untuk berani. Toh yang menangis pun tidak terjadi apa-apa.

Itu yang saya pelajari dari Vito, guru kecil saya hari ini. Dalam hidup orang dewasa, kita pun sering berada dalam posisi Vito, ketakutan. Ketakutan yang sebenarnya tak beralasan. Apalagi jika kita berada di lingkungan yang juga penakut. Makin yakinlah kita untuk membenarkan ketakutan itu.

Ternyata, di lingkungan yang lain, orang-orang justru bermain-main dengan ketakutan itu. Mereka melawannya dan bahkan menanggapnya tidak ada.

Iklan
Standar

6 thoughts on “Belajar Mengalahkan Ketakutan dari Guru Kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s